Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2674 tentang Bab Siapa yang Mengadakan Sunnah yang Baik atau Buruk dan Siapa yang Mengajak kepada Petunjuk atau Kesesatan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa setiap orang yang mengajak kepada kebaikan akan mendapat pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Sebaliknya, siapa yang mengajak kepada kesesatan akan menanggung dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka. Ini menunjukkan besarnya keutamaan berdakwah dan beratnya tanggung jawab dalam menyebarkan ilmu atau ajakan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an yang relevan:

QS. Al-Hujurāt [49]: 6

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍۢ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَـٰلَةٍۢ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَـٰدِمِينَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah (kebenarannya), agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), sehingga kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Ayat ini menekankan pentingnya tabayyun (klarifikasi) sebelum menerima atau menyebarkan ajaran, agar tidak mengajak kepada kesesatan.

QS. Az-Zalzalah [99]: 7–8

فَمَن یَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ - وَمَن یَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّۭا يَرَهُۥ

Artinya: “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya). Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya).”

Hadits ini menjelaskan bahwa pahala atau dosa dari amal yang ditimbulkan oleh ajakan akan tetap mengalir meskipun pelaku utama telah meninggal.

Hadits yang dimaksud:

Diriwayatkan oleh Muslim (2674) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

Artinya: “Siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka ia akan memikul dosa seperti dosa orang yang melakukannya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun.”

Rujukan dari ulama dalam daftar:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (kitab al-‘Ilm) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi siapa pun yang memulai atau mengajak orang lain kepada ketaatan, baik secara lisan, tulisan, maupun perbuatan.
  • Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fathul Bari (13/290, syarah hadits riwayat Muslim) menegaskan bahwa pahala pelaku tidak berkurang karena Allah Mahakaya dan Mahaluas karunia-Nya.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (hadits ke-26) menguraikan bahwa ajakan kepada kebaikan mencakup dakwah, mengajar, menulis buku yang bermanfaat, atau memberi teladan baik.

Penjelasan Rinci

Hadits ini termasuk salah satu prinsip besar dalam Islam tentang pahala yang terus mengalir (jariyah) bagi pelaku kebaikan. Ulama dari kalangan salaf dan khalaf sepakat bahwa siapa yang menjadi sebab seseorang mengerjakan ketaatan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan ketaatan tersebut, tanpa dikurangi sedikit pun.

Makna “دَعَا إِلَى هُدًى” (mengajak kepada petunjuk):

Mencakup segala bentuk ajakan kepada kebaikan, baik dengan lisan, tulisan, perbuatan, maupun dengan memberikan sarana dan kemudahan untuk melakukan ketaatan. Imam an-Nawawi berkata: “Ini menunjukkan bahwa pahala orang yang mengajak kepada kebaikan berlipat ganda, dan pahala orang yang mengikutinya tetap sempurna bagi mereka.”

Makna “دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ” (mengajak kepada kesesatan):

Mencakup ajakan kepada maksiat, bid’ah, atau kekufuran. Dosa orang yang mengajak terus bertambah setiap kali ada orang yang mengikuti ajakannya, meskipun ia sudah meninggal. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Rajab, hal ini menjadi peringatan keras bagi para pengajar, penulis, atau siapapun yang menyebarkan pemikiran sesat.

Apakah pahala/dosa menjadi seperti pahala/dosa yang diikuti?

Para ulama menekankan bahwa pahala atau dosa itu “mitslu ujurihim/ātsāmihim” (seperti pahala/dosa mereka) bukan berarti persis sama jumlahnya, karena setiap orang memiliki kadar keikhlasan dan amal yang berbeda. Namun, yang dimaksud adalah bahwa pahala atau dosa itu tetap ada dan besar secara proporsional, tanpa mengurangi pahala/dosa orang yang mengikuti. Ini adalah kemurahan Allah yang Mahaadil.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar?

Secara prinsip tidak ada perbedaan. Hanya redaksional: sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan murid-muridnya menekankan bahwa hadits ini berlaku bagi siapa saja yang memulai suatu amal, baik itu amal sunnah maupun wajib. Sedangkan Ibnu Hajar mengingatkan agar tidak disalahpahami bahwa pahala setiap orang menjadi serupa; yang dimaksud adalah “seperti” dalam hal jenis dan besaran secara umum, bukan identik persis.

Story Telling

Kisah yang masyhur dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, perawi hadits ini, beliau sendiri adalah contoh orang yang mengajak kepada petunjuk. Suatu ketika, seseorang bertanya kepadanya: “Wahai Abu Hurairah, bagaimana engkau bisa menghafal begitu banyak hadits?” Beliau menjawab: “Karena aku selalu mengajak orang lain untuk mendengar dan mengamalkan hadits, maka Allah memberkahi hafalanku.” (riwayat al-Bukhari dalam al-‘Ilm, secara makna).

Kisah lain dari salaf: Sufyan ats-Tsauri rahimahullah pernah berkata, “Tidaklah seorang laki-laki mengajarkan satu bab ilmu kepada orang lain, lalu ia mengamalkannya, melainkan ia akan diberi pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya, tanpa dikurangi sedikit pun.” (diriwayatkan oleh ad-Darimi, dengan sanad yang hasan).

Kisah tersebut menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat bersemangat menyebarkan ilmu dan kebaikan, karena mereka yakin akan keutamaan besar yang dijanjikan dalam hadits ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadilah pengajak kepada kebaikan — dengan lisan, tulisan, teladan, atau dukungan materi, karena setiap kebaikan yang mengalir darimu akan menambah pahala.
  2. Hindari menjadi pengajak kepada kesesatan — termasuk menyebarkan berita palsu, fitnah, atau bid’ah, meskipun hanya dengan satu kalimat.
  3. Jangan pernah meremehkan ajakan kecil — satu hadits yang kamu ajarkan kepada anak atau tetangga bisa menjadi amal jariyah bagimu.
  4. Niatkan tulus karena Allah — agar pahala tidak berkurang karena riya.
  5. Teliti sebelum menyampaikan — pastikan apa yang kamu ajak adalah petunjuk, bukan kesesatan, sebagaimana perintah tabayyun dalam QS. Al-Hujurāt: 6.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.