Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang tanda dekatnya hari Kiamat, yaitu diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, dan banyaknya pembunuhan (al-harj). Ini adalah peringatan agar kita bersungguh-sungguh menuntut ilmu syar'i dan mengamalkannya sebelum pintu ilmu ditutup. Diangkatnya ilmu di sini bukan berarti ilmu itu hilang dari dunia secara total, tetapi yang dimaksud adalah wafatnya para ulama pewaris Nabi, sehingga manusia tidak memiliki rujukan dan jatuhlah mereka dalam kebodohan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Muslim:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Abu Wa'il (Syaqiq bin Salamah), ia berkata: "Aku sedang duduk bersama Abdullah (Ibnu Mas'ud) dan Abu Musa (Al-Asy'ari), keduanya berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya menjelang hari Kiamat akan ada hari-hari di mana ilmu diangkat, kebodohan turun, dan banyak terjadi al-harj—dan al-harj adalah pembunuhan." (HR. Muslim, no. 2672)
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Ayat ini menunjukkan kemuliaan ilmu dan para ulama. Jika Allah mengangkat derajat mereka di sisi-Nya, maka di akhir zaman Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan mereka.
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (16/222) menjelaskan bahwa makna "diangkatnya ilmu" adalah diwafatkannya para ulama, bukan ilmu itu dihilangkan dari dada-dada manusia secara langsung. Beliau menukil penjelasan ulama bahwa Allah tidak mencabut ilmu dari dada para ulama, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan mereka.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (1/194) menjelaskan bahwa yang dimaksud "ilmu yang diangkat" adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu syar'i yang diwariskan para Nabi. Sedangkan "al-harj" maknanya pembunuhan, sebagaimana ditafsirkan dalam hadits itu sendiri.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin (1/190) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan pentingnya ilmu dan bahaya kebodohan. Kebodohan turun ketika ilmu diangkat, karena manusia tidak lagi memiliki guru yang benar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa faedah penting:
Pertama: Makna "Diangkatnya Ilmu"
Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud bukanlah ilmu itu hilang dari mushaf atau dari ingatan semua manusia. Akan tetapi, Allah mengangkat ilmu dengan cara mewafatkan para ulama yang benar-benar menguasai ilmu syar'i. Ketika para ulama wafat, manusia kehilangan rujukan. Maka muncullah orang-orang bodoh yang berani berfatwa tanpa ilmu, dan mereka menyesatkan diri sendiri serta orang lain. Ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 100) dari hadits Abdullah bin Amr bin Al-Ash, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada para hamba, tetapi Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama..."
Kedua: Makna "Turunnya Kebodohan"
Kebodohan turun menggantikan ilmu. Ini adalah konsekuensi logis dari wafatnya para ulama. Ketika tidak ada ulama yang menjadi rujukan, maka manusia berpegang pada pendapat orang-orang jahil. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kebodohan adalah sumber segala kerusakan, dan ilmu adalah sumber segala kebaikan.
Ketiga: Makna "Al-Harj"
Nabi ﷺ sendiri yang menjelaskan bahwa al-harj adalah pembunuhan. Ini menunjukkan bahwa ketika ilmu hilang dan kebodohan merajalela, maka manusia akan saling membunuh tanpa alasan yang benar. Imam Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fil Fitan wal Malahim menyebutkan bahwa banyaknya pembunuhan adalah salah satu tanda besar dekatnya hari Kiamat.
Keempat: Pelajaran untuk Kita
Hadits ini mengajarkan kita untuk:
- Bersegera menuntut ilmu syar'i dari para ulama yang benar.
- Menghormati dan memuliakan para ulama pewaris Nabi.
- Berhati-hati dari orang-orang bodoh yang mengaku berilmu.
- Menjaga diri dari fitnah dengan berpegang pada Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman salaf.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal —semoga Allah merahmatinya— sangat bersemangat dalam menuntut ilmu. Beliau berkata: "Aku menghafal Al-Qur'an dan aku menuntut ilmu hadits sejak usiaku sekitar 16 tahun." Beliau juga berkata: "Aku pergi ke Bashrah sebanyak lima kali untuk menuntut ilmu. Jika bukan karena hadits, aku tidak akan pergi ke sana."
Imam Ahmad sangat memahami bahwa ilmu adalah warisan para Nabi. Beliau menghabiskan hidupnya untuk mengumpulkan hadits dan menyusun Musnad-nya yang berisi lebih dari 27.000 hadits. Ketika beliau diuji dengan fitnah penciptaan Al-Qur'an, beliau tetap teguh di atas kebenaran meskipun dipenjara dan disiksa. Ini semua karena ilmu yang beliau miliki.
Hikmahnya: Ilmu yang benar akan menjaga pemiliknya dari kebinasaan dan fitnah. Sebaliknya, kebodohan akan menjerumuskan pemiliknya ke dalam kehancuran.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguhlah menuntut ilmu syar'i dari para ulama yang benar, karena ilmu adalah warisan para Nabi.
- Jangan menunda belajar karena ilmu akan diangkat dan kebodohan akan tersebar luas.
- Hati-hati dalam mengambil ilmu — jangan mengambil dari orang yang tidak dikenal keilmuannya, karena banyaknya pembunuhan dan fitnah adalah akibat dari kebodohan.
- Perbanyak doa agar Allah memberikan ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari kebodohan.
- Sebarkan ilmu yang benar kepada orang lain sesuai kemampuan, agar kita termasuk orang yang tidak menyembunyikan ilmu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.