Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2671 tentang Tanda kiamat: ilmu diangkat, kebodohan merajalela

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan kepada kita tentang sebagian tanda-tanda dekatnya hari Kiamat. Tanda-tanda tersebut adalah diangkatnya ilmu (dengan wafatnya para ulama), merebaknya kebodohan, diminumnya khamr (minuman keras) secara terang-terangan, dan maraknya perzinaan. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ yang sudah dan sedang kita saksikan di zaman sekarang. Tugas kita adalah berpegang teguh pada ilmu yang shahih, menjauhi kemaksiatan, dan berlindung kepada Allah dari fitnah akhir zaman.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-'Ilm, Bab Raf'ul 'Ilmi wa Qabdhi wa Zhuhuril Jahli wal Fitan, no. 2671, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً ۚ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan (tentang) agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga diri?" (QS. At-Taubah [9]: 122)

Ayat ini menunjukkan pentingnya ilmu agama dan peran ulama sebagai pemberi peringatan. Jika ilmu diangkat, maka manusia akan kehilangan pemberi peringatan dan tenggelam dalam kebodohan.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "diangkatnya ilmu" adalah wafatnya para ulama dan penghapusan ilmu dari dada-dada manusia, bukan sekadar dihilangkan dari lembaran-lembaran kitab. Beliau menukil kesepakatan ulama tentang hal ini.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung empat tanda besar di antara tanda-tanda kecil hari Kiamat:

  1. Diangkatnya Ilmu (يُرْفَعَ الْعِلْمُ): Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah tidaklah mengangkat ilmu dengan mencabutnya langsung dari dada para hamba, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga ketika tidak tersisa seorang alim pun, manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya, lalu mereka berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan." (HR. Bukhari no. 100). Ini adalah penjelasan paling otentik tentang makna "diangkatnya ilmu".
  2. Tegaknya Kebodohan (وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ): Kebodohan akan menyebar dan menjadi pegangan manusia. Mereka tidak lagi merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah, tetapi kepada opini, tradisi, dan hawa nafsu. Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah sering mengingatkan bahwa kebodohan adalah akar dari segala kebinasaan, karena orang yang bodoh tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah.
  3. Diminumnya Khamr (وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ): Khamr yang jelas diharamkan akan diminum secara terang-terangan, bahkan dianggap halal oleh sebagian orang, atau dicampur dengan berbagai istilah lain seperti "minuman energi" atau "obat" untuk mengelabui syariat. Ini menunjukkan hilangnya rasa malu dan iman.
  4. Maraknya Perzinaan (وَيَظْهَرَ الزِّنَا): Perzinaan akan dilakukan secara terbuka dan meluas, bahkan dibanggakan. Ini adalah tanda hilangnya kehormatan dan rasa malu. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa munculnya zina secara terang-terangan adalah puncak kerusakan moral masyarakat.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa tanda-tanda ini saling berkaitan. Ketika ilmu diangkat, maka kebodohan merajalela. Ketika kebodohan merajalela, manusia tidak lagi takut kepada Allah, sehingga mereka berani melakukan dosa-dosa besar seperti minum khamr dan berzina secara terang-terangan.

Story Telling

Dahulu, ada seorang ulama besar dari kalangan tabi'in bernama Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Suatu hari, ia melihat orang-orang berkumpul di pasar dengan riuh rendah. Beliau bertanya, "Ada apa dengan mereka?" Dijawab, "Wahai Abu Sa'id, ada seorang laki-laki yang mengaku bisa melihat perkara gaib dan menceritakan berbagai kejadian." Maka Al-Hasan Al-Bashri berkata dengan penuh hikmah:

> "Demi Allah, seandainya ilmu ini telah diangkat dari hati para ulama, maka manusia akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka. Mereka akan ditanya, lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan."

Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memahami bahwa hilangnya ilmu adalah awal dari segala kerusakan. Mereka sangat menjaga ilmu dan mengajarkannya kepada umat, karena ilmu adalah cahaya yang menjaga manusia dari kegelapan kebodohan dan kemaksiatan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguh menuntut ilmu syar'i yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah sesuai pemahaman para sahabat dan ulama Ahlus Sunnah, karena ilmu adalah warisan para Nabi.
  2. Menghormati dan mendukung para ulama yang berpegang teguh pada dalil, karena mereka adalah pewaris Nabi dan benteng umat dari kebodohan.
  3. Menjauhi segala bentuk khamr dan narkoba, serta segala yang memabukkan dan menghilangkan akal, baik sedikit maupun banyak.
  4. Menjaga diri dari perzinaan dan segala yang mendekatinya, seperti melihat yang haram, berdua-duaan, dan pergaulan bebas. Ini adalah bentuk menjaga kehormatan diri dan keluarga.
  5. Memperbanyak doa agar Allah memelihara kita dari fitnah akhir zaman dan mengokohkan kita di atas ilmu yang bermanfaat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi