Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2669 tentang Peringatan umat mengikuti kebiasaan Yahudi dan Nasrani

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang umatnya yang akan mengikuti kebiasaan dan perilaku umat Yahudi dan Nasrani secara membabi buta, sedetail-detailnya, bahkan dalam hal-hal yang tampak sepele sekalipun. Ini adalah peringatan keras agar kita tidak meniru budaya, gaya hidup, dan keyakinan mereka yang bertentangan dengan Islam. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa umat Islam akan terpecah dan banyak yang menyimpang, namun tetap ada kelompok yang istiqamah di atas kebenaran.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda sertakan) adalah:

حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ، حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ " . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ " فَمَنْ " .

Makna Ringkas: "Kalian pasti akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai jika mereka masuk ke lubang biawak, kalian pun akan mengikuti mereka." Para sahabat bertanya, "Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?" Beliau menjawab, "Siapa lagi kalau bukan mereka?"

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَىٰ عَلَىٰ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَىٰ لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَىٰ شَيْءٍ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَاللَّهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

(QS. Al-Baqarah [2]: 113)

Terjemahan: "Dan orang-orang Yahudi berkata, 'Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki suatu pegangan,' dan orang-orang Nasrani berkata, 'Orang-orang Yahudi tidak memiliki suatu pegangan,' padahal mereka membaca Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu mengucapkan seperti ucapan mereka. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari Kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan."

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah mukjizat Nabi ﷺ karena apa yang beliau kabarkan benar-benar terjadi. Beliau juga menegaskan bahwa makna "mengikuti" di sini adalah dalam hal kebatilan dan kemaksiatan, bukan dalam hal kebenaran yang kebetulan sama.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat mensyarah hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mengikuti dalam perkara yang mereka ada-adakan, bukan dalam hal yang diperintahkan syariat kita.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:

1. Makna "Sunnan" (سَنَن)

Kata "sunan" di sini berarti jalan, cara, atau kebiasaan. Yang dimaksud bukanlah sunnah dalam arti ibadah yang dianjurkan, melainkan perilaku dan kebiasaan hidup. Imam Al-Khathabi (yang dinukil oleh Imam An-Nawawi) mengatakan bahwa maknanya adalah "kalian akan mengikuti kebiasaan mereka dalam kesesatan dan kebatilan."

2. Makna "Sejengkal demi sejengkal"

Ini adalah gambaran bahwa peniruan itu terjadi secara bertahap dan detail. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa eratnya umat ini mengikuti jejak mereka, tidak meninggalkan sedikit pun, baik yang kecil maupun yang besar.

3. Siapa yang dimaksud?

Jawaban Nabi ﷺ "فَمَنْ" (siapa lagi?) menegaskan bahwa yang dimaksud adalah Yahudi dan Nasrani. Namun para ulama juga menjelaskan bahwa cakupannya lebih luas, mencakup semua orang kafir dan musyrik yang menentang para rasul. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini berlaku untuk semua umat yang menyelisihi, dan yang paling menonjol adalah Yahudi dan Nasrani.

4. Apakah ini berarti semua umat Islam akan mengikuti mereka?

Tidak. Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah mayoritas umat, bukan seluruhnya. Karena Nabi ﷺ juga mengabarkan bahwa akan selalu ada sekelompok umatnya yang tegak di atas kebenaran sampai hari kiamat (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Bentuk-bentuk pengikutan di zaman sekarang

Para ulama kontemporer dari daftar rujukan menjelaskan bahwa pengikutan ini bisa berupa:

  • Meniru gaya berpakaian yang bertentangan dengan syariat
  • Mengikuti budaya dan tradisi yang berasal dari mereka
  • Mengadopsi pemikiran dan ideologi yang menyelisihi Islam
  • Meniru cara berpakaian, makanan, perayaan, dan bahkan cara berpikir

Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai fatwanya sering mengingatkan tentang bahaya tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, baik dalam pakaian, perayaan, maupun kebiasaan, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang semakna.

6. Peringatan agar tidak ghuluw (berlebihan)

Namun perlu diingat, larangan meniru bukan berarti memusuhi semua yang berasal dari mereka. Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan bahwa yang dilarang adalah meniru hal-hal yang menjadi ciri khas mereka dalam kesesatan, bukan hal-hal yang bersifat duniawi murni seperti teknologi dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Al-Auza'i (salah seorang ulama tabi'ut tabi'in) pernah berkata kepada murid-muridnya:

"Wahai para penuntut ilmu, jauhilah oleh kalian mengikuti hawa nafsu dan bid'ah. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena mereka mengikuti hawa nafsu dan bid'ah. Mereka meninggalkan sunnah dan mengikuti hawa nafsu, maka amal mereka menjadi sia-sia dan kesesatan mereka menjadi nyata."

Beliau juga berkata: "Bersabarlah kalian di atas sunnah, berhentilah di tempat para sahabat berhenti, dan katakanlah sebagaimana mereka berkata. Cukuplah bagi kalian apa yang mencukupi mereka."

Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat khawatir terhadap bahaya mengikuti kebiasaan orang-orang yang menyimpang, karena hal itu akan menghancurkan agama seseorang sedikit demi sedikit.

Kesimpulan Praktis

  1. Waspadai peniruan bertahap — Jangan meremehkan hal-hal kecil yang merupakan awal dari peniruan terhadap budaya non-Muslim yang bertentangan dengan syariat.
  2. Jaga identitas keislaman — Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat dan ulama salaf.
  3. Bedakan yang boleh dan tidak boleh — Meniru teknologi dan ilmu duniawi yang bermanfaat diperbolehkan, tetapi meniru ciri khas ibadah, perayaan, dan gaya hidup yang bertentangan dengan syariat adalah terlarang.
  4. Perbanyak ilmu — Dengan ilmu, kita bisa membedakan mana yang termasuk mengikuti sunnah Nabi ﷺ dan mana yang termasuk mengikuti kebiasaan orang kafir.
  5. Bergaul dengan orang shalih — Agar kita tidak terbawa arus kebiasaan yang menyimpang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.