Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab membaca dan memahami Al-Qur'an: bacalah selama hati kalian masih bersatu dan tenang, tetapi bila muncul perselisihan atau kebingungan yang membuat hati terpecah, maka berhentilah sejenak. Tujuannya agar kita tidak membaca Al-Qur'an dengan cara yang menimbulkan pertengkaran, terutama pada ayat-ayat mutasyabihat. Sikap yang benar adalah kembali kepada pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dan menjauhi perdebatan yang memecah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-'Ilm, dari sahabat Jundub bin 'Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu:
Teks hadits (berharakat):
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «اقْرَءُوا الْقُرْآنَ مَا ائْتَلَفَتْ عَلَيْهِ قُلُوبُكُمْ، فَإِذَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ فَقُومُوا»
Terjemahan:
Rasulullah ﷺ bersabda: "Bacalah Al-Qur'an selama hati kalian sepakat untuk melakukannya, dan apabila kalian berselisih di dalamnya, maka bangkitlah (tinggalkanlah)."
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:
وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ
QS. Asy-Syura [42]: 10
Terjemahan: "Dan apa saja yang kamu perselisihkan, maka putusannya (terserah) kepada Allah."
Juga firman Allah:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
QS. Ali 'Imran [3]: 7
Terjemahan: "Dialah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepada kamu. Di antara isinya ada ayat-ayat muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an, dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: 'Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.' Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal."
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah: apabila kalian membaca Al-Qur'an dan hati kalian masih bersatu, saling memahami, serta tidak ada perselisihan, maka lanjutkanlah. Namun bila muncul perselisihan, perdebatan, atau kebingungan yang membuat hati terpecah, maka hentikanlah bacaan itu dan beralihlah kepada hal lain. Ini bukan larangan membaca Al-Qur'an secara mutlak, melainkan bimbingan adab agar bacaan tidak berubah menjadi sumber pertengkaran.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini berlaku khusus ketika perselisihan terjadi pada ayat-ayat mutasyabihat yang tidak dapat dijangkau akal manusia secara langsung, sehingga perdebatan hanya akan menimbulkan kebingungan dan perpecahan.
Kaitan dengan ayat Ali 'Imran [3]: 7:
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini membagi Al-Qur'an menjadi dua: muhkamat (jelas dan tegas) dan mutasyabihat (samar maknanya). Orang yang hatinya menyimpang akan sengaja mengejar ayat-ayat mutasyabihat untuk menciptakan fitnah. Sedangkan orang beriman yang mendalam ilmunya (rasikhun fil 'ilmi) menerima semuanya dan menyerahkan makna yang samar kepada Allah.
Pemahaman ulama dalam daftar:
- Imam an-Nawawi (Syarah Shahih Muslim): Hadits ini menunjukkan bahwa jika terjadi perselisihan dalam memahami Al-Qur'an yang membuat hati tidak tenang, hendaklah berhenti dan tidak memaksakan perdebatan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari): Perselisihan yang dimaksud adalah perselisihan yang mengarah pada pertengkaran dan kebingungan, bukan perselisihan dalam memahami hukum-hukum yang sudah jelas.
- Ibn Taymiyyah (Majmu' al-Fatawa): Beliau menegaskan pentingnya mengembalikan ayat-ayat mutasyabihat kepada ayat-ayat muhkamat, dan tidak menjadikannya sebagai medan perdebatan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah (dalam kitab-kitabnya): Beliau mengingatkan bahwa syaitan senang ketika kaum muslimin berpecah belah karena perbedaan pemahaman terhadap Al-Qur'an.
- Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (Taisir al-Karim ar-Rahman): Beliau menjelaskan bahwa ayat-ayat mutasyabihat harus dipahami dengan merujuk kepada ayat-ayat muhkamat dan hadits-hadits shahih, bukan dengan akal semata.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama memahami "fa qumu" (maka bangkitlah) sebagai perintah untuk berdiri secara fisik meninggalkan majelis tersebut. Sebagian lain memahaminya sebagai perintah untuk berhenti dari pembacaan dan beralih kepada ibadah atau aktivitas lain. Imam an-Nawawi menguatkan bahwa maknanya adalah berhenti dari perdebatan dan beralih kepada hal yang lebih bermanfaat. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa perintah tersebut bermakna meninggalkan perdebatan dan kembali kepada pokok-pokok yang jelas (muhkamat).
Story Telling
Diriwayatkan bahwa sahabat Jundub bin 'Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat yang dikenal zuhud dan wara'. Beliau meriwayatkan hadits ini sebagai peringatan bagi kaum muslimin agar tidak menjadikan Al-Qur'an sebagai bahan perdebatan yang memecah belah.
Dalam sebuah riwayat yang disebutkan Imam Muslim, pernah terjadi perselisihan di antara sebagian sahabat tentang takdir dan ayat-ayat mutasyabihat. Rasulullah ﷺ kemudian melarang mereka dari perdebatan tersebut dan memerintahkan untuk berhenti. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat menjaga persatuan umat dan tidak ingin Al-Qur'an menjadi sebab perpecahan.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang orang yang mendebatkan ayat-ayat mutasyabihat. Beliau menjawab dengan tegas agar menjauhi perdebatan tersebut dan cukup berpegang pada pemahaman salaf. Sikap ini sejalan dengan hadits Jundub di atas.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah Al-Qur'an dengan hati yang tenang dan niat ibadah, bukan untuk berdebat atau mencari kemenangan.
- Jika muncul perselisihan dalam memahami ayat, terutama ayat mutasyabihat, hentikanlah perdebatan dan kembalilah kepada pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
- Utamakan ayat-ayat muhkamat sebagai pokok pemahaman, dan serahkan makna ayat mutasyabihat kepada Allah dengan iman.
- Jauhi perdebatan yang memecah belah, karena syaitan senang melihat umat Islam berpecah.
- Rujuklah kepada ulama terpercaya ketika menghadapi kesulitan memahami Al-Qur'an, dan jangan memaksakan pemahaman sendiri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.