Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya berdebat dan berselisih dalam Al-Qur'an, terutama pada ayat-ayat yang mutasyabihat (samar maknanya). Beliau mengaitkan kebinasaan umat terdahulu dengan perbuatan ini. Ini bukan larangan untuk memahami Al-Qur'an, tetapi larangan untuk bertengkar dan saling menyalahkan dalam menafsirkannya tanpa ilmu, yang bisa menjerumuskan pada kesesatan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash radhiyallahu 'anhuma. Imam Muslim meriwayatkannya dalam Shahih Muslim, Kitab Al-'Ilm, Bab "Larangan Mengikuti Ayat-Ayat yang Mutasyabihat dan Peringatan terhadap Pengikutnya serta Larangan Berbeda Pendapat dalam Al-Qur'an" (no. 2666). Teks haditsnya adalah:
حَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ، فُضَيْلُ بْنُ حُسَيْنٍ الْجَحْدَرِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ قَالَ كَتَبَ إِلَىَّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ رَبَاحٍ الأَنْصَارِيُّ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو قَالَ هَجَّرْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَوْمًا - قَالَ - فَسَمِعَ أَصْوَاتَ رَجُلَيْنِ اخْتَلَفَا فِي آيَةٍ فَخَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعْرَفُ فِي وَجْهِهِ الْغَضَبُ فَقَالَ " إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاخْتِلاَفِهِمْ فِي الْكِتَابِ " .
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
"Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur'an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, 'Kami beriman kepadanya (Al-Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami.' Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal." (QS. Ali 'Imran [3]: 7)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan keras untuk berselisih dalam Al-Qur'an. Beliau menukil bahwa para ulama memaknai larangan ini pada perselisihan yang bersifat mujadalah (debat kusir) dan mukhasamah (bertengkar) yang tidak bermanfaat, bukan pada perbedaan pendapat dalam penafsiran yang dibangun di atas dalil dan ilmu.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits semakna dan menegaskan bahwa yang tercela adalah perselisihan yang lahir dari hawa nafsu dan tujuan buruk, bukan perbedaan ijtihad yang dibolehkan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu dalil penting tentang adab terhadap Al-Qur'an. Mari kita bedah maknanya:
- Peristiwa dalam Hadits: Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma datang kepada Nabi ﷺ di waktu pagi (waktu hajir, yaitu saat matahari panas). Beliau mendengar dua orang sahabat yang sedang berselisih tentang pemahaman sebuah ayat. Kemarahan Nabi ﷺ sangat jelas terlihat di wajahnya. Ini menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap bahaya perpecahan umat.
- Makna "Binasa karena Perbedaan dalam Kitab": Yang dimaksud bukanlah semua perbedaan pendapat, karena para sahabat sendiri pernah berbeda pendapat dalam beberapa hal dan Nabi ﷺ tidak selalu melarangnya. Yang dimaksud adalah:
- Perselisihan dalam menetapkan hukum dengan cara yang keliru, seperti saling mendustakan dan mengkafirkan.
- Memperdebatkan ayat-ayat mutasyabihat untuk mencari-cari makna tersembunyi yang tidak sesuai dengan maksud syariat, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali 'Imran [3]: 7. Ini adalah perbuatan orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan (zaygh).
- Berdebat untuk bermusuhan dan menjatuhkan lawan, bukan untuk mencari kebenaran.
- Pandangan Ulama:
- Imam Al-Barbahari (dalam Syarhus Sunnah) menekankan bahwa keselamatan ada pada mengikuti atsar (jejak para sahabat) dan meninggalkan perdebatan dalam agama.
- Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa perbedaan yang tercela adalah yang menyebabkan perpecahan hati dan permusuhan, serta yang tidak kembali kepada dalil. Adapun perbedaan yang merupakan rahmat adalah perbedaan dalam furu' (cabang) yang masing-masingnya memiliki dalil dan saling menghormati.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang berilmu mendalam tidaklah memperdebatkan ayat-ayat mutasyabihat, tetapi mereka mengembalikannya kepada ayat-ayat muhkamat dan menyerahkan makna hakiki yang tidak diketahui kepada Allah.
- Pelajaran Penting: Hadits ini mengajarkan kita untuk:
- Tidak mudah berdebat tentang Al-Qur'an tanpa ilmu.
- Mengembalikan pemahaman kepada ulama yang berkompeten.
- Menjaga persatuan dan tidak menjadikan perbedaan pemahaman sebagai ajang permusuhan.
- Fokus pada ayat-ayat muhkamat yang jelas hukum dan maknanya untuk diamalkan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika, para sahabat berbeda pendapat tentang bacaan (qira'at) dalam shalat. Ada yang membaca dengan satu cara, ada yang dengan cara lain. Hingga Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu hampir marah, tetapi kemudian keduanya pergi menemui Nabi ﷺ. Beliau mendengarkan keduanya dan bersabda bahwa keduanya benar dan bacaan itu baik. Namun, beliau kemudian bersabda, "Janganlah kalian berselisih, karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena perselisihan mereka." (HR. Ahmad, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwa' al-Ghalil).
Kisah ini menunjukkan bahwa perbedaan yang wajar dan memiliki dalil itu dimaklumi, tetapi jika perbedaan itu berubah menjadi permusuhan dan perpecahan, maka itulah yang dilarang. Hikmahnya, kita harus berlapang dada dalam perbedaan yang dibolehkan dan tegas dalam perkara yang sudah jelas dalilnya.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi perdebatan tentang Al-Qur'an yang tidak didasari ilmu dan adab.
- Pelajari dan amalkan ayat-ayat yang jelas (muhkamat) terlebih dahulu.
- Jika ada perbedaan pemahaman, kembalikan kepada ulama yang terpercaya dan jangan menjadikannya bahan pertengkaran.
- Jaga persatuan umat dengan saling menghormati dan tidak mudah menyalahkan.
- Perbanyak membaca dan merenungkan Al-Qur'an dengan niat untuk beribadah dan mengambil pelajaran, bukan untuk berdebat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.