Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2663 tentang Setiap bayi lahir dalam keadaan fitrah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits yang Anda maksud adalah riwayat tentang makna "setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah". Hadits ini menjelaskan bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih, memiliki kesiapan untuk menerima iman dan Islam. Namun, kedua orang tuanyalah yang kemudian mempengaruhi anak tersebut, apakah ia akan menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Ini adalah ketetapan takdir Allah yang berjalan sesuai sunnatullah, dan anak-anak yang meninggal sebelum baligh dalam keadaan fitrah, mereka berada dalam jaminan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Ar-Rum [30]: 30

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."

Hadits Terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Takdir, Bab Makna Setiap Bayi Dilahirkan Dalam Fitrah dan Hukum Kematian Anak-Anak Kafir dan Anak-Anak Muslim, no. 2663, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Teks lengkap haditsnya adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ

"Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi, sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya yang sempurna anggota tubuhnya. Apakah kalian merasakan adanya cacat pada hewan tersebut?'" (HR. Muslim no. 2663)

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu Islam. Beliau menukil pendapat para ulama tentang makna fitrah ini, di antaranya pendapat yang kuat bahwa fitrah di sini adalah fitrah Islam, sebagaimana dipahami oleh mayoritas ulama.

Penjelasan Rinci

Para ulama berbeda pendapat tentang makna "fitrah" dalam hadits ini. Namun, pendapat yang paling kuat dan dipilih oleh jumhur (mayoritas) ulama, termasuk Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar al-Asqalani, dan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, adalah bahwa fitrah di sini bermakna Islam. Artinya, setiap anak dilahirkan dalam keadaan siap dan cenderung untuk menerima Islam, yaitu agama yang benar. Ia lahir dalam keadaan bersih dari dosa dan memiliki kesiapan naluriah untuk mengenal Tuhannya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa fitrah adalah keadaan awal penciptaan manusia yang sehat dan selaras dengan ketauhidan. Manusia diciptakan dengan naluri untuk mengenal dan menyembah Allah semata. Namun, lingkungan, pendidikan, dan pengaruh orang tua dapat memalingkannya dari fitrah tersebut.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa fitrah Allah yang dimaksud dalam QS. Ar-Rum: 30 adalah agama Islam yang telah Allah tanamkan dalam diri setiap manusia. Agama ini selaras dengan akal yang sehat dan jiwa yang bersih.

Adapun tentang anak-anak yang meninggal sebelum baligh, para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang kuat, sebagaimana dipegang oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama hadits, adalah bahwa anak-anak muslim yang meninggal sebelum baligh berada dalam jaminan surga. Adapun anak-anak kafir yang meninggal sebelum baligh, mereka berada dalam kehendak Allah. Namun, pendapat yang lebih hati-hati dan banyak dipilih oleh ulama salaf adalah kita tidak memastikan status mereka, tetapi kita menyerahkan urusan mereka kepada Allah, karena Allah tidak akan mengazab seseorang sebelum hujjah (keterangan) ditegakkan kepadanya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah cenderung pada pendapat bahwa mereka diuji pada hari kiamat dengan ujian yang khusus, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits tentang "empat golongan yang diuji pada hari kiamat", yaitu orang yang tidak pernah mendengar dakwah, orang yang mendengar tetapi tidak memahami, orang yang lahir dalam keadaan cacat, dan anak-anak. Ini adalah perkara ghaib yang kita serahkan sepenuhnya kepada Allah.

Story Telling

Dahulu, ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang anak-anak orang musyrik yang meninggal dunia. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah lebih mengetahui apa yang mereka kerjakan." (HR. Bukhari dan Muslim). Jawaban ini menunjukkan adab seorang muslim dalam menghadapi perkara ghaib. Kita tidak boleh memastikan status seseorang di akhirat kecuali berdasarkan dalil yang jelas. Yang terpenting bagi kita adalah memperbaiki diri dan anak-anak kita, serta menanamkan iman dan Islam dalam jiwa mereka sejak dini, karena orang tualah yang paling besar pengaruhnya dalam membentuk fitrah anak.

Kesimpulan Praktis

  1. Yakinlah bahwa setiap anak lahir dalam keadaan fitrah (Islam). Ini adalah anugerah besar dari Allah. Maka, jangan pernah meremehkan potensi kebaikan pada setiap anak.
  2. Sadari besarnya tanggung jawab orang tua. Orang tua adalah faktor utama yang membentuk keyakinan dan karakter anak. Maka, didiklah anak-anak kita dengan pendidikan Islam yang benar sejak dini.
  3. Jangan berspekulasi tentang nasib anak-anak kafir yang meninggal. Serahkan urusan mereka kepada Allah, karena Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui. Fokuslah pada amal dan pendidikan anak-anak kita sendiri.
  4. Jadikan hadits ini sebagai motivasi untuk menjaga fitrah anak. Lingkungan yang baik, pendidikan yang benar, dan teladan yang shalih adalah kunci untuk menjaga anak tetap di atas fitrahnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.