Penjelasan Hadits Muslim No. 2657 tentang Segala sesuatu telah ditetapkan menurut takdir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa orang-orang musyrik Quraisy pernah mendebat Nabi ﷺ tentang takdir, lalu Allah menurunkan ayat yang menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran/takdir yang telah ditetapkan. Ini menunjukkan bahwa takdir adalah perkara yang sudah Allah tetapkan sejak awal, dan manusia tidak bisa menolaknya. Kita wajib beriman kepada takdir, namun tetap berusaha dan berdoa, karena Allah juga memerintahkan sebab-akibat.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait:

QS. Al-Qamar [54]: 48-49

وَيَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Terjemahan:

"Pada hari ketika mereka diseret ke dalam Neraka dengan wajah mereka (sambil dikatakan): 'Rasakanlah sentuhan api Saqar.' Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Qadar, Bab "Kullu Syai'in bi Qadar", dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Jalur periwayatannya: Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib → Waki' → Sufyan (ats-Tsauri) → Ziyad bin Isma'il → Muhammad bin 'Abbad bin Ja'far al-Makhzumi → Abu Hurairah.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil kuat bahwa takdir adalah ketetapan Allah yang azali, dan ayat ini turun sebagai jawaban atas pendebatan orang musyrik yang menolak takdir.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ayat ini menegaskan penciptaan segala sesuatu dengan ukuran yang telah ditetapkan, termasuk manusia dan perbuatannya.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa' al-'Alil dan kitab-kitabnya tentang takdir menegaskan bahwa beriman kepada takdir tidak berarti menolak usaha, karena Allah menetapkan takdir beserta sebab-sebabnya.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Orang-orang musyrik Quraisy datang kepada Nabi ﷺ bukan untuk mencari kebenaran, tetapi untuk berdebat dan menolak ajaran takdir. Mereka menganggap bahwa jika segala sesuatu sudah ditakdirkan, maka mereka tidak perlu bertanggung jawab atas perbuatan mereka. Allah kemudian menurunkan ayat 48-49 dari Surah Al-Qamar sebagai jawaban: bahwa orang-orang yang menolak takdir dan tetap dalam kekafiran akan diseret ke neraka dengan wajah mereka, dan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran yang tepat.

Pemahaman ulama:

  1. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa takdir adalah perkara yang wajib diimani. Beliau menyebutkan bahwa para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, menuliskannya, dan menciptakannya sesuai dengan ilmu dan kehendak-Nya.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa ayat "إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ" mencakup semua makhluk, termasuk perbuatan manusia. Namun beliau juga menegaskan bahwa manusia memiliki usaha (kasb) dan tanggung jawab, sehingga tidak bisa berdalih dengan takdir untuk meninggalkan kewajiban.
  3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya tentang takdir menjelaskan bahwa beriman kepada takdir memiliki empat tingkatan: (1) ilmu Allah yang azali, (2) penulisan di Lauhul Mahfuzh, (3) kehendak Allah yang pasti terjadi, dan (4) penciptaan segala sesuatu oleh Allah. Beliau menegaskan bahwa iman kepada takdir tidak menghapus usaha dan doa, karena Allah menetapkan takdir melalui sebab-sebab.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan kesempurnaan hikmah Allah, bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran yang tepat, tidak berlebihan dan tidak kurang. Beliau juga menegaskan bahwa takdir bukan alasan untuk meninggalkan amal, karena Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berusaha dan berdoa.

Perbedaan pendapat:

Di kalangan ulama daftar, tidak ada perbedaan dalam pokok masalah takdir. Yang ada adalah perbedaan dalam memahami detailnya, seperti apakah manusia memiliki kebebasan mutlak atau tidak. Namun kesimpulannya, menurut dalil yang paling kuat, manusia memiliki usaha dan tanggung jawab, sementara Allah adalah Pencipta segala sesuatu termasuk perbuatan manusia.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika orang-orang musyrik Quraisy mendatangi Nabi ﷺ dengan penuh kesombongan. Mereka berkata, "Wahai Muhammad, jika segala sesuatu sudah ditakdirkan, maka kami tidak bersalah atas kekafiran kami." Mereka ingin berdalih dengan takdir untuk membenarkan kesesatan mereka.

Nabi ﷺ tidak menjawab dengan emosi, tetapi Allah langsung menurunkan ayat yang menegaskan bahwa mereka akan diseret ke neraka dengan wajah mereka, dan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran. Ayat ini menjadi jawaban tegas bahwa takdir bukan alasan untuk menolak kebenaran, karena manusia tetap diberi akal, pilihan, dan tanggung jawab.

Hikmahnya: Jangan pernah menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban atau berbuat maksiat. Sebaliknya, berimanlah kepada takdir sambil terus berusaha dan berdoa, karena Allah menetapkan segala sesuatu dengan hikmah yang sempurna.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib beriman kepada takdir bahwa Allah mengetahui, menulis, menghendaki, dan menciptakan segala sesuatu.
  2. Takdir bukan alasan untuk meninggalkan usaha — tetap berusaha, berdoa, dan bertawakal.
  3. Jangan berdebat tentang takdir dengan cara yang salah seperti orang musyrik, tetapi pelajari dengan adab dan ilmu.
  4. Yakinlah bahwa segala sesuatu diciptakan dengan ukuran yang tepat — tidak ada yang sia-sia dalam ciptaan Allah.
  5. Fokus pada amal dan perbaikan diri, bukan pada perdebatan yang tidak bermanfaat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?