Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini, baik itu berupa kemampuan (al-kais) maupun ketidakmampuan (al-'ajz), semuanya telah ditentukan dan tercatat dalam takdir Allah ﷻ. Ini adalah salah satu pilar keimanan kepada qada dan qadar. Seorang mukmin harus meyakini bahwa apa pun yang menimpanya, baik itu keberhasilan maupun kegagalan, tidak lepas dari ilmu dan ketetapan Allah yang Maha Bijaksana.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Takdir, Bab "Segala Sesuatu dengan Takdir", nomor 2656. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya.
Teks Hadits (sebagaimana tertera):
حَدَّثَنِي عَبْدُ الأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مَالِكٍ، فِيمَا قُرِئَ عَلَيْهِ عَنْ زِيَادِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ طَاوُسٍ، أَنَّهُ قَالَ أَدْرَكْتُ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ يَقُولُونَ كُلُّ شَىْءٍ بِقَدَرٍ. قَالَ وَسَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " كُلُّ شَىْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى الْعَجْزُ وَالْكَيْسُ أَوِ الْكَيْسُ وَالْعَجْزُ "
Makna Ringkas: Segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, bahkan kelemahan (al-'ajz) dan kecerdasan/kemampuan (al-kais) pun telah ditetapkan oleh-Nya.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
"Sungguh, Kami telah menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)." (QS. Al-Qamar [54]: 49)
Kaitan dengan Ulama: Hadits ini diriwayatkan dari jalur Imam Malik bin Anas dari gurunya, dan salah satu perawinya adalah Imam Tawus bin Kaysan, seorang ulama tabi'in yang terkenal. Beliau termasuk dalam daftar rujukan yang disebutkan dalam sistem ini.
Penjelasan Rinci
Hadits yang mulia ini adalah salah satu fondasi besar dalam babak keimanan kepada takdir. Mari kita pahami bersama maknanya:
- Makna "Kullu syai'in bi qadar" (Segala sesuatu dengan takdir): Ini adalah kalimat yang sangat agung. Para sahabat Nabi ﷺ yang dijumpai oleh Imam Tawus bersepakat di atas keyakinan ini. Ini menunjukkan bahwa keimanan kepada takdir adalah perkara yang sudah disepakati oleh generasi terbaik umat ini. Tidak ada seorang pun dari mereka yang mengingkarinya.
- Makna "hatta al-'ajzu wal-kais" (hingga kelemahan dan kecerdasan): Ini adalah penegasan yang sangat dalam. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengatakan bahwa hal-hal besar seperti rezeki, jodoh, dan kematian adalah takdir. Beliau bahkan menyebutkan dua hal yang seringkali manusia merasa bangga atau kecewa karenanya:
- Al-'Ajz (kelemahan/ketidakmampuan): Ini adalah kekurangan yang ada pada diri manusia. Ada orang yang lemah secara fisik, lemah akal, atau lemah semangat. Ada yang tidak mampu bangun malam, tidak mampu menahan hawa nafsu, atau tidak mampu bersabar. Semua ini adalah takdir Allah.
- Al-Kais (kecerdasan/kemampuan): Ini adalah kelebihan yang dimiliki seseorang. Ada yang cerdas, kuat, kaya, atau memiliki semangat tinggi untuk beribadah dan bekerja. Ini juga adalah takdir Allah.
Mengapa Nabi ﷺ menyebutkan dua hal ini secara spesifik? Karena manusia seringkali salah dalam menyikapinya. Orang yang memiliki kelebihan (kais) bisa menjadi sombong, merasa semua itu hasil usahanya sendiri. Orang yang memiliki kekurangan ('ajz) bisa menjadi putus asa, merasa tidak ada gunanya berusaha. Padahal, keduanya adalah ketetapan Allah yang memiliki hikmah.
- Pemahaman Ulama: Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa keimanan kepada takdir mencakup empat perkara:
- Al-'Ilm: Allah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadi.
- Al-Kitabah: Allah menuliskan takdir semua makhluk di Lauhul Mahfuzh.
- Al-Masyi'ah: Segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah. Tidak ada sesuatu pun yang terjadi di luar kehendak-Nya.
- Al-Khalq: Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk perbuatan manusia.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa menetapkan takdir untuk kelemahan dan kemampuan tidaklah bertentangan dengan perintah Allah untuk berusaha. Justru, dengan memahami takdir, seorang hamba akan berusaha dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena usaha itu sendiri adalah bagian dari takdir Allah yang harus dijalankan oleh hamba.
Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya Syifa' al-'Alil menjelaskan bahwa hadits ini adalah bantahan terhadap kelompok yang mengingkari takdir secara total. Jika kelemahan dan kemampuan saja sudah ditakdirkan, apalagi hal-hal lainnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menekankan bahwa keyakinan ini akan melahirkan ketenangan hati. Jika seseorang ditimpa musibah atau merasa lemah, dia tidak akan berputus asa karena tahu itu semua ada hikmahnya di sisi Allah. Dan jika dia diberi kemampuan, dia tidak akan sombong karena tahu itu semua adalah karunia Allah semata.
Story Telling
Imam Tawus bin Kaysan, seorang tabi'in yang mulia dan termasuk perawi hadits ini, dikenal sebagai ulama yang sangat zuhud dan berani dalam kebenaran. Suatu ketika, Khalifah Hisyam bin Abdul Malik bertanya kepadanya tentang sesuatu yang berkaitan dengan takdir. Imam Tawus menjawab dengan tegas dan berani, tidak takut kepada penguasa.
Suatu kali, Hisyam bertanya, "Wahai Abu Abdurrahman, kabarkan kepadaku tentang takdir." Imam Tawus menjawab, "Takdir itu adalah rahasia Allah yang tidak akan Dia siksa hamba-Nya karenanya, dan tidak akan Dia tanyakan kepada hamba-Nya tentangnya. Sesungguhnya Allah memerintahkan hamba-Nya untuk beramal dan melarang mereka dari bermaksiat. Barangsiapa yang taat, maka dia akan diberi pahala. Dan barangsiapa yang bermaksiat, maka dia akan disiksa."
Jawaban ini menunjukkan pemahaman yang lurus. Kita tidak boleh berdebat terlalu dalam tentang takdir yang merupakan rahasia Allah. Yang wajib kita lakukan adalah beriman secara global bahwa semua dari Allah, lalu berusaha semaksimal mungkin dalam ketaatan dan menjauhi larangan-Nya.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa keimanan kepada takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk malas beribadah atau berbuat maksiat. Justru, keimanan kepada takdir adalah pendorong terbesar untuk beramal shalih dan menjauhi dosa, karena kita yakin Allah melihat dan mencatat semua amal kita.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:
- Perkuat keyakinan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik yang kita sukai maupun tidak, adalah takdir Allah yang telah ditetapkan sejak azali.
- Jangan pernah berputus asa ketika merasa lemah atau kurang mampu. Karena kelemahan itu adalah takdir, dan kita diperintahkan untuk berdoa dan berusaha mengubahnya.
- Jangan pernah sombong ketika memiliki kelebihan atau kemampuan. Karena semua itu adalah karunia Allah yang bisa dicabut kapan saja.
- Seimbangkan antara ikhtiar dan tawakal. Berusahalah dengan sungguh-sungguh, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Inilah hakikat tawakal yang diajarkan oleh para ulama.
- Hindari perdebatan yang sia-sia tentang takdir. Fokuslah pada apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang, karena itulah yang akan dihisab pada hari kiamat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.