Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits yang Anda tanyakan (Shahih Muslim no. 2654) adalah penggalan sanad atau riwayat penguat (mutaba'ah) dari hadits panjang tentang perdebatan Nabi Adam dan Nabi Musa 'alaihimassalam. Teks yang Anda berikan bukanlah matan (isi) hadits, melainkan keterangan periwayatan bahwa hadits tersebut diriwayatkan pula melalui jalur lain (Abu Hani') dengan redaksi yang sama, hanya saja tanpa tambahan kalimat "dan 'Arsy-Nya berada di atas air." Hadits utama yang dimaksud berisi tentang argumentasi Nabi Adam kepada Nabi Musa mengenai takdir Allah, dan di dalamnya terdapat penjelasan penting tentang iman kepada qadha dan qadar.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)."
(QS. Al-Qamar [54]: 49)
Hadits Utama yang Dimaksud (Riwayat Shahih Muslim):
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«احْتَجَّ آدَمُ وَمُوسَى عَلَيْهِمَا السَّلَامُ، فَقَالَ مُوسَى: يَا آدَمُ أَنْتَ أَبُونَا خَيَّبْتَنَا وَأَخْرَجْتَنَا مِنَ الْجَنَّةِ بِذَنْبِكَ، فَقَالَ آدَمُ: يَا مُوسَى اصْطَفَاكَ اللَّهُ بِكَلَامِهِ، وَخَطَّ لَكَ التَّوْرَاةَ بِيَدِهِ، أَتَلُومُنِي عَلَى أَمْرٍ قَدَّرَهُ اللَّهُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَنِي بِأَرْبَعِينَ سَنَةً؟ فَقَالَ آدَمُ: فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى، فَحَجَّ آدَمُ مُوسَى»
"Adam dan Musa berdebat. Musa berkata: 'Wahai Adam, engkau adalah bapak kami, engkau telah mengecewakan kami dan mengeluarkan kami dari surga karena dosamu.' Adam menjawab: 'Wahai Musa, Allah telah memilihmu dengan kalam-Nya dan menulis Taurat untukmu dengan tangan-Nya. Apakah engkau mencela aku atas suatu perkara yang telah Allah takdirkan atasku sebelum Dia menciptakanku empat puluh tahun?' Adam mengalahkan Musa, Adam mengalahkan Musa."
(HR. Muslim no. 2652, dari Abu Hurairah)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil kuat tentang penetapan takdir dan bahwa perbuatan hamba telah diketahui serta ditakdirkan Allah sejak azali.
- Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari saat membahas hadits serupa (riwayat Bukhari) menjelaskan bahwa kemenangan Adam dalam debat ini bukan berarti dosanya tidak tercela, tetapi karena ia berbicara tentang hakikat takdir yang wajib diimani.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat agung tentang iman kepada takdir. Mari kita pahami dengan baik:
1. Konteks Perdebatan
Nabi Musa 'alaihissalam menegur Nabi Adam 'alaihissalam karena dosa yang menyebabkan beliau dan keturunannya dikeluarkan dari surga. Ini adalah teguran yang lahir dari rasa cinta kepada umatnya—Nabi Musa ingin umatnya tidak mengalami kesulitan yang sama. Namun, Nabi Adam menjawab dengan hikmah yang dalam.
2. Jawaban Nabi Adam
Nabi Adam tidak sedang melempar tanggung jawab atau menghindari pengakuan dosa. Beliau tetap mengakui kesalahannya dan bertaubat. Namun, beliau mengingatkan bahwa dosa yang terjadi itu berada dalam pengetahuan dan takdir Allah yang telah ditulis lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi (dalam riwayat lain disebutkan empat puluh tahun sebelum penciptaan Adam).
3. Makna "Adam Mengalahkan Musa"
Para ulama menjelaskan bahwa kemenangan Adam di sini karena ia mengingatkan Musa tentang hakikat takdir. Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitabnya Syifa' al-'Alil menjelaskan bahwa Adam berbicara dari sudut pandang takdir yang telah ditetapkan, sedangkan Musa berbicara dari sudut pandang perintah dan larangan syariat. Keduanya benar pada tempatnya, namun dalam konteks ini, Adam mengingatkan bahwa takdir Allah tidak bisa dijadikan alasan untuk berbuat dosa, tetapi juga tidak boleh melupakan bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah.
4. Peringatan dari Kesalahpahaman
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah menegaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami sebagai pembenaran untuk berbuat dosa dengan alasan takdir. Justru sebaliknya, hadits ini mengajarkan bahwa setelah seseorang bertaubat dan kembali kepada Allah, ia tidak boleh terus-menerus menyalahkan diri hingga putus asa, karena apa yang terjadi telah ditakdirkan Allah dan taubat menghapus dosa.
5. Pelajaran tentang Adab Berdebat
Perdebatan antara dua nabi ini menunjukkan adab yang tinggi. Keduanya saling menghormati, tidak saling mencela, dan masing-masing menyebut keutamaan yang Allah berikan kepada yang lain. Nabi Musa menyebut Adam sebagai bapak manusia, dan Nabi Adam menyebut Musa sebagai Nabi yang dipilih Allah dengan kalam-Nya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika hadits ini sampai kepada sebagian ulama salaf, mereka sangat tersentuh. Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang hadits ini, beliau menjawab: "Kita mengimani dan membenarkannya, tidak ada satu huruf pun yang kita tolak. Namun, kita tidak mengetahui hakikat bagaimana perdebatan itu terjadi, karena itu termasuk perkara ghaib yang hanya Allah yang tahu."
Para ulama juga menceritakan bahwa Imam Abu Hanifah ketika ditanya tentang takdir, beliau berkata: "Takdir adalah rahasia Allah yang tidak boleh kita selidiki dengan akal kita. Kita wajib mengimani bahwa semua kebaikan dan keburukan terjadi dengan takdir Allah, namun kita tetap diperintah untuk berusaha dan beramal."
Hikmah dari kisah ini: Seorang mukmin tidak boleh terjebak pada dua sikap ekstrem—menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermaksiat, atau berputus asa dari rahmat Allah setelah berbuat dosa. Keduanya adalah kesesatan.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada takdir adalah bagian dari rukun iman yang wajib diyakini, termasuk bahwa Allah telah menulis takdir segala sesuatu.
- Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk berbuat dosa, karena manusia tetap memiliki pilihan dan tanggung jawab atas perbuatannya.
- Setelah bertaubat, seorang hamba tidak boleh terus-menerus menyalahkan diri hingga larut dalam kesedihan, karena Allah Maha Pengampun.
- Jangan berdebat tentang hal-hal ghaib yang tidak kita ketahui hakikatnya; cukup mengimani dan tidak memperdalam hal yang tidak bermanfaat.
- Teladani adab para nabi dalam berdiskusi: saling menghormati, tidak mencela, dan mengakui keutamaan orang lain.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.