Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang kekuasaan Allah yang sempurna dalam mengatur makhluk-Nya. Sejak manusia masih berupa setetes mani di dalam rahim ibunya, Allah telah menetapkan dan menuliskan takdirnya: jenis kelaminnya, baik atau buruknya, rizkinya, ajalnya, dan amalnya. Ini adalah bagian dari iman kepada takdir, yang merupakan salah satu rukun iman. Hadits ini menguatkan hati seorang mukmin bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Allah, sehingga kita tidak perlu khawatir berlebihan tentang masa depan, namun tetap bersemangat beramal karena takdir tidak menghalangi usaha.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Takdir, Bab Cara Penciptaan Manusia di Dalam Rahim Ibunya, no. 2646, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Dalil dari Al-Qur'an yang senada dengan hadits ini adalah firman Allah Ta'ala:
QS. Al-Hajj [22]: 5
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِنَ الْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُضْغَةٍ مُخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِنُبَيِّنَ لَكُمْ وَنُقِرُّ فِي الْأَرْحَامِ مَا نَشَاءُ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى
"Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka (ketahuilah) Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu (tentang kekuasaan Kami). Dan Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan."
Ayat ini menjelaskan tahapan penciptaan manusia yang disebutkan dalam hadits, yaitu nuthfah (setetes mani), 'alaqah (segumpal darah), dan mudhghah (segumpal daging). Ini menunjukkan bahwa hadits tersebut selaras dengan Al-Qur'an.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Adanya Malaikat yang Ditugaskan: Allah mengutus seorang malaikat untuk menjaga dan mengurus rahim. Malaikat ini menyaksikan dan melaporkan tahapan penciptaan manusia. Ini menunjukkan betapa detailnya pengaturan Allah. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa malaikat ini bertugas mencatat takdir yang dikehendaki Allah atas janin tersebut.
- Penetapan Takdir: Setelah janin melewati tahap mudhghah (segumpal daging) dan Allah menghendaki untuk menyempurnakan penciptaannya, maka malaikat bertanya kepada Allah tentang ketetapan-Nya: laki-laki atau perempuan, sengsara atau bahagia, berapa rizkinya, dan berapa ajalnya. Semua itu kemudian ditulis. Ini adalah takdir yang telah ditetapkan Allah.
- Makna "Ditulis": Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Al-'Aqidah Al-Wasithiyyah menjelaskan bahwa penulisan ini adalah pencatatan takdir yang telah ditetapkan Allah. Ini adalah salah satu tingkatan takdir, yaitu Al-Kitabah (penulisan). Penulisan ini menunjukkan bahwa Allah telah mengetahui dan menentukan segala sesuatu sejak azali, dan malaikat menuliskannya sebagai perwujudan dari ilmu dan kehendak Allah tersebut.
- Hubungan dengan Takdir dan Usaha: Hadits ini tidak bertentangan dengan perintah untuk berusaha. Justru, dengan mengetahui bahwa rizki dan ajal telah ditulis, seorang mukmin akan merasa tenang. Ia tetap berusaha dan berdoa, namun hasilnya ia serahkan kepada Allah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Al-Aqidah Al-Wasithiyyah menegaskan bahwa iman kepada takdir tidak menghalangi seorang hamba untuk melakukan sebab-sebab yang diperintahkan. Justru, orang yang beriman kepada takdir adalah orang yang paling bersemangat dalam beramal, karena ia yakin bahwa Allah telah menetapkan amal tersebut untuknya.
- Perbedaan dengan Hadits Ibnu Mas'ud: Terdapat hadits lain yang lebih panjang dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu (HR. Bukhari dan Muslim) yang menyebutkan bahwa penulisan takdir terjadi setelah peniupan ruh, dan juga menyebutkan penulisan amal, ajal, rizki, dan celaka atau bahagianya. Hadits Anas ini menegaskan hal yang sama, meskipun dengan redaksi yang lebih ringkas. Keduanya saling menguatkan.
Story Telling
Dahulu, ada seorang ulama besar dari kalangan tabi'in bernama Sa'id bin al-Musayyib. Beliau dikenal sangat zuhud dan tenang dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Suatu ketika, beliau ditanya tentang takdir dan bagaimana seorang hamba bisa tenang menghadapinya. Beliau menjawab dengan sebuah permisalan yang dalam, "Sesungguhnya Allah telah menuliskan takdir setiap makhluk. Maka, seorang hamba yang beriman akan berjalan di atas takdirnya dengan tenang, seperti seorang musafir yang berjalan di atas jalan yang telah ditentukan. Ia tidak akan sampai ke tempat yang tidak Allah takdirkan, dan tidak akan tertinggal dari tempat yang telah Allah takdirkan untuknya."
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa keyakinan kepada takdir melahirkan ketenangan hati. Kita tidak perlu cemas berlebihan tentang masa depan karena semua telah diatur oleh Allah. Tugas kita hanyalah berusaha, berdoa, dan bertawakal kepada-Nya.
Kesimpulan Praktis
- Iman kepada Takdir: Yakini bahwa Allah telah menetapkan takdir setiap makhluk sejak azali, termasuk rizki, ajal, dan amal kita.
- Rasa Tenang: Jangan biarkan kekhawatiran tentang masa depan menguasai hati. Yakinlah bahwa Allah telah mengatur segalanya dengan sebaik-baiknya.
- Tetap Bersemangat Beramal: Keyakinan kepada takdir tidak membuat kita malas. Justru, kita harus lebih giat beribadah dan berusaha, karena itulah bagian dari takdir yang telah Allah tetapkan untuk kita.
- Bersyukur dan Bersabar: Ketika mendapat nikmat, bersyukurlah. Ketika mendapat ujian, bersabarlah. Keduanya adalah takdir dari Allah yang mengandung hikmah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.