Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan proses penciptaan manusia di dalam rahim ibu secara bertahap selama 120 hari, lalu ditiupkan ruh dan dicatat empat ketetapan takdir: rezeki, ajal, amal, dan nasib bahagia atau sengsara. Hadits ini juga mengajarkan bahwa akhir hayat seseorang tidak bisa diketahui, karena amal seseorang bisa berubah di detik-detik terakhir hidupnya sesuai ketetapan Allah yang telah terdahulu.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
QS. Al-Mu’minun [23]: 12-14
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ. ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ. ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (yang berasal) dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (nuthfah) di dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (‘alaqah), lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging (mudhghah), lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, sebaik-baik pencipta.”
Hadits yang dimaksud:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Takdir, Bab Cara Penciptaan Manusia Dalam Rahim Ibu, no. 2643, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3208, 6594) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (16/191) menjelaskan bahwa hadits ini merupakan salah satu dalil pokok tentang penetapan takdir dan bahwa kebahagiaan atau kesengsaraan seseorang telah ditulis sejak dalam kandungan. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami secara keliru seolah-olah menghilangkan usaha manusia, tetapi justru mengajarkan agar kita selalu berdoa dan memohon husnul khatimah.
Penjelasan Rinci
Hadits agung ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dari kalangan salaf:
1. Tahapan Penciptaan Manusia
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa penciptaan manusia di dalam rahim melalui tiga tahap, masing-masing selama 40 hari:
- Nuthfah (air mani): 40 hari pertama
- ‘Alaqah (segumpal darah): 40 hari kedua
- Mudhghah (segumpal daging): 40 hari ketiga
Total 120 hari (4 bulan). Setelah itu, malaikat diutus untuk meniupkan ruh dan mencatat empat ketetapan.
Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (5/470) saat menafsirkan QS. Al-Mu’minun ayat 12-14 menjelaskan bahwa tahapan-tahapan ini adalah bukti kekuasaan Allah dan hikmah-Nya dalam menciptakan manusia secara bertahap.
2. Peniupan Ruh dan Pencatatan Takdir
Setelah 120 hari, Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh ke dalam janin. Pada saat itu pula malaikat diperintahkan menulis empat hal:
- Rizqih (rezekinya): berapa banyak dan dari mana
- Ajalih (ajalnya): kapan akan meninggal
- ‘Amalih (amalnya): amal apa yang akan dikerjakan
- Syaqiyyun am sa’id (nasibnya): apakah ia termasuk orang yang celaka atau bahagia
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (1/145) menjelaskan bahwa pencatatan ini adalah bagian dari takdir yang telah ditetapkan Allah sejak azali. Namun, beliau juga menegaskan bahwa takdir ini tidak menghilangkan tanggung jawab manusia, karena amal seseorang terjadi sesuai dengan pilihan dan usahanya, dan Allah mengetahui apa yang akan dipilihnya.
3. Pelajaran tentang Akhir Hayat
Bagian akhir hadits ini sangat penting: seseorang bisa beramal dengan amalan ahli surga sepanjang hidupnya, namun di detik-detik terakhir ia beramal dengan amalan ahli neraka dan masuk neraka. Sebaliknya, seseorang bisa beramal dengan amalan ahli neraka, namun di akhir hayatnya ia beramal dengan amalan ahli surga dan masuk surga.
Imam Ibn Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (11/497) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan beberapa hal:
- Pentingnya berdoa agar diberi husnul khatimah (akhir yang baik)
- Larangan berputus asa dari rahmat Allah, karena seseorang yang tampak buruk bisa berubah di akhir hayatnya
- Larangan merasa aman dari tipu daya Allah, karena seseorang yang tampak baik bisa berubah di akhir hayatnya
- Amal seseorang dinilai berdasarkan penutup (akhir) hidupnya
4. Keseimbangan antara Takdir dan Usaha
Para ulama Ahlus Sunnah, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah (1/245), menegaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami secara fatalistik (pasrah tanpa usaha). Justru, hadits ini mengajarkan agar kita:
- Bersungguh-sungguh dalam beramal shalih
- Selalu berdoa memohon keteguhan iman hingga akhir hayat
- Tidak meremehkan dosa sekecil apapun
- Tidak berputus asa dari rahmat Allah
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
> “Rasulullah ﷺ yang jujur lagi dipercaya (oleh Allah) bersabda kepada kami…” (HR. Muslim)
Perhatikan bagaimana Abdullah bin Mas’ud memulai periwayatan hadits ini dengan penegasan bahwa Rasulullah ﷺ adalah ash-shadiq al-mashduq — yang jujur dan dibenarkan (oleh Allah). Ini menunjukkan keyakinan para sahabat bahwa setiap perkataan Nabi ﷺ adalah benar dan berasal dari wahyu.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya (no. 6594) bahwa ketika hadits ini sampai kepada para sahabat, mereka sangat berhati-hati dalam beramal dan tidak pernah merasa aman dari akhir yang buruk. Mereka justru semakin giat beribadah dan banyak berdoa, “Ya Allah, tetapkanlah kami dengan perkataan yang teguh dalam kehidupan dunia dan di akhirat.”
Kesimpulan Praktis
- Yakinlah bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan manusia dengan tahapan yang sempurna sebagai bukti kebesaran-Nya.
- Jangan pernah meremehkan dosa, karena dosa kecil yang terus-menerus bisa membawa seseorang kepada akhir yang buruk.
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena seseorang yang tampak jauh dari kebaikan bisa mendapat hidayah di akhir hayatnya.
- Perbanyak doa memohon husnul khatimah, terutama doa yang diajarkan Nabi ﷺ: “Ya Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
- Seimbangkan antara takdir dan usaha: beramallah dengan sungguh-sungguh, namun tetap bertawakkal kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.