Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini (Shahih Muslim no. 2641) adalah riwayat ringkas dari Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, yang isinya sama dengan hadits terkenal: seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ tentang seseorang yang mencintai suatu kaum tetapi belum bisa menyamai amal mereka. Nabi ﷺ menjawab bahwa setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Intinya: cinta kepada orang saleh adalah perkara besar, dan cinta yang benar akan membuahkan kedekatan di akhirat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits pokok yang dimaksud (yang diisyaratkan oleh riwayat ringkas ini) adalah hadits Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu:
عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قِيلَ لِلنَّبِيِّ ﷺ: الرَّجُلُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمْ يَلْحَقْ بِهِمْ؟ قَالَ: «الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ»
Terjemahan: Dari Abu Musa, ia berkata: Dikatakan kepada Nabi ﷺ, "Seseorang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum bisa menyusul (menyamai amal) mereka?" Beliau bersabda, "Seseorang akan bersama orang yang dicintainya." (HR. Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, Bab al-Mar'u Ma'a Man Ahabba)
Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar makna ini:
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
QS. An-Nisa' [4]: 69
Terjemahan: "Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman."
Keterkaitan dengan ulama daftar:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan hadits ini sebagai dalil keutamaan mencintai orang saleh dan ahli ilmu, serta bahwa cinta itu tanda iman.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan seseorang yang mencintai ahli kebaikan akan bersama mereka, meski amalnya belum menyamai.
- Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menegaskan bahwa cinta kepada orang saleh adalah sebab berkumpul bersama mereka di akhirat.
Penjelasan Rinci
Hadits ini sangat singkat karena Imam Muslim meriwayatkan dengan jalan lain (mengikuti hadits Jarir dari al-A'masy), sehingga maknanya diambil dari hadits pokok yang sudah masyhur. Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu menyampaikan bahwa seorang lelaki bertanya kepada Nabi ﷺ tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, namun belum bisa beramal seperti mereka. Pertanyaan ini muncul dari keinginan hati yang tulus, tetapi disertai kesadaran bahwa amal belum menyamai.
Jawaban Nabi ﷺ, "Seseorang akan bersama orang yang dicintainya," adalah jawaban yang menenangkan sekaligus menggetarkan. Menenangkan, karena cinta yang benar kepada orang saleh tidak sia-sia. Menggetarkan, karena cinta juga akan menentukan dengan siapa kita dikumpulkan di akhirat.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan cinta kepada Allah, Rasul-Nya, para ulama, dan orang-orang saleh. Beliau juga menegaskan bahwa seseorang yang mencintai mereka karena kebaikan dan agamanya akan mendapat kemuliaan bersama mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa cinta di sini bukan sekadar klaim lisan, tetapi cinta yang mendorong untuk mengikuti dan mendekati amal mereka semampunya.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa berkumpulnya seseorang dengan yang dicintainya di akhirat adalah buah dari cinta yang benar di dunia. Karena itu, seorang mukmin hendaknya memilih siapa yang dicintai dengan hati-hati: cinta kepada ahli ilmu, ahli ibadah, dan ahli sunnah akan mengangkat derajatnya.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar, tidak ada pertentangan dalam memahami hadits ini. Semuanya sepakat bahwa cinta kepada orang saleh adalah sebab berkumpul bersama mereka, dan bahwa cinta yang benar akan tampak pada usaha mengikuti jejak mereka. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa cinta harus disertai usaha mendekati amal mereka, bukan hanya klaim kosong.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang Arab badui datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya tentang kiamat. Ketika Nabi ﷺ menyebutkan bahwa kiamat akan datang, ia bertanya, "Apa yang harus aku persiapkan?" Nabi ﷺ bertanya, "Apa yang telah engkau persiapkan?" Ia menjawab, "Aku tidak mempersiapkan banyak shalat, puasa, atau sedekah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya." Nabi ﷺ bersabda, "Engkau akan bersama orang yang engkau cintai." (Makna ini disebutkan dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim, dan dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim)
Hikmahnya: cinta yang tulus kepada Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang saleh adalah bekal yang sangat berharga, bahkan ketika amal kita masih sedikit. Namun cinta yang benar akan mendorong kita untuk terus memperbaiki diri, bukan berhenti pada perasaan saja.
Kesimpulan Praktis
- Pilihlah teman dan orang yang kita cintai dari kalangan orang saleh, ahli ilmu, dan ahli sunnah, karena cinta akan menentukan dengan siapa kita dikumpulkan.
- Jangan meremehkan cinta yang tulus meskipun amal masih sedikit; tetapi jangan pula berhenti pada klaim cinta tanpa usaha mengikuti jejak orang yang dicintai.
- Perbanyak doa agar Allah mengumpulkan kita bersama Nabi ﷺ, para sahabat, dan orang-orang saleh di akhirat.
- Jauhi cinta kepada orang-orang yang jauh dari agama, karena cinta kepada mereka akan membawa penyesalan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.