Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa setiap jiwa manusia telah diciptakan dalam kelompok-kelompok yang memiliki kecenderungan dan tabiat tertentu. Pertemuan di dunia bukanlah kebetulan, melainkan karena adanya kesesuaian jiwa yang telah ditetapkan sejak alam ruh. Kesesuaian ini mendorong persatuan dalam kebaikan, sedangkan pertentangan tabiat menyebabkan perpecahan. Ini menjadi pelajaran agar kita memilih teman yang baik dan mendekatkan diri kepada orang-orang shalih.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-A'raf [7]: 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَآ ۛ أَن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَٰفِلِينَ
"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang punggung) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?' Mereka menjawab, 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.'"
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, Bab al-Arwah Junudun Mujannadah, no. 2638, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (16/107) menjelaskan bahwa para ulama memiliki dua pendapat utama tentang makna hadits ini:
- Pendapat pertama (diriwayatkan dari Al-Khattabi dan lainnya): Jiwa-jiwa itu diciptakan dalam bentuk kelompok-kelompok yang saling mengenal di alam ruh sebelum diciptakannya jasad. Ketika berada di dunia, jiwa-jiwa yang serupa tabiatnya akan saling tertarik dan bersatu, sedangkan yang berbeda akan saling menjauh.
- Pendapat kedua (diriwayatkan dari Al-Muhallab dan lainnya): Maknanya adalah bahwa jiwa-jiwa itu memiliki tabiat dan watak yang berbeda-beda. Jiwa yang baik cenderung kepada kebaikan, jiwa yang jahat cenderung kepada kejahatan. Maka orang-orang shalih akan senang berkumpul dengan sesama shalih, dan orang-orang fajir akan senang dengan sesama fajir.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam (2/309) menambahkan bahwa hadits ini juga menunjukkan bahwa perbedaan tabiat dan kecenderungan jiwa adalah fitrah yang telah Allah tetapkan. Namun, seorang mukmin tetap diperintahkan untuk berusaha memperbaiki diri dan memilih lingkungan yang baik.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat hubungan antarmanusia. Rasulullah ﷺ mengumpamakan jiwa-jiwa manusia sebagai "pasukan yang terorganisir" (جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ). Ini menunjukkan bahwa setiap jiwa memiliki peran dan posisi yang telah ditentukan oleh Allah.
Makna "saling mengenal" (تَعَارَفَ):
Para ulama seperti Imam Al-Khattabi dan Imam Al-Muhallab (sebagaimana dinukil oleh Imam an-Nawawi) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "saling mengenal" di sini bukan sekadar pengenalan fisik di dunia, melainkan kesesuaian tabiat dan kecenderungan jiwa. Jiwa yang diciptakan dari "kelompok" yang sama akan merasakan kedekatan dan keakraban meskipun baru pertama kali bertemu. Sebaliknya, jiwa yang berasal dari kelompok yang berbeda akan merasakan ketidakcocokan dan keterasingan.
Makna "saling bersatu" (ائْتَلَفَ) dan "saling berpisah" (اخْتَلَفَ):
Imam Ibn Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (6/367) menjelaskan bahwa persatuan di sini adalah persatuan dalam kebaikan dan ketakwaan, sedangkan perpisahan adalah perpisahan dalam keburukan dan kemaksiatan. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini tidak boleh dipahami secara fatalistik (pasrah tanpa usaha), melainkan sebagai petunjuk agar kita memilih teman yang baik.
Penerapan dalam kehidupan:
- Memilih teman: Seorang mukmin hendaknya mendekatkan diri kepada orang-orang shalih yang membantunya dalam ketaatan, karena jiwa mereka akan saling menguatkan.
- Menjauhi lingkungan buruk: Jika seseorang merasa tidak cocok dengan suatu lingkungan karena penuh maksiat, itu adalah isyarat dari Allah untuk menjauh.
- Memperbaiki diri: Jika kita ingin mendapatkan teman yang baik, maka kita sendiri harus berusaha menjadi pribadi yang baik.
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarij as-Salikin (2/335) menambahkan bahwa hadits ini juga menjadi dalil tentang adanya alam ruh (alam arwah) sebelum kehidupan dunia, di mana jiwa-jiwa saling mengenal dan berkelompok sesuai dengan ketaatan atau kemaksiatan mereka.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:
> "Rasulullah ﷺ bersabda, 'Jiwa-jiwa itu seperti pasukan yang terorganisir. Yang saling mengenal di antara mereka akan bersatu, dan yang saling tidak mengenal akan berpisah.'" (HR. Muslim)
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Hikmah yang dapat diambil adalah bahwa pertemuan kita dengan orang-orang shalih bukanlah kebetulan. Allah telah menakdirkan jiwa-jiwa yang baik untuk saling bertemu dan saling menguatkan dalam kebaikan. Sebaliknya, jika kita merasa tidak cocok dengan suatu lingkungan yang penuh kemaksiatan, itu adalah peringatan dari Allah agar kita menjauh.
Kesimpulan Praktis
- Pilih teman yang shalih karena jiwa yang baik akan saling menarik dan menguatkan dalam ketaatan.
- Jauhi lingkungan buruk karena jiwa yang tidak cocok akan menimbulkan konflik dan menjauhkan dari kebaikan.
- Perbaiki diri sendiri agar jiwa kita termasuk dalam kelompok jiwa-jiwa yang baik.
- Yakinlah bahwa pertemuan dengan orang shalih adalah takdir Allah yang patut disyukuri.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.