Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk tidak meremehkan orang yang terlihat hina dan miskin di mata manusia. Boleh jadi, orang yang rambutnya kusut, pakaiannya lusuh, dan sering diusir dari pintu-pintu orang kaya, justru memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah. Saking tingginya kedudukan mereka, jika mereka bersumpah kepada Allah dengan sungguh-sungguh, Allah akan mengabulkan sumpah mereka. Ini adalah pelajaran berharga tentang hakikat kemuliaan di sisi Allah, yang tidak diukur dengan harta, pangkat, atau penampilan.
Rujukan Ulama & Dalil
Al-Qur'an
QS. Al-Hujurat [49]: 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Hadits
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Kebaikan, Silaturahmi, dan Etika, Bab Keutamaan Orang-orang Lemah dan Tersembunyi, nomor 2622. Perawinya adalah Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Penjelasan Ulama
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang tawadhu' (rendah hati) dan tidak terkenal di kalangan manusia. Mereka adalah orang-orang yang zuhud terhadap dunia dan sibuk dengan urusan akhirat. Mereka seringkali dipandang hina oleh manusia karena penampilan mereka yang sederhana, namun di sisi Allah mereka adalah wali-wali-Nya yang mulia.
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari juga menyinggung makna hadits ini, bahwa "asy'ats" (rambut acak-acakan) dan "madfu'" (terusir) menggambarkan kondisi fisik yang tidak terurus dan status sosial yang rendah. Namun, Allah justru memuliakan mereka karena keikhlasan dan ketakwaan mereka.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
- Hakikat Kemuliaan: Kemuliaan sejati bukan terletak pada penampilan fisik, kekayaan, atau status sosial. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menekankan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah hanyalah ketakwaan. Orang yang paling bertakwa adalah yang paling mulia, meskipun ia seorang budak Habsyi yang hitam dan miskin.
- Larangan Meremehkan Orang Lain: Hadits ini adalah peringatan keras bagi kita agar tidak meremehkan atau menghina orang lain yang terlihat lemah dan miskin. Boleh jadi, orang yang kita anggap hina itu lebih dicintai Allah daripada kita. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal sangat tawadhu' dan tidak pernah meremehkan orang miskin.
- Keutamaan Tawadhu' dan Zuhud: Sifat "asy'ats" (rambut kusut) dan "madfu'" (terusir) seringkali merupakan gambaran orang yang tidak peduli dengan perhiasan dunia dan sibuk dengan urusan akhirat. Mereka adalah orang-orang yang zuhud, yaitu tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Imam Fudail bin 'Iyadh rahimahullah berkata, "Zuhud adalah merasa cukup dengan Allah dan tidak merasa butuh kepada manusia."
- Kekuatan Doa Orang yang Teraniaya dan Tawadhu': Frasa "law aqsama 'alallahi la abarrah" (jika dia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah akan memenuhinya) menunjukkan betapa mustajabnya doa dan permohonan mereka. Ini karena hati mereka bersih dari kesombongan dan kecintaan dunia, sehingga doa mereka lebih ikhlas dan dekat kepada Allah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa doa orang yang terzalimi, orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua untuk anaknya adalah doa yang mustajab.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Aku berdiri di pintu surga, maka aku melihat bahwa kebanyakan orang yang memasukinya adalah orang-orang miskin. Sedangkan orang-orang kaya tertahan (untuk dihisab). Adapun penghuni neraka telah diperintahkan untuk dibawa ke neraka." (HR. Bukhari dan Muslim).
Kisah ini menunjukkan bahwa mayoritas penghuni surga adalah orang-orang yang di dunia hidup sederhana dan tidak memiliki kekayaan berlebih. Mereka tidak disibukkan oleh harta sehingga lebih mudah untuk beribadah dan bertakwa. Ini bukan berarti orang kaya tidak bisa masuk surga, tetapi mereka memiliki tanggung jawab yang lebih berat dalam mengelola hartanya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah meremehkan orang lain, terutama yang miskin, sederhana, atau memiliki kekurangan fisik. Boleh jadi mereka lebih mulia di sisi Allah.
- Latihlah diri untuk bersikap tawadhu' (rendah hati) dan tidak sombong dengan harta, pangkat, atau penampilan.
- Berbaik sangkalah kepada sesama muslim, dan jangan menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya.
- Perbanyaklah berdoa, terutama di waktu-waktu mustajab, dan jangan meremehkan doa orang-orang yang terlihat lemah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.