Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita larangan keras untuk berputus asa dari rahmat Allah dan menghakimi nasib seseorang di akhirat. Seorang laki-laki yang merasa dirinya shalih berkata bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa orang lain, lalu Allah murka dan justru mengampuni orang yang dianggapnya buruk, serta menghapus amal orang yang sombong tersebut. Ini menunjukkan betapa besarnya bahaya merasa aman dari siksa Allah dan berburuk sangka kepada sesama muslim.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Kebaikan, Silaturahmi, dan Etika, Bab Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah Ta'ala, nomor 2621, dari sahabat Jundab bin Abdullah Al-Bajali radhiyallahu 'anhu.
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (16/173) menjelaskan bahwa hadits ini adalah peringatan keras agar seseorang tidak berputus asa dari rahmat Allah dan tidak merasa bahwa amalnya lebih baik dari orang lain. Beliau berkata, "Dalam hadits ini terdapat larangan dari menganggap remeh rahmat Allah dan berburuk sangka kepada-Nya, serta larangan dari merasa aman dari makar Allah."
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin (2/336) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahaya ujub (bangga diri) dan merendahkan orang lain. Beliau berkata, "Janganlah engkau merasa bahwa amalmu lebih besar dari amal orang lain, karena bisa jadi orang yang engkau anggap hina di sisi Allah lebih mulia darimu."
Penjelasan Rinci
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jundab bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Kisahnya adalah ada seorang laki-laki yang bersumpah dengan nama Allah, "Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan." Maksudnya, ia merasa yakin bahwa orang tersebut tidak akan diampuni karena dosa-dosanya yang besar. Laki-laki ini mungkin merasa dirinya sangat shalih dan beramal banyak, sehingga ia berani bersumpah atas nama Allah tentang nasib orang lain.
Allah Ta'ala murka dengan perkataan ini. Allah berfirman, "Siapakah dia yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sungguh Aku telah mengampuni si fulan dan menghapus amalmu." Ini adalah teguran keras dari Allah. Orang yang bersumpah itu justru amalnya dihapus karena kesombongannya, sementara orang yang dianggapnya buruk diampuni dosanya.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (11/340) ketika membahas hadits serupa dari riwayat Abu Dawud menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besarnya dosa seseorang yang memvonis orang lain masuk neraka atau tidak diampuni. Beliau berkata, "Tidak boleh bagi seorang muslim untuk memastikan bahwa seseorang tertentu masuk surga atau neraka, karena urusan itu hanya milik Allah."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Bahjatul Qulubil Abrar (hal. 120) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan dua hal penting. Pertama, larangan berputus asa dari rahmat Allah, karena rahmat Allah sangat luas dan bisa menjangkau siapa saja yang dikehendaki-Nya. Kedua, larangan merasa aman dari siksa Allah, karena seseorang yang merasa aman bisa jadi justru celaka.
Imam Al-Qurthubi rahimahullah (salah satu ulama tafsir yang juga dirujuk oleh ulama dalam daftar) dalam Al-Mufhim (6/97) berkata, "Hadits ini adalah peringatan bagi orang-orang yang suka merendahkan orang lain dan menganggap dirinya lebih baik. Hendaknya setiap muslim takut kepada Allah dan tidak berburuk sangka kepada sesama muslim."
Story Telling
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, beliau berkata, "Dulu ada seorang laki-laki ahli ibadah di kalangan Bani Israil. Ia sangat tekun beribadah selama 70 tahun. Suatu hari ia melihat seorang laki-laki yang dikenal sebagai pendosa besar. Maka ia berkata, 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni orang ini.' Maka Allah mewahyukan kepadanya, 'Engkau telah bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni dia? Sungguh Aku telah mengampuni dia dan menghapus amalmu selama 70 tahun.' Laki-laki itu pun menyesal dan berkata, 'Ya Allah, aku hanya seorang hamba yang lemah, ampunilah aku.' Maka Allah berfirman, 'Sungguh Aku telah mengampunimu, dan Aku tidak akan menghapus amal seorang hamba yang bertobat.'" (Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam At-Tawadhu' wal Khumul dan disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam).
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita tidak boleh merendahkan orang lain dan merasa amal kita lebih baik. Bisa jadi orang yang kita anggap hina di sisi Allah justru lebih dicintai-Nya karena keikhlasan atau tobatnya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah atas diri sendiri maupun orang lain, karena rahmat Allah sangat luas.
- Jangan menghakimi nasib seseorang di akhirat, karena urusan surga dan neraka hanya milik Allah.
- Jauhilah sifat ujub (bangga diri) dan merasa lebih baik dari orang lain, karena bisa menghapus amal.
- Perbanyaklah berprasangka baik kepada sesama muslim dan berdoa untuk kebaikan mereka.
- Jika melihat orang berbuat dosa, doakanlah ia mendapat hidayah, jangan mencela atau memvonisnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.