Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits Qudsi yang sangat agung. Ia menjelaskan bahwa sifat 'izzah (kemuliaan) dan kibr (kebesaran) adalah dua sifat khusus milik Allah Ta'ala semata. Siapa saja yang menyaingi atau merebut kedua sifat ini, baik dengan merasa dirinya mulia, sombong, atau takabbur di hadapan hamba-hamba Allah yang lain, maka dia telah menentang Allah dan berhak mendapatkan siksa-Nya. Hadits ini adalah peringatan keras agar kita senantiasa menjauhi sifat sombong dan selalu merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama manusia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Birr wash-Shilah wal-Adab, Bab Tahrimil-Kibr (Bab Pengharaman Sombong), no. 2620, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma.
Teks Hadits (Arab berharakat):
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ الأَزْدِيُّ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الأَغَرِّ، أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالاَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " الْعِزُّ إِزَارُهُ وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ "
Terjemahan: Dari Abu Sa'id Al-Khudri dan Abu Hurairah radhiyallahu 'anhuma, keduanya berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Kemuliaan adalah sarung-Ku, dan Kebesaran adalah selendang-Ku. Maka barangsiapa menyaingi-Ku pada salah satu dari keduanya, niscaya Aku akan menyiksanya.'"
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Isra' [17]: 37:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah Allah mengkhususkan sifat 'izzah dan kibr bagi diri-Nya, dan keduanya adalah sifat yang tidak layak bagi makhluk. Barangsiapa yang bersifat dengan salah satu dari keduanya dengan cara menentang Allah, maka dia berhak mendapat azab.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul-Bari (saat mensyarah hadits serupa dalam Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa memakai "izar" (sarung) dan "rida'" (selendang) adalah permisalan bahwa kedua sifat itu sangat melekat pada Allah, sebagaimana pakaian yang melekat pada tubuh. Menyaingi Allah dalam hal ini adalah bentuk kezaliman yang paling besar.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa poin penting dari hadits ini:
1. Makna "Al-'Izzu" (Kemuliaan) dan "Al-Kibriya'" (Kebesaran)
- Al-'Izz adalah sifat yang membuat seseorang tidak terkalahkan dan tidak tunduk kepada siapa pun. Ini adalah sifat Allah yang mutlak. Makhluk tidak boleh merasa memiliki kemuliaan yang hakiki, karena semua kemuliaan hanyalah milik Allah. Jika seorang hamba merasa mulia karena kekayaan, kedudukan, atau keturunan, maka itu adalah bentuk penentangan terhadap Allah.
- Al-Kibriya' adalah sifat kebesaran dan keagungan yang sempurna. Ini adalah sifat yang tidak layak bagi makhluk. Sifat ini mencakup kesombongan yang tercela. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa kesombongan yang diharamkan adalah merasa dirinya lebih besar dari orang lain dan menolak kebenaran.
2. Permisalan "Sarung" dan "Selendang"
Imam Al-Qurthubi (dalam tafsirnya, meski tidak termasuk dalam daftar rujukan, namun penjelasan ini sejalan dengan ulama lain) dan para ulama menjelaskan bahwa sarung (izar) adalah pakaian yang menutup bagian bawah tubuh, sedangkan selendang (rida') menutup bagian atas. Ini menunjukkan bahwa kedua sifat ini menutupi dan melekat pada Allah secara sempurna, tidak ada satu sisi pun yang kosong darinya. Artinya, seluruh aspek kemuliaan dan kebesaran hanyalah milik Allah.
3. Makna "Faman Yunazi'ni" (Barangsiapa Menyaingi-Ku)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa munaza'ah (menyaingi) berarti seseorang mencoba merebut atau bersaing dengan Allah dalam hal ini. Contohnya adalah:
- Seseorang yang sombong kepada orang lain, merasa dirinya lebih tinggi dan lebih mulia.
- Seseorang yang menolak kebenaran karena merasa malu jika mengikuti orang yang lebih rendah darinya.
- Seseorang yang merasa bangga dengan dirinya sendiri secara berlebihan.
4. Ancaman Siksa
Firman Allah "Aku akan menyiksanya" menunjukkan bahwa ini adalah dosa besar. Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa kesombongan adalah salah satu dosa yang dapat menghantarkan pelakunya ke neraka. Bahkan dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang memiliki kesombongan sebesar biji sawi di hatinya tidak akan masuk surga.
5. Perbedaan Antara Sombong dan Wibawa
Para ulama membedakan antara kibr (sombong) yang tercela dengan wibawa (keagungan yang dimiliki seorang mukmin). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa seorang mukmin boleh memiliki kewibawaan yang membuat orang lain menghormatinya, namun itu bukan karena kesombongan, melainkan karena ketakwaan dan keilmuan yang Allah berikan. Yang terlarang adalah merasa dirinya lebih baik dari orang lain dan merendahkan mereka.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Ada tiga golongan yang tidak akan diajak bicara oleh Allah pada hari kiamat, tidak dilihat, tidak disucikan, dan bagi mereka azab yang pedih: seorang yang memiliki kelebihan air di padang pasir namun enggan memberikannya kepada musafir, seorang yang membaiat pemimpin hanya untuk kepentingan dunia, jika diberi ia ridha dan jika tidak diberi ia marah, dan seorang yang menawarkan dagangannya setelah Ashar seraya bersumpah 'Demi Allah, barang ini laku dengan harga sekian' padahal ia tahu bahwa ia bohong." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ juga bersabda tentang orang yang sombong:
"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Kisah yang sangat terkenal adalah tentang Qarun. Ia adalah orang yang sangat kaya dari kaum Nabi Musa. Karena kekayaannya, ia menjadi sombong dan berkata, "Sesungguhnya aku diberi harta ini karena ilmu yang ada padaku." Maka Allah membenamkannya beserta rumahnya ke dalam bumi. Ini adalah contoh nyata dari orang yang menyaingi Allah dalam sifat kemuliaan dan kebesaran.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi sifat sombong dalam segala bentuknya, baik sombong karena harta, kecantikan, keturunan, ilmu, maupun amal ibadah.
- Rendahkan hati di hadapan Allah dan sesama manusia. Ingatlah bahwa semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah.
- Terima kebenaran dari siapa pun datangnya, meskipun dari orang yang lebih muda atau lebih rendah statusnya.
- Jangan merendahkan orang lain atau merasa lebih mulia dari mereka, karena kemuliaan hakiki hanya milik Allah.
- Perbanyak istighfar dan memohon perlindungan Allah dari sifat sombong yang merupakan pintu masuk ke neraka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.