Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang penciptaan Nabi Adam 'alaihissalam di surga dan reaksi Iblis saat melihatnya. Iblis, yang saat itu masih berada di surga sebelum diusir, mengelilingi jasad Adam yang belum ditiupkan ruh. Ketika Iblis melihat bahwa jasad Adam itu berongga (tidak padat), ia pun memahami bahwa makhluk ini akan diciptakan dengan sifat yang tidak bisa menahan diri—yakni manusia memiliki hawa nafsu dan kelemahan, sehingga mudah tergoda dan tidak mampu bertahan dari bisikan setan. Ini menjadi pelajaran tentang kelemahan manusia dan pentingnya memohon pertolongan Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits riwayat Imam Muslim:
Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar dan sesuai dengan riwayat Shahih Muslim, Kitab al-Birr wash-Shilah wal-Adab, Bab "Khuliqal insanu 'ala ma la yamlikuhu" (Bab Manusia Diciptakan dengan Ciptaan yang Tidak Dapat Mengendalikan Diri), nomor 2611, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
QS. Thaha [20]: 115
وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِن قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا
"Dan sungguh, Kami telah memerintahkan kepada Adam dahulu, maka ia lupa, dan Kami tidak mendapatinya memiliki keteguhan tekad (yang kuat)."
Ayat ini menunjukkan bahwa Adam 'alaihissalam memiliki kelemahan dalam keteguhan tekad, yang sejalan dengan makna hadits bahwa manusia diciptakan dengan sifat yang tidak dapat mengendalikan diri sepenuhnya.
Penjelasan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "khuliqa khalaqan la yatamallaku" adalah manusia diciptakan dengan sifat lemah, tidak mampu menahan diri dari hawa nafsu dan bisikan setan. Ini bukan celaan, melainkan pemberitahuan tentang tabiat asli manusia yang membutuhkan pertolongan Allah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Keadaan Iblis sebelum diusir
Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa sebelum Allah mengusir Iblis, ia berada di surga bersama para malaikat. Saat Allah menciptakan jasad Adam dari tanah liat, Iblis berkeliling mengelilinginya untuk mengamati makhluk baru ini. Ia melihat jasad Adam yang masih berupa tanah liat yang dibentuk, belum ditiupkan ruh.
2. Makna "ajwafa" (berongga)
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan tubuh yang berongga—memiliki rongga perut dan dada. Ini berbeda dengan malaikat yang diciptakan dari cahaya tanpa hawa nafsu. Karena manusia memiliki rongga (perut), maka ia memiliki kebutuhan makan, minum, dan syahwat. Inilah yang membuat manusia mudah tergoda dan tidak mampu menahan diri sepenuhnya.
3. Reaksi Iblis
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa ketika Iblis melihat kelemahan manusia ini, ia langsung mengetahui bahwa manusia akan mudah ditaklukkan melalui hawa nafsunya. Ini menjadi strategi awal Iblis yang kemudian terbukti ketika ia berhasil menggoda Adam dan Hawa untuk memakan buah terlarang.
4. Hikmah bagi manusia
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan kemampuan diri sendiri. Manusia diciptakan dengan kelemahan, sehingga ia harus selalu memohon pertolongan Allah dan tidak merasa aman dari tipu daya setan. Namun, kelemahan ini juga menjadi pintu keutamaan—karena manusia yang menyadari kelemahannya akan lebih dekat kepada Allah melalui doa dan ibadah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Allah menciptakan Adam 'alaihissalam, para malaikat melewati jasadnya yang masih berupa tanah liat. Sebagian mereka merasa takjub, namun Iblis—yang saat itu masih bersama mereka—berkata dengan penuh kesombongan: "Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk ini untuk suatu tujuan, dan aku akan menguasainya." Ia berkeliling mengelilingi jasad Adam, menepuk-nepuknya, dan berkata: "Engkau diciptakan untuk suatu urusan, dan aku akan memperdayaimu."
Ketika Allah meniupkan ruh ke dalam jasad Adam, ruh masuk melalui kepala, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Adam bersin dan mengucapkan "Alhamdulillah", dan Allah menjawabnya dengan rahmat. Namun Iblis tetap pada kesombongannya, menolak sujud ketika diperintahkan, dan berkata: "Aku lebih baik darinya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah." (QS. Al-A'raf [7]: 12)
Hikmah dari kisah ini: Kelemahan manusia bukan alasan untuk putus asa, tetapi justru menjadi pengingat bahwa kesombongan adalah awal kehancuran. Iblis yang kuat dan mulia jatuh karena sombong, sementara Adam yang lemah diampuni karena bertaubat.
Kesimpulan Praktis
- Sadari kelemahan diri — Manusia diciptakan dengan hawa nafsu dan kelemahan, maka jangan pernah merasa aman dari godaan setan.
- Perbanyak doa memohon perlindungan — Karena kita tidak mampu menahan diri sendiri, mintalah pertolongan Allah dengan doa seperti: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan laki-laki dan setan perempuan."
- Jauhi kesombongan — Iblis binasa karena sombong, sementara Adam diselamatkan karena taubat dan kerendahan hati.
- Gunakan kelemahan sebagai pintu ibadah — Kelemahan manusia membuatnya membutuhkan Allah, dan inilah hakikat ubudiyah (penghambaan) yang sejati.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.