Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2609 tentang Kekuatan sejati adalah mengendalikan amarah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kekuatan fisik, melainkan kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri saat marah. Orang yang mampu menahan amarahnya adalah orang yang benar-benar kuat di sisi Allah, karena ia telah mengalahkan musuh terbesarnya, yaitu hawa nafsunya sendiri.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan." (QS. Ali Imran [3]: 133-134)

Hadits:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Kebaikan, Silaturahmi, dan Etika, Bab Keutamaan Mengendalikan Diri Saat Marah, nomor 2609, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah hakikat kekuatan bukanlah pada fisik, melainkan pada jiwa. Orang yang kuat adalah yang mampu menundukkan amarahnya, karena amarah bisa membawa seseorang pada keburukan dan penyesalan.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa mengendalikan amarah adalah tanda kesempurnaan iman dan akal, karena amarah adalah api yang bisa membakar kebaikan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini datang dari jalur Imam Malik dari az-Zuhri (Muhammad bin Shihab) dari Sa'id bin al-Musayyib dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Ini adalah sanad yang sangat kuat dan mulia, karena semua perawinya adalah imam besar.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Laisa asy-syadidu bi ash-shura'ah" — Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat (menjatuhkan lawan). Kata ash-shura'ah adalah bentuk mubalaghah dari orang yang sering bergulat dan selalu menang. Maksudnya, janganlah kita mengukur kekuatan seseorang dari kemampuan fisiknya.

Kemudian beliau ﷺ bersabda: "Innama asy-syadidu alladzi yamliku nafsahu 'inda al-ghadhab" — Sesungguhnya orang yang kuat adalah yang mampu menguasai dirinya saat marah.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa amarah adalah bara api yang diletakkan setan di hati anak Adam. Jika seseorang tidak mengendalikannya, ia bisa berkata dan berbuat sesuatu yang merusak agamanya. Maka orang yang mampu menahan amarahnya berarti ia telah mengalahkan setan dan hawa nafsunya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menafsirkan ayat al-kazhiminal ghaizh (orang-orang yang menahan amarah) bahwa menahan amarah adalah puncak kesabaran dan tanda ketakwaan. Amarah yang tidak terkendali bisa menghapus pahala dan merusak hubungan sesama.

Para ulama juga menyebutkan beberapa cara mengendalikan amarah sesuai sunnah:

  1. Membaca ta'awudz (A'udzu billahi minasy syaithanir rajim) — sebagaimana hadits riwayat Bukhari dan Muslim.
  2. Diam dan tidak berbicara — karena saat marah, kata-kata sering keluar tanpa kendali.
  3. Mengubah posisi: jika berdiri, duduk; jika duduk, berbaring — sebagaimana hadits dari Abu Dawud dan Ahmad.
  4. Berwudhu — karena air mendinginkan amarah, sebagaimana hadits riwayat Abu Dawud.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi ﷺ: "Berilah aku wasiat." Beliau bersabda: "Jangan marah." Laki-laki itu mengulangi permintaannya beberapa kali, dan setiap kali Nabi ﷺ menjawab: "Jangan marah." (HR. Bukhari)

Ini menunjukkan betapa pentingnya mengendalikan amarah. Imam Ibn Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa wasiat "jangan marah" mencakup seluruh kebaikan, karena amarah adalah sumber banyak keburukan. Orang yang mampu menahan amarahnya berarti ia telah menjaga lisannya, tangannya, dan hatinya dari dosa.

Kesimpulan Praktis

  1. Kekuatan sejati adalah kemampuan mengendalikan diri saat marah, bukan kekuatan fisik.
  2. Marah adalah ujian yang bisa menghapus pahala jika tidak dikendalikan.
  3. Amalkan sunnah saat marah: baca ta'awudz, diam, ubah posisi, dan berwudhu.
  4. Latih diri untuk bersabar dan menahan amarah, karena ini adalah ciri orang bertakwa yang dicintai Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.