Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan dua hal besar: (1) bahwa namimah (menyebarkan berita/ucapan orang untuk merusak hubungan) termasuk bentuk ghibah yang diharamkan, dan (2) bahwa kejujuran dan kedustaan itu kebiasaan — jika terus dilakukan, akan menjadi sifat yang tertulis pada diri seseorang. Maka seorang Muslim wajib menjaga lisan, menjauhi adu domba, dan membiasakan diri berkata benar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 2606), dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Imam An-Nawawi menjelaskan hadits ini dalam Syarh Shahih Muslim, dan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani membahas makna namimah dalam Fathul Bari. Ibnu Rajab al-Hanbali juga menjelaskan bahaya lisan dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam.
Ayat yang sangat terkait:
وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
QS. Al-Hujurat [49]: 12 — "Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang."
Juga firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
QS. At-Taubah [9]: 119 — "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur)."
Penjelasan Rinci
Pertama: makna "al-'adhhu" dan namimah.
Kata al-'adhhu (الْعَضْهُ) dalam hadits ini dijelaskan sendiri oleh Nabi ﷺ sebagai namimah, yaitu menyampaikan ucapan seseorang kepada orang lain dengan maksud merusak hubungan di antara mereka. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa namimah adalah salah satu dosa besar, karena ia memutus silaturahmi dan menanam permusuhan. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat mengharamkannya.
Kedua: mengapa namimah disebut ghibah?
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa namimah sering kali disertai membuka aib orang lain, sehingga ia termasuk ke dalam keharaman ghibah. Bahkan Al-Hasan al-Bashri — salah satu ulama tabi'in dalam daftar rujukan — menyatakan bahwa namimah adalah "kunci segala kejahatan", karena ia melahirkan permusuhan, kebencian, dan pemutusan hubungan.
Ketiga: makna "dicatat sebagai shiddiq atau kadzdzab".
Nabi ﷺ bersabda bahwa seseorang yang terus berkata benar akan dicatat di sisi Allah sebagai shiddiq (orang yang sangat jujur), dan yang terus berdusta akan dicatat sebagai kadzdzab (pendusta). Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa ini menunjukkan istiqamah (konsistensi) dalam berkata benar akan mengangkat derajat seseorang, sedangkan kebiasaan dusta akan menjatuhkan kehormatannya di sisi Allah. Imam An-Nawawi menambahkan bahwa ini termasuk bab adab dan tarbiyah nafs — mendidik diri untuk selalu jujur, sekalipun dalam hal kecil.
Keempat: kaitan dengan ghibah dan lisan.
Imam Ibnul Mubarak (Abdullah bin al-Mubarak) — salah satu ulama tabi'ut tabi'in dalam daftar — pernah berkata bahwa menjaga lisan lebih berat daripada menjaga harta. Fudail bin 'Iyadh juga menekankan bahwa lisan adalah anggota tubuh yang paling banyak menjerumuskan manusia. Karena itu, hadits ini mengajarkan dua hal sekaligus: menjauhi namimah dan membiasakan kejujuran.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang lelaki datang kepada Al-Hasan al-Bashri dan berkata, "Aku mendengar seseorang menjelekkanmu." Al-Hasan al-Bashri justru tersenyum dan berkata, "Sesungguhnya setan ingin agar aku membalas dengan cara yang sama, sehingga aku menjadi seperti dia. Aku tidak akan menyampaikan berita itu kepada siapa pun." (Kisah ini masyhur dalam kitab-kitab adab salaf, disebutkan secara makna oleh para ulama seperti Ibnu Rajab dalam pembahasan bahaya lisan.)
Hikmahnya: orang yang mendengar namimah seharusnya tidak menyebarkannya, bahkan menasihati pelakunya dengan lembut. Inilah adab yang diajarkan para salaf.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi namimah — jangan menyampaikan ucapan orang lain untuk merusak hubungan.
- Jauhi ghibah — jangan membicarakan aib saudara tanpa kebutuhan syar'i.
- Biasakan jujur dalam perkataan kecil maupun besar, karena kejujuran mengangkat derajat.
- Jaga lisan — jika tidak ada kebaikan yang bisa diucapkan, lebih baik diam.
- Jika mendengar namimah, jangan menyebarkannya; nasihati dengan lembut atau tinggalkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.