Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah riwayat dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu tentang doa Nabi ﷺ bagi orang yang beliau cela atau laknat tanpa hak, agar hal itu menjadi zakat (penyuci) dan pahala baginya. Ini menunjukkan betapa lembut dan mulianya akhlak Nabi ﷺ, serta menjadi pelajaran bagi kita untuk berhati-hati menjaga lisan dan tidak mudah melaknat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, Bab "Man La'anahu an-Nabi ﷺ aw Sabbahu" (Bab tentang siapa yang dilaknat atau dihina oleh Nabi ﷺ), nomor 2602, dari sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu.
Lafaz lengkap hadits ini dalam riwayat lain (yang menjadi induk maknanya) berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ، فَأَيُّ الْمُسْلِمِينَ لَعَنْتُهُ أَوْ سَبَبْتُهُ، فَاجْعَلْهُ لَهُ زَكَاةً وَأَجْرًا
"Ya Allah, sesungguhnya aku hanyalah manusia. Maka siapa pun dari kaum muslimin yang aku laknat atau aku cela, jadikanlah itu sebagai zakat dan pahala baginya."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari beberapa sahabat seperti Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhum, dengan lafaz yang beragam namun maknanya sama.
Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan akhlak Nabi ﷺ:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
"Dan Kami tidak mengutusmu (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya' [21]: 107)
Penjelasan Rinci
Hadits ini termasuk hadits yang sangat agung dalam bab akhlak dan adab. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sebagai manusia biasa bisa saja marah atau tergesa dalam ucapan, namun beliau tidak pernah menzalimi siapa pun. Karena itu, beliau berdoa kepada Allah agar jika ada celaan atau laknat yang keluar dari lisan beliau terhadap seorang muslim tanpa hak, maka hal itu dijadikan sebagai penyuci (zakat) dan pahala baginya di akhirat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "zakat" di sini bermakna penyucian dari dosa, sedangkan "ajr" bermakna pahala. Jadi doa Nabi ﷺ ini justru mendatangkan kebaikan bagi orang yang beliau cela, bukan keburukan. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah mendoakan keburukan secara serius terhadap seorang mukmin, karena beliau adalah rahmat bagi seluruh alam.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, keutamaan akhlak Nabi ﷺ yang penuh kasih sayang; kedua, peringatan bagi kita agar tidak mudah melaknat atau mencela sesama muslim, karena lisan adalah pintu besar menuju dosa.
Para ulama seperti Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah juga menekankan bahwa laknat Nabi ﷺ dalam hadits ini bukanlah laknat yang keluar dari kebencian, melainkan bisa jadi karena ijtihad beliau sebagai manusia, atau karena keadaan tertentu, dan beliau sendiri berdoa agar tidak menjadi mudarat bagi seorang mukmin. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus berhati-hati dalam berdoa dan berbicara.
Adapun variasi lafaz dalam riwayat Jabir ini ("zakaatan wa ajran") menegaskan makna yang sama dengan riwayat lain, yaitu bahwa doa Nabi ﷺ itu menjadi penyuci dan pahala, bukan siksa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ pernah mendoakan keburukan bagi sebagian orang yang berbuat zalim, atau mencela seseorang dalam keadaan marah. Para sahabat pun merasa khawatir, lalu beliau menjelaskan bahwa beliau hanyalah manusia biasa yang bisa marah sebagaimana manusia lain. Karena itu beliau berdoa kepada Allah agar celaan atau laknatnya terhadap seorang muslim dijadikan sebagai zakat dan pahala. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dan lainnya).
Hikmahnya: seorang pemimpin, guru, atau orang tua hendaknya berhati-hati dalam berkata, dan jika terlanjur mencela tanpa hak, hendaklah segera memohon ampun dan mendoakan kebaikan bagi orang tersebut.
Kesimpulan Praktis
- Jagalah lisan dari melaknat dan mencela sesama muslim, karena itu bukan akhlak Nabi ﷺ.
- Jika terlanjur mencela seseorang tanpa hak, segera bertaubat dan doakan kebaikan baginya.
- Teladani kelembutan dan kasih sayang Nabi ﷺ dalam bergaul dengan manusia.
- Yakinlah bahwa doa kebaikan lebih bermanfaat daripada doa keburukan.
- Pelajari hadits ini melalui penjelasan ulama seperti an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibn Rajab agar memahami maknanya dengan benar.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.