Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits Qudsi ini adalah fondasi tauhid dan akhlak. Dua inti utamanya: pertama, Allah mengharamkan kezaliman atas diri-Nya sendiri dan menjadikannya haram di antara hamba, sehingga kita harus menjauhi segala bentuk kezaliman. Kedua, seluruh kebutuhan dan kesempurnaan hamba hanyalah dari Allah semata, dan amal perbuatan kita akan dibalas tepat, tidak ada celah untuk menyalahkan selain diri sendiri saat menemui kejelekan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits: Shahih Muslim, Kitab Al-Birr wash Shilah wal Aadab, Bab Tahrimizh Zhulmi, nomor 2577, dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Teks lengkap telah disebutkan dalam pertanyaan.
Ayat Al-Qur'an pendukung (tentang larangan kezaliman dan pengampunan):
QS. Az-Zumar [39]: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
Para ulama yang menjelaskan hadits ini:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (16/136-137) menjelaskan bahwa hadits ini mengandung penetapan bahwa kezaliman haram secara mutlak, dan bahwa Allah Mahakaya, tidak terpengaruh oleh ketaatan atau kemaksiatan hamba.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (13/477-478) saat membahas hadits serupa dalam Shahih Bukhari (no. 7385) menekankan bahwa hadits ini menjadi rujukan dalam masalah tauhid dan tawakal.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (1/554-566) mengupas hadits ini sebagai hadits yang menghimpun pokok-pokok agama: keadilan, tauhid, tawakal, dan kehati-hatian dalam beramal.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin (4/278-290) menjelaskan secara rinci tentang makna “Aku haramkan kezaliman atas diri-Ku” dan implikasinya bagi akhlak hamba.
Penjelasan Rinci
1. Larangan Kezaliman dan Keadilan Allah
Hadits ini dimulai dengan pernyataan Allah: “Sesungguhnya Aku telah mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan menjadikannya haram di antara kalian.” Imam an-Nawawi berkata: “Ini menunjukkan bahwa kezaliman adalah perbuatan yang sangat buruk. Allah sendiri Mahasuci dari kezaliman, lalu Dia menjadikannya haram bagi hamba.” Artinya, Allah tidak akan pernah berlaku zalim kepada siapa pun; setiap hukuman dan pahala-Nya adalah adil. Karena itu, kita pun dilarang saling menzalimi dalam bentuk apa pun: harta, kehormatan, jiwa, maupun perasaan.
2. Kebutuhan Mutlak Hamba kepada Allah
Bagian kedua hadits menyebutkan bahwa seluruh hamba pada dasarnya sesat, lapar, dan telanjang – yaitu sangat membutuhkan petunjuk, makanan, dan pakaian dari Allah. Ibnu Rajab menjelaskan: “Ini mengajarkan bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk, rezeki, atau perlindungan kecuali Allah. Maka dari itu, hamba hendaknya senantiasa memohon langsung kepada-Nya.” Bahkan jika seluruh makhluk berdosa, hal itu tidak mengurangi sedikit pun kekuasaan Allah, sebagaimana disebut dalam sabda: “Tidak akan menambah dalam kekuasaan-Ku sedikit pun.” Hal ini menegaskan kekayaan mutlak Allah dan ketidakbutuhan-Nya terhadap amal hamba, seperti ditegaskan oleh Syeikh al-Utsaimin.
3. Pengampunan Dosa dan Anjuran Istigfar
“Kalian berbuat dosa di malam dan siang hari, dan Aku mengampuni semua dosa.” Ibnu Hajar dalam Fathul Bari mengutip hadits ini untuk menunjukkan luasnya rahmat Allah. Allah menjanjikan pengampunan bagi siapa saja yang memohon ampun. Namun perlu diingat, pengampunan ini adalah untuk dosa-dosa yang tidak berkaitan dengan hak sesama makhluk; untuk dosa kezaliman terhadap sesama, harus ada taubat dengan mengembalikan hak atau meminta maaf.
4. Akhir Hadits: Catatan Amal dan Balasan
Ayat terakhir “Sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian yang Aku catat untuk kalian…” – Imam an-Nawawi berkata: “Maka barangsiapa menemukan kebaikan, pujilah Allah; barangsiapa mendapatkan keburukan, jangan menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” Ini karena Allah telah memberikan petunjuk dan kemampuan, serta mencatat dengan adil. Tidak ada ketidakadilan sedikit pun dari Allah. Syeikh al-Utsaimin menekankan bahwa kesalahan sepenuhnya berada di pihak hamba yang lalai atau durhaka.
Story Telling
Abu Idris al-Khaulani dan Sikap Khidmat terhadap Hadits
Disebutkan dalam riwayat Sa’id bin Abdul Aziz bahwa Abu Idris al-Khaulani – seorang tabi’in terkemuka, murid Abu Dzar dan Muadz – ketika meriwayatkan hadits ini, beliau berlutut dengan kedua lututnya sebagai bentuk penghormatan dan rasa takut yang mendalam kepada firman Allah dalam hadits Qudsi ini. Al-Hasan al-Bashri (ulama dalam daftar) sering mengatakan bahwa orang yang benar-benar memahami hadits ini akan merasa hina di hadapan Allah dan sangat takut berbuat zalim. Sikap Abu Idris ini menjadi teladan bagi kita untuk menyambut kalam Allah dengan adab yang tinggi, merenungkannya, dan mengamalkannya.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi segala bentuk kezaliman – terhadap diri sendiri, keluarga, tetangga, atau siapa pun. Zalim termasuk menyakiti, menipu, dan tidak memberi hak.
- Mintalah segala kebutuhan hanya kepada Allah – petunjuk, rezeki, pakaian, dan ampunan. Jangan bergantung pada makhluk secara mutlak.
- Perbanyak istigfar setiap malam dan siang, karena kita sering lalai dan berdosa.
- Jangan sombong dengan ibadah – karena ketaatan kita tidak menambah sedikit pun pada kekuasaan Allah; kita hanya butuh rahmat-Nya.
- Jika melihat keburukan pada diri, jangan menyalahkan takdir atau orang lain, tetapi introspeksi dan taubat. Jika melihat kebaikan, pujilah Allah yang memberi taufik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.