Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dorongan yang sangat kuat dari Nabi ﷺ untuk menyambung tali silaturahmi (hubungan kekerabatan). Hadits ini mengajarkan bahwa silaturahmi adalah sebab datangnya dua kebaikan besar: dilapangkannya rezeki dan dipanjangkannya umur. Ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ, sekaligus motivasi agar kita tidak pernah memutuskan hubungan dengan keluarga, meskipun mereka yang memulai memutuskan.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. An-Nisa' [4]: 1:
وَرَحِمَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
"...dan (peliharalah) hubungan rahim (silaturahmi). Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisa' [4]: 1)
Ayat ini memerintahkan untuk memelihara silaturahmi, dan Allah mengaitkannya dengan pengawasan-Nya, menunjukkan betapa pentingnya perkara ini.
2. Hadits yang Dimaksud:
Hadits yang Anda tanyakan adalah riwayat dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda":
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ أَوْ يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
"Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahmi." (HR. Muslim, no. 2557)
3. Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini dijelaskan oleh banyak ulama. Imam an-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "dipanjangkan umurnya" adalah dengan keberkahan umur, yaitu umurnya digunakan untuk ketaatan dan kebaikan, atau memang umurnya ditambah secara hakiki. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas hadits ini, menekankan bahwa silaturahmi adalah amalan yang mendatangkan keridhaan Allah dan keberkahan dalam hidup.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Berikut poin-poin pentingnya:
- Makna "Dilapangkan Rezekinya" (يُبْسَطَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ): Ini berarti Allah ﷻ meluaskan dan memberkahi rezeki orang tersebut. Rezeki tidak hanya berupa harta, tetapi juga kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang harmonis, dan segala bentuk kenikmatan. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa silaturahmi adalah salah satu sebab terbesar datangnya rezeki, karena di dalamnya ada saling tolong-menolong dan kasih sayang yang Allah cintai.
- Makna "Dipanjangkan Umurnya" (يُنْسَأَ فِي أَثَرِهِ): Ada dua penafsiran utama dari para ulama:
- Pertama: Umurnya benar-benar ditambah oleh Allah ﷻ di sisi-Nya, sebagaimana yang tertulis di Lauhul Mahfuzh. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah pendapat yang benar dan dipilih oleh kebanyakan ulama, karena Allah ﷻ Maha Kuasa atas segala sesuatu.
- Kedua: Umurnya diberkahi, sehingga dalam waktu yang singkat ia bisa beramal lebih banyak daripada orang yang berumur panjang tetapi lalai. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa keberkahan umur adalah anugerah terbesar, karena seseorang bisa memanfaatkan setiap detiknya untuk kebaikan.
Kedua penafsiran ini benar dan tidak bertentangan. Silaturahmi adalah sebab untuk mendapatkan keduanya: umur yang panjang secara hakiki dan umur yang berkah.
- Silaturahmi yang Bagaimana? Silaturahmi bukan hanya sekedar mengunjungi, tetapi juga mencakup:
- Menjaga komunikasi (menelepon, berkirim kabar).
- Membantu dalam kesusahan.
- Memberi hadiah atau sedekah.
- Memaafkan kesalahan mereka.
- Mendoakan mereka dalam kebaikan.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya menekankan bahwa silaturahmi adalah menghubungkan apa yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan, yaitu dengan berbuat baik kepada kerabat. Jika mereka memutuskan, maka kita tetap menyambung. Ini adalah akhlak yang paling utama.
- Hukum Memutus Silaturahmi: Memutus silaturahmi adalah dosa besar. Ibnu Hajar al-Asqalani menukil ijma' (kesepakatan) ulama bahwa memutuskan silaturahmi adalah haram. Bahkan dalam hadits lain, disebutkan bahwa pemutus silaturahmi tidak akan masuk surga. Ini menunjukkan betapa besar bahaya perbuatan tersebut.
Story Telling
Dahulu, ada seorang laki-laki yang mengadu kepada Al-Hasan al-Bashri tentang kerabatnya yang memutuskan hubungan dengannya. Laki-laki itu berkata, "Wahai Abu Sa'id, aku punya kerabat yang selalu memutuskan hubungan denganku, tetapi aku tetap menyambungnya. Dia tidak memberiku, tetapi aku tetap memberinya. Dia berbuat jahat kepadaku, tetapi aku tetap berbuat baik kepadanya."
Maka Al-Hasan al-Bashri berkata kepadanya, "Jika engkau benar-benar seperti yang engkau katakan, maka engkau seperti orang yang memberi minum kepada orang yang dahaga dengan air yang jernih. Dan jika dia terus berbuat demikian, maka Allah akan menolongmu menghadapinya dan akan selalu menjagamu dari kejahatannya. Dan engkau akan selalu mendapat pertolongan selama engkau dalam keadaan seperti itu."
Kisah ini menunjukkan bahwa silaturahmi yang paling utama adalah ketika kita tetap berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada kita. Inilah akhlak para salafus shalih. Mereka tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi membalasnya dengan kebaikan, karena mereka yakin Allah ﷻ akan membalas kebaikan mereka dengan lebih baik.
Kesimpulan Praktis
Berikut beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Niatkan untuk mencari ridha Allah: Jadikan silaturahmi sebagai ibadah, bukan hanya sekedar formalitas atau karena kepentingan dunia.
- Mulailah dari kerabat terdekat: Dahulukan orang tua, saudara kandung, kemudian kerabat lainnya.
- Jangan pernah memutuskan, meskipun mereka yang memulai: Ini adalah ujian keikhlasan kita. Balaslah keburukan dengan kebaikan.
- Gunakan berbagai sarana: Jika tidak bisa mengunjungi, teleponlah. Jika tidak bisa menelepon, kirimlah pesan. Yang penting ada komunikasi dan perhatian.
- Perbanyak doa untuk mereka: Mendoakan kebaikan untuk kerabat adalah bagian dari silaturahmi yang paling ringan namun sangat besar pahalanya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.