Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2551 tentang Kerugian besar bagi yang durhaka pada orang tua

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua, terutama saat mereka telah lanjut usia. Rasulullah ﷺ menyebut "celaka" atau "terhina" bagi seseorang yang mendapati orang tuanya tua, namun tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk berbuat baik sehingga ia tidak masuk surga. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua di masa tua adalah salah satu pintu terbesar menuju surga.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):

<p>حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ " . قِيلَ مَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ " مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ " .</p>

Terjemahan: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Celakalah, celakalah, celakalah." Ditanyakan: "Siapa, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Orang yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya dalam usia lanjut, namun ia tidak masuk surga (karena tidak berbakti kepada mereka)."

Dalil Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

<p>وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا</p>

(QS. Al-Isra' [17]: 23)

Terjemahan: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."

Penjelasan Rinci

Makna "رَغِمَ أَنْفُ" (raghima anfu):

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna ungkapan ini adalah "celaka dan hina" atau "semoga hidungnya berdebu karena kehinaan." Ini adalah doa kecelakaan dari Nabi ﷺ bagi orang yang disebutkan. Ungkapan ini adalah bentuk peringatan yang sangat keras, karena disebutkan tiga kali untuk menekankan besarnya kerugian orang tersebut.

Pemahaman Ulama:

  1. Imam An-Nawawi (dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan berbakti kepada kedua orang tua. Seseorang yang memiliki orang tua yang masih hidup, terlebih di usia lanjut, memiliki peluang emas untuk meraih surga melalui pelayanan dan kebaikan kepada mereka. Jika ia menyia-nyiakan kesempatan ini, maka ia termasuk orang yang merugi.
  2. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat membahas hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa yang dimaksud "tidak masuk surga" adalah tidak masuk surga dengan mudah atau tidak masuk surga pada golongan pertama, atau bisa juga bermakna ancaman keras bagi yang durhaka. Ini bukan berarti orang yang berbuat dosa besar kekal di neraka, tetapi ini adalah peringatan bahwa durhaka kepada orang tua adalah dosa besar yang menghalangi masuk surga.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah sebab masuk surga. Jika seseorang memiliki orang tua yang masih hidup, maka ia memiliki jalan menuju surga yang terbuka lebar. Namun jika ia durhaka, maka ia telah menutup pintu itu untuk dirinya sendiri.
  4. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua dalam Al-Qur'an disebutkan langsung setelah perintah beribadah kepada Allah. Ini menunjukkan kedudukan tinggi berbakti kepada orang tua dalam Islam. Khususnya ketika orang tua mencapai usia lanjut, mereka membutuhkan perhatian, kesabaran, dan pelayanan yang lebih besar.

Penerapan dalam kehidupan:

Hadits ini mengajarkan bahwa masa tua orang tua adalah masa yang sangat berharga bagi anak. Di masa inilah anak diuji kesabarannya, keikhlasannya, dan kualitas baktinya. Anak yang melayani orang tuanya di masa tua dengan penuh kesabaran akan mendapatkan ganjaran yang sangat besar di sisi Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu — perawi hadits ini — adalah salah satu sahabat yang sangat berbakti kepada ibunya. Beliau selalu mendoakan ibunya agar diberi hidayah. Suatu hari, ibunya yang masih musyrik berkata tentang Nabi ﷺ dengan perkataan yang tidak baik. Abu Hurairah menangis dan menemui Nabi ﷺ, lalu meminta doa untuk ibunya. Nabi ﷺ mendoakannya, dan akhirnya ibunya masuk Islam. Abu Hurairah sangat bahagia dan selalu menyebut bahwa doa Nabi ﷺ telah menyelamatkan ibunya.

Kisah ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua tidak berhenti pada pelayanan fisik, tetapi juga mencakup doa dan usaha terbaik untuk kebaikan mereka, baik di dunia maupun di akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan sia-siakan orang tua yang masih hidup — mereka adalah pintu surga yang terbuka.
  2. Perbanyak pelayanan dan kebaikan kepada orang tua, terlebih di usia lanjut mereka.
  3. Jaga lisan dan sikap — jangan sampai berkata "ah" apalagi membentak mereka.
  4. Doakan mereka selalu, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.
  5. Bersabar menghadapi sifat orang tua yang mungkin sulit di masa tua — itu adalah ladang pahala.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.