Penjelasan Hadits Muslim No. 2550 tentang Utamakan berbakti kepada orang tua di atas ibadah sunnah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kisah Juraij, seorang ahli ibadah yang lebih memilih melanjutkan shalat sunnahnya daripada menjawab panggilan ibunya. Meski ia benar dalam menjaga shalat, para ulama menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua (birrul walidain) pada saat dipanggil dengan kebutuhan mendesak lebih utama daripada menyempurnakan ibadah sunnah. Kisah ini juga menunjukkan bahwa doa orang tua—baik berupa kebaikan maupun keburukan—memiliki pengaruh besar, dan Allah menyelamatkan Juraij dari fitnah karena keikhlasannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab, dari sahabat Abu Hurairah رضي الله عنه.

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar keutamaan berbakti kepada orang tua:

QS. Al-Isra' [17]: 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Terjemahan: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah sekali-kali engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menggandengkan perintah tauhid dengan perintah berbakti kepada orang tua, menunjukkan betapa agungnya kedudukan birrul walidain dalam Islam.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Kisah Juraij ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

1. Kedudukan birrul walidain di atas ibadah sunnah

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan berbakti kepada orang tua, bahkan di atas menyempurnakan shalat sunnah. Ketika seorang ibu memanggil anaknya dengan panggilan yang menunjukkan kebutuhan, maka menjawab panggilan ibu lebih utama daripada melanjutkan shalat sunnah—kecuali jika shalat tersebut adalah shalat fardhu yang sedang dikerjakan.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa para ulama sepakat bahwa menjawab panggilan orang tua pada shalat sunnah itu lebih utama, karena birrul walidain adalah kewajiban (fardhu), sedangkan shalat sunnah adalah tambahan (nafilah). Beliau menyebutkan bahwa Juraij sebenarnya tidak berdosa secara syariat pada zamannya (karena syariat sebelumnya), namun kisah ini menjadi pelajaran bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.

2. Doa orang tua mustajab

Imam an-Nawawi juga menjelaskan bahwa doa ibu Juraij dikabulkan oleh Allah. Ini menunjukkan bahwa doa orang tua—terutama ibu—memiliki kedudukan khusus di sisi Allah. Dalam hadits ini, sang ibu berdoa agar Juraij tidak mati sebelum melihat fitnah para pelacur, dan Allah mengabulkan doa tersebut sebagai ujian sekaligus penyucian bagi Juraij.

3. Allah menyelamatkan hamba yang ikhlas

Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam al-Fawa'id menjelaskan bahwa ketika Juraij difitnah, Allah membelanya dengan cara yang luar biasa—melalui bayi yang baru lahir yang bisa berbicara. Ini menunjukkan bahwa keikhlasan seorang hamba akan Allah jaga, meskipun ia diuji dengan berat.

4. Perbedaan pendapat ulama:

Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar berbeda pendapat dalam satu hal: apakah Juraij berdosa karena tidak menjawab ibunya? Ibnu Hajar berpendapat bahwa Juraij tidak berdosa karena ia sedang dalam shalat dan syariat pada zamannya mungkin berbeda. Namun Imam an-Nawawi menekankan bahwa bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, menjawab panggilan orang tua saat shalat sunnah adalah yang lebih utama.

Pendapat yang paling kuat—sebagaimana ditegaskan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar—adalah bahwa birrul walidain lebih diutamakan dalam kondisi seperti ini, selama tidak meninggalkan shalat fardhu.

5. Adab dalam beribadah:

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa seorang yang beribadah hendaknya tidak melampaui batas (ghuluw) hingga mengabaikan hak-hak orang lain, terutama orang tua. Ibadah yang benar adalah yang seimbang antara hak Allah dan hak makhluk.

Story Telling

Kisah Juraij ini adalah salah satu kisah yang disebutkan oleh Nabi ﷺ kepada para sahabatnya. Abu Hurairah رضي الله عنه meriwayatkannya dan bahkan menggambarkan dengan tangannya bagaimana ibunya Juraij meletakkan telapak tangannya di atas alisnya sambil mengangkat kepala memanggil anaknya—sebuah gambaran betapa rindunya seorang ibu.

Juraij adalah seorang ahli ibadah dari umat terdahulu yang mengasingkan diri di sebuah menara (shuma'ah) untuk beribadah. Ibunya datang memanggilnya, namun ia sedang shalat dan memilih melanjutkan shalatnya. Ibunya memanggil tiga kali, dan setiap kali Juraij memilih shalatnya.

Sang ibu kemudian berdoa: "Ya Allah, jangan matikan dia sampai dia melihat para pelacur." Doa ini bukanlah doa keburukan murni, melainkan doa agar Juraij diuji dan disadarkan akan kekeliruannya.

Allah mengabulkan doa tersebut. Seorang penggembala domba yang tinggal dekat menara Juraij berzina dengan seorang wanita desa, dan wanita itu hamil. Ketika ditanya siapa ayah anaknya, wanita itu menuduh Juraij. Orang-orang pun datang dengan kapak dan cangkul untuk menghancurkan menara Juraij.

Juraij yang sedang shalat tidak menjawab panggilan mereka. Ketika mereka mulai menghancurkan menaranya, Juraij turun dan tersenyum. Ia menyentuh kepala bayi yang baru lahir itu dan bertanya: "Siapa ayahmu?" Bayi itu menjawab: "Ayahku adalah penggembala domba."

Orang-orang terkejut dan menyesal. Mereka menawarkan membangun kembali menara Juraij dengan emas dan perak. Namun Juraij berkata: "Tidak, cukup bangun kembali dengan tanah seperti semula."

Hikmah: Ibnul Qayyim dalam al-Fawa'id menyebutkan bahwa kisah ini mengajarkan bahwa seorang hamba yang ikhlas akan Allah jaga dari fitnah, meskipun ia diuji dengan berat. Dan bahwa doa orang tua—terutama ibu—adalah doa yang mustajab.

Kesimpulan Praktis

  1. Dahulukan berbakti kepada orang tua ketika mereka memanggil dengan kebutuhan mendesak, bahkan jika sedang shalat sunnah—kecuali shalat fardhu yang sedang dikerjakan.
  2. Jangan ghuluw dalam beribadah hingga mengabaikan hak-hak orang tua dan keluarga. Islam mengajarkan keseimbangan.
  3. Berhati-hatilah dengan doa orang tua, karena doa mereka mustajab. Berusahalah selalu menyenangkan hati mereka.
  4. Ikhlas dalam beribadah akan menjadi pelindung dari fitnah dan ujian, sebagaimana Allah menyelamatkan Juraij.
  5. Jangan tergesa-gesa menuduh orang lain tanpa bukti, karena fitnah bisa menimpa siapa saja, termasuk orang saleh.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?