Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ bersiwak setiap kali bangun untuk shalat tahajud. Ini adalah bimbingan Nabi ﷺ untuk menjaga kebersihan dan kesegaran mulut, terutama saat hendak menghadap Allah dalam shalat malam. Para ulama menjadikan hadits ini sebagai dalil dianjurkannya bersiwak, khususnya ketika hendak beribadah dan dalam keadaan mulut berbau karena tidur.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda cantumkan):
> حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ حُصَيْنٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَامَ لِيَتَهَجَّدَ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
Makna: Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata: "Setiap kali Rasulullah ﷺ bangun untuk shalat tahajud, beliau membersihkan mulutnya dengan siwak." (HR. Muslim, Kitab Thaharah, Bab Siwak, no. 255)
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
> يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنذِرْ وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
QS. Al-Muddatsir [74]: 1-4 — "Wahai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu."
Para ulama menafsirkan perintah "bersihkanlah pakaianmu" mencakup juga kebersihan diri secara umum, termasuk kebersihan mulut. Imam Ibn Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan bahwa kebersihan lahir adalah bagian dari kesempurnaan ibadah.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dianjurkannya bersiwak ketika hendak shalat, dan beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat (ijma') tentang dianjurkannya bersiwak.
- Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat mensyarah hadits-hadits siwak di Shahih Bukhari) menjelaskan hikmah bersiwak sebelum tahajud adalah untuk menghilangkan bau mulut yang berubah karena tidur, agar seorang hamba menghadap Rabb-nya dalam keadaan yang paling sempurna.
Penjelasan Rinci
1. Makna "Yasyushu fahu" (يَشُوصُ فَاهُ)
Kata yasyushu artinya menggosok dan membersihkan. Jadi makna hadits: beliau menggosok mulutnya dengan siwak untuk membersihkannya dari sisa-sisa makanan dan bau yang tidak sedap.
2. Mengapa Bersiwak Saat Tahajud?
Para ulama menjelaskan beberapa hikmah:
Pertama: Ketika seseorang tidur, mulutnya bisa berubah bau. Maka sebelum menghadap Allah dalam shalat malam, beliau membersihkannya terlebih dahulu. Ini menunjukkan adab yang agung dalam menghadap Allah.
Kedua: Malaikat hadir dalam shalat, dan kebersihan mulut adalah bagian dari kesempurnaan ibadah. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa bersiwak adalah sunnah yang sangat ditekankan (sunnah mu'akkadah).
Ketiga: Ini juga menunjukkan bahwa bersiwak tidak hanya dilakukan saat wudhu, tetapi juga di waktu-waktu lain yang berkaitan dengan ibadah.
3. Pendapat Ulama Tentang Waktu Bersiwak
Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in menyebutkan beberapa waktu yang dianjurkan bersiwak:
- Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalau bukan karena memberatkan umatku, niscaya kuperintahkan mereka bersiwak pada setiap kali wudhu." (HR. Bukhari no. 887, Muslim no. 252)
- Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menyebutkan bahwa waktu-waktu yang dianjurkan bersiwak adalah: sebelum shalat, sebelum membaca Al-Qur'an, saat bangun tidur, saat bau mulut berubah, dan saat hendak masuk rumah.
4. Apakah Wajib?
Tidak, bersiwak hukumnya sunnah, bukan wajib. Ini adalah kesepakatan para ulama. Namun, karena sangat ditekankan, sebagian ulama menyebutnya sunnah mu'akkadah (sunnah yang sangat dianjurkan).
Imam Ibn Qayyim Al-Jawziyyah dalam Zaad Al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sangat menjaga kebersihan mulutnya, dan ini adalah bagian dari kesempurnaan akhlak beliau.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu 'anhu — perawi hadits ini — adalah seorang sahabat yang sangat memperhatikan ibadah malam. Suatu malam, beliau bangun untuk shalat tahajud dan melihat Rasulullah ﷺ juga bangun. Hudzaifah memperhatikan dengan seksama bagaimana Nabi ﷺ memulai ibadahnya: beliau bersiwak terlebih dahulu, lalu berwudhu, kemudian shalat.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa ibadah yang agung dimulai dengan kebersihan dan kesiapan yang baik. Seorang hamba yang ingin menghadap Allah tidak hanya menyiapkan hatinya, tetapi juga menjaga kebersihan lahirnya. Ini adalah teladan yang sempurna dari Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Bersiwak sebelum shalat tahajud adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ dan dicontohkan langsung oleh beliau.
- Bersiwak dianjurkan di banyak waktu, terutama: sebelum shalat, sebelum membaca Al-Qur'an, saat bangun tidur, dan saat bau mulut berubah.
- Hukumnya sunnah, bukan wajib, namun sangat ditekankan karena berkaitan dengan kebersihan dan adab menghadap Allah.
- Jika tidak ada siwak, bisa menggunakan sikat gigi atau alat pembersih mulut lainnya, karena intinya adalah membersihkan mulut.
- Niatkan karena Allah agar ibadah sederhana ini menjadi bernilai di sisi-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.