Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2549 tentang Berbakti kepada orang tua lebih utama daripada jihad

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa berbakti dan melayani kedua orang tua yang masih hidup lebih utama daripada berangkat jihad fardhu kifayah (jihad yang tidak wajib 'ain). Ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang tua dalam Islam, bahkan melebihi amalan besar seperti jihad di jalan Allah. Jika orang tua masih hidup dan membutuhkan kita, maka berkhidmat kepada mereka adalah "jihad" yang paling utama bagi kita.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Birr wash-Shilah wal-Adab, Bab "Birrul Walidain" (Berbakti kepada Kedua Orang Tua), no. 2549, dari sahabat Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ حَبِيبٍ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى - يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ الْقَطَّانَ - عَنْ سُفْيَانَ، وَشُعْبَةَ قَالَا: حَدَّثَنَا حَبِيبٌ، عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ يَسْتَأْذِنُهُ فِي الْجِهَادِ، فَقَالَ: "أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟" قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: "فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ".

Terjemahan: Abdullah bin 'Amr berkata: "Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ meminta izin untuk berjihad. Maka beliau bertanya: 'Apakah kedua orang tuamu masih hidup?' Dia menjawab: 'Ya.' Beliau bersabda: 'Maka berjihadlah (dengan berbakti) kepada keduanya.'"

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

(QS. Al-Isra' [17]: 23)

Terjemahan: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik."

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil terkuat tentang keutamaan berbakti kepada orang tua. Mari kita pahami bersama:

1. Konteks Pertanyaan: Seorang sahabat datang kepada Nabi ﷺ meminta izin untuk ikut berjihad. Ini menunjukkan bahwa jihad adalah amalan yang sangat dicintai dan diinginkan oleh para sahabat. Namun, Nabi ﷺ tidak langsung mengizinkannya, melainkan bertanya tentang keadaan orang tuanya.

2. Makna "Fafīhimā fa jāhid" (فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ): Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna sabda Nabi ﷺ ini adalah "Bersungguh-sungguhlah dalam berbakti dan melayani keduanya." Ini adalah bentuk jihad yang paling utama bagi orang yang kedua orang tuanya masih hidup dan membutuhkan perhatiannya. Kata "jihad" di sini bermakna mencurahkan segala kemampuan dan kesungguhan dalam berbuat baik kepada keduanya.

3. Kedudukan Orang Tua vs Jihad: Para ulama menjelaskan bahwa jihad yang dimaksud dalam hadits ini adalah jihad fardhu kifayah (kewajiban kolektif), bukan jihad fardhu 'ain (kewajiban individu, seperti ketika negeri diserang musuh). Jika jihad sudah menjadi fardhu 'ain, maka tidak ada uzur untuk meninggalkannya, meskipun orang tua masih hidup. Namun, jika jihad bersifat fardhu kifayah dan ada orang lain yang mencukupinya, maka berbakti kepada orang tua lebih diutamakan.

4. Penjelasan Ulama:

  • Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa berbakti kepada orang tua adalah termasuk amalan yang paling dicintai Allah setelah tauhid, karena Allah menggandengkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah beribadah kepada-Nya dalam banyak ayat.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua mencakup semua bentuk kebaikan, baik dengan harta, tenaga, perkataan yang lembut, maupun doa. Ini adalah perkara yang sangat ditekankan, terlebih ketika mereka telah lanjut usia.
  • Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan murka Allah terletak pada murka orang tua." (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

5. Pelajaran Penting: Hadits ini juga mengajarkan bahwa amalan besar seperti jihad tidaklah bernilai di sisi Allah jika dilakukan dengan mengabaikan hak-hak orang tua. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keseimbangan antara ibadah vertikal (kepada Allah) dan ibadah horizontal (kepada sesama, terutama orang tua).

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang seorang sahabat yang bernama Alqamah radhiyallahu 'anhu. Ketika ia berada di sakaratul maut, lisannya tidak mampu mengucapkan syahadat. Nabi ﷺ diberitahu tentang hal ini, lalu beliau bertanya: "Apakah Alqamah memiliki ibu yang masih hidup?" Dijawab: "Ya, ia memiliki seorang ibu yang sudah tua."

Nabi ﷺ memanggil ibu Alqamah dan bertanya: "Wahai ibu Alqamah, bagaimana sikap anakmu kepadamu?" Sang ibu menjawab: "Dia selalu taat kepadaku dan berbuat baik kepadaku." Nabi ﷺ bertanya lagi: "Lalu mengapa lisannya terkunci untuk mengucapkan syahadat?" Sang ibu berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia pernah berkata kepadaku dengan perkataan yang menyakitkan hatiku, dan aku belum memaafkannya."

Maka Nabi ﷺ bersabda: "Wahai ibu Alqamah, jika engkau tidak memaafkannya, maka tidak akan ada amal yang diterima darinya." Sang ibu pun berkata: "Wahai Rasulullah, aku memaafkannya demi Allah dan demi engkau." Maka Nabi ﷺ memerintahkan Alqamah untuk mengucapkan syahadat, dan ia pun mampu mengucapkannya. (Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud, dan disebutkan oleh para ulama dalam kitab-kitab mereka).

Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa doa dan keridhaan orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar, bahkan di akhir hayat seseorang. Betapa pentingnya menjaga perasaan orang tua dan tidak pernah menyakiti hati mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Dahulukan berbakti kepada orang tua selama keduanya masih hidup, karena ini adalah "jihad" yang paling utama bagi kita.
  2. Jangan pernah menyakiti hati orang tua, baik dengan perkataan kasar, bentakan, maupun sikap yang tidak menyenangkan.
  3. Jika ingin beramal besar seperti jihad atau amalan lainnya, pastikan hak-hak orang tua telah terpenuhi dan mereka ridha kepada kita.
  4. Perbanyak mendoakan orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat, karena doa adalah bentuk bakti yang tidak terputus.
  5. Jika orang tua sudah lanjut usia, bersabarlah dalam melayani mereka, karena Allah menjanjikan surga bagi anak yang sabar dan berbakti kepada orang tuanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.