Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang kenyataan bahwa manusia itu banyak, tetapi yang benar-benar berkualitas dan layak dijadikan teladan atau pemimpin itu sangat sedikit. Ini adalah kabar dari Nabi ﷺ tentang realitas umat manusia, sekaligus dorongan agar kita tidak tertipu oleh banyaknya jumlah, tetapi memperhatikan kualitas iman dan amal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Perkataan Nabi ﷺ "Manusia Seperti Seratus Unta", nomor 2547. Berikut teks haditsnya:
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ - وَاللَّفْظُ لِمُحَمَّدٍ - قَالَ عَبْدٌ أَخْبَرَنَا وَقَالَ ابْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "تَجِدُونَ النَّاسَ كَإِبِلٍ مِائَةٍ لَا يَجِدُ الرَّجُلُ فِيهَا رَاحِلَةً"
Artinya: Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalian akan mendapati manusia seperti seratus unta, dan tidak ada seorang pun yang mendapatkan seekor pun yang layak untuk ditunggangi (di antara unta-unta itu)."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ar-Riqaq, Bab ke-35, dengan lafaz yang semakna. Ini menunjukkan kekuatan sanad hadits ini karena disepakati oleh dua imam hadits, al-Bukhari dan Muslim.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah perumpamaan tentang kondisi manusia. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa maknanya adalah: manusia itu banyak jumlahnya, tetapi yang memiliki kualitas keimanan, ketakwaan, dan kelayakan untuk dijadikan panutan sangatlah sedikit—seperti seratus unta yang di antaranya hanya ada satu yang layak ditunggangi.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil perkataan para ulama bahwa makna "رَاحِلَةً" di sini adalah unta yang kuat, cepat, dan layak untuk perjalanan jauh. Ini menunjukkan bahwa banyak manusia yang secara lahiriah baik, tetapi ketika diuji dengan tanggung jawab, amanah, dan ujian kehidupan, hanya sedikit yang benar-benar kokoh.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti merendahkan manusia secara umum, tetapi ini adalah kabar berharga dari Nabi ﷺ agar kita tidak silau dengan kuantitas. Yang terpenting adalah kualitas keimanan dan amal. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak mudah tertipu dengan banyaknya orang yang mengaku baik, tetapi harus melihat bukti nyata dalam ketaatan dan kejujuran.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam menjelaskan ayat-ayat tentang orang-orang beriman sering menekankan bahwa Allah menilai hamba-Nya berdasarkan ketakwaan, bukan berdasarkan jumlah atau penampilan lahiriah. Hadits ini sejalan dengan firman Allah:
وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
"Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur." (QS. Saba' [34]: 13)
Ini menunjukkan bahwa yang sedikit bukan berarti tidak ada. Justru kita harus berusaha menjadi bagian dari yang sedikit tetapi berkualitas di sisi Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang tanda-tanda kebaikan seseorang. Maka Nabi ﷺ bersabda tentang manusia yang seperti unta ini. Para ulama menyebutkan bahwa hadits ini juga mengisyaratkan tentang keutamaan para sahabat Nabi ﷺ, karena di antara manusia, mereka adalah yang paling layak menjadi teladan. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma sendiri adalah salah satu bukti nyata dari hadits ini—beliau adalah pribadi yang sangat berhati-hati dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, bahkan dalam perkara-perkara kecil sekalipun. Beliau termasuk orang yang "layak ditunggangi" dalam arti layak dijadikan panutan karena keteguhan dan kehati-hatiannya dalam agama.
Kesimpulan Praktis
- Jangan tertipu oleh banyaknya jumlah manusia yang tampak baik; ukurlah dengan timbangan syariat.
- Berusahalah menjadi pribadi yang berkualitas: jujur, amanah, istiqamah, dan berilmu.
- Jika kita memilih pemimpin atau teladan, pilihlah yang benar-benar memiliki kualitas iman dan takwa, bukan sekadar popularitas.
- Hadits ini juga mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan banyaknya pengikut atau pendukung, karena yang dinilai di sisi Allah adalah ketakwaan.
- Perbanyaklah doa agar Allah menjadikan kita termasuk hamba-Nya yang sedikit tetapi berkualitas.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.