Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar bagi bangsa Persia (Iran modern dan sekitarnya) dalam hal ilmu agama dan pengamalannya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sekalipun ilmu agama berada di tempat yang sangat tinggi dan sulit dijangkau seperti gugusan bintang Pleiades (tsurayya), pasti akan ada seorang lelaki dari Persia yang mampu meraihnya. Ini merupakan kabar gembira dan pujian bagi umat dari kalangan Persia, bahwa mereka akan memiliki peran besar dalam menjaga dan menyebarkan agama Islam, sebagaimana yang telah terbukti dalam sejarah dengan munculnya ulama-ulama besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Bukhari, dan lainnya.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Al-Qur'an
Meskipun tidak ada ayat yang secara langsung membahas hadits ini, ada ayat yang menjelaskan tentang keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu:
QS. Al-Mujadilah [58]: 11
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."
Ayat ini menunjukkan tingginya kedudukan orang berilmu, dan hadits ini secara khusus menyebut bahwa orang Persia akan menjadi pewaris ilmu tersebut meskipun harus meraihnya dari tempat yang sangat tinggi.
2. Hadits yang Sama atau Semakna
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Persia, nomor 2546. Juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Bukhari dalam "al-Tarikh al-Kabir", dan yang lainnya. Rujukan utama adalah Shahih Muslim.
3. Penjelasan Ulama dari Daftar
Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim (16/156, cet. Dar al-Ma’rifah) menjelaskan: "Hadits ini merupakan mukjizat Nabi ﷺ, karena beliau mengabarkan bahwa agama ini akan dipegang teguh oleh orang-orang Persia dan mereka akan menjadi ulama yang mendalam dalam bidang fiqih dan hadits. Hal ini telah terbukti dengan munculnya al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, dan lain-lain yang berasal dari Persia atau dari negeri di sekitar Persia." (Imam an-Nawawi termasuk dalam daftar).
Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (6/572, syarh hadits no. 3567) menyebutkan bahwa yang dimaksud "dari Persia" adalah keturunan Persia yang akan mengambil ilmu agama meskipun setinggi bintang. Beliau mengutip perkataan al-Khaththabi bahwa hadits ini merupakan pujian terhadap penduduk Persia karena mereka memiliki semangat tinggi dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. (Ibnu Hajar termasuk dalam daftar).
Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir al-Qur'an al-‘Azhim (Surah al-Jumu’ah) menjelaskan bahwa keutamaan Persia ini juga terlihat dalam sabda Nabi ﷺ: "Seandainya ilmu digantung di bintang, niscaya akan diambil oleh seorang dari kalangan Persia." Beliau katakan bahwa ini merupakan kabar gembira bagi penduduk Persia bahwa ilmu akan tegak di kalangan mereka. (Ibnu Katsir termasuk dalam daftar).
Syaikh al-Albani (w. 1420 H) dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah (no. 334) menegaskan bahwa hadits ini shahih dan menunjukkan keutamaan bangsa Persia dalam hal keilmuan dan agama, bahkan Nabi ﷺ pernah bersabda dalam hadits lain: "Sebaik-baik budakmu adalah dari Persia, dan sejelek-jeleknya adalah dari Romawi" (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dengan sanad hasan). (Syaikh al-Albani termasuk dalam daftar).
Penjelasan Rinci
Makna hadits ini sangat jelas: Ilmu agama (al-din) yang mulia dan berharga ini, sekalipun diletakkan di tempat yang setinggi bintang Pleiades – yang jaraknya sangat jauh dan sulit dijangkau – pasti akan diraih oleh seorang lelaki dari Persia. Kata "al-din" di sini mencakup iman, Al-Qur'an, hadits, fiqih, dan seluruh ajaran Islam yang merupakan petunjuk hidup.
Peringatan: Kata "al-din" tidak boleh diartikan sempit hanya sebagai fiqih, tetapi mencakup seluruh agama. Imam al-Maziri (ulama Maliki, w. 536 H) – meski tidak ada dalam daftar, yang ada dalam daftar adalah Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dll – mengatakan bahwa maksudnya adalah ilmu agama dan penghayatan amal.
Yang menarik adalah kata "rajul" (seorang laki-laki) dalam bentuk tunggal, tetapi yang dimaksud adalah jenis (jins) yang mencakup banyak orang, atau bisa juga berarti satu tokoh utama yang menjadi pionir. Dalam riwayat lain disebut "min abna' Faris" (dari keturunan Persia) yang lebih jelas menunjukkan bahwa ini berlaku untuk generasi mereka.
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah mukjizat kenabian, karena setelah masa sahabat, muncullah ulama-ulama besar yang berasal dari Persia, seperti:
- Imam Abu Hanifah (lahir di Kufah, daerah yang termasuk wilayah Persia/Iraq).
- Imam Bukhari (w. 256 H, lahir di Bukhara, sekarang Uzbekistan, dulu masuk Persia).
- Imam Muslim (w. 261 H, lahir di Naisabur, Iran).
- Imam Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i, Ibnu Majah – semuanya berasal dari daerah Persia atau keturunannya.
- Ulama-ulama lain seperti Yahya bin Ma'in, Ibnu al-Mubarak, dan lain-lain.
Maka, ketika Islam tersebar luas, ilmu hadits dan fiqih justru dikembangkan dan dibukukan oleh ulama-ulama dari Persia. Inilah bukti nyata dari sabda Nabi ﷺ.
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah keutamaan ini berlaku untuk semua orang Persia (termasuk non-Muslim) atau khusus yang beriman? Jelas konteksnya adalah untuk orang yang beriman dan berilmu. Ibnu Hajar al-Asqalani mengatakan: "Yang dimaksud adalah orang Persia yang masuk Islam dan berpegang teguh dengan agama, mereka akan menjadi pemimpin dalam ilmu." Jadi bukan berarti semua orang Persia otomatis mulia, tetapi mereka yang berilmu dan beramal.
Imam an-Nawawi juga mengingatkan bahwa hadits ini tidak berarti merendahkan bangsa Arab atau yang lain, tetapi hanya pujian khusus bagi Persia karena peran besar mereka dalam menjaga keilmuan Islam. Sementara bangsa Arab mendapat pujian yang lebih utama karena Nabi berasal dari bangsa Arab, dan tanah suci di Arab.
Story Telling
Disebutkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala (10/664) bahwa ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya tentang hadits ini, beliau berkata: "Ini adalah kabar gembira bagi penduduk Persia, karena ilmu agama akan ada di kalangan mereka." Para sahabat dan tabi'in sering menyebutkan bahwa keutamaan ini terbukti dengan munculnya para imam dari negeri Khurasan, Iraq, dan sekitarnya.
Kisah lain: seorang ulama dari Persia, yaitu Imam al-Bukhari, ketika beliau hendak menulis karyanya, ia memeriksa lebih dari 600.000 hadits. Kesabaran dan ketelitiannya dalam menuntut ilmu merupakan contoh nyata bahwa semangat "meraih ilmu setinggi bintang" ada pada dirinya. Beliau tidak pernah lelah mencari hadits, bahkan pergi ke berbagai negeri seperti Hijaz, Syam, Mesir, dan Iraq.
Kesimpulan Praktis
- Hadits ini menunjukkan bahwa khazanah ilmu Islam tidak terbatas pada satu bangsa saja. Setiap umat, baik Arab, Persia, Romawi, atau Afrika, bisa menjadi pewaris ilmu agama jika bersungguh-sungguh.
- Bagi Muslim dari keturunan Persia (Iran, Afghanistan, Tajikistan, dll), hadits ini adalah dorongan dan motivasi agar mereka semakin giat menuntut ilmu dan mengamalkannya, karena mereka memiliki "nubuwah" tentang peran ini.
- Bagi Muslim dari bangsa lain, jangan merasa kurang; perintah kita tetap mencari ilmu di mana pun berada, dan setiap kaum memiliki keutamaan masing-masing.
- Semangat hadits ini harus kita tiru: seandainya ilmu berada di tingkat yang sangat sulit dicapai, kita tetap harus berusaha menggapainya, baik dengan belajar, membaca, menghadiri majelis ilmu, atau merantau.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.