Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan penduduk Oman yang dikenal dengan akhlak mulia, keimanan yang kokoh, dan sikap hormat terhadap utusan atau tamu. Rasulullah ﷺ memuji mereka karena tidak akan mencela atau memukul orang yang diutus kepada mereka, berbeda dengan suku lain yang berlaku kasar. Ini menjadi pelajaran bahwa iman yang benar melahirkan akhlak yang lembut, serta pentingnya menjaga hubungan baik dengan sesama.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
QS. Al-Hujurat [49]: 13
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti."
Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan bukan pada suku atau daerah, melainkan pada ketakwaan. Penduduk Oman dipuji karena keimanan dan akhlak mulia mereka yang merupakan buah ketakwaan.
Hadits yang dimaksud:
Diriwayatkan dari Abu Barzah radhiyallahu 'anhu (riwayat Shahih Muslim, no. 2544):
بَعَثَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ رَجُلًا إِلَى حَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَسَبُّوهُ وَضَرَبُوهُ فَجَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "لَوْ أَنَّ أَهْلَ عُمَانَ أَتَيْتَ مَا سَبُّوكَ وَلَا ضَرَبُوكَ"
"Rasulullah ﷺ mengutus seorang laki-laki ke suatu suku Arab. Mereka mencacinya dan memukulinya. Lalu laki-laki itu datang kepada Rasulullah ﷺ dan mengabarkan kejadian itu. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Seandainya engkau mendatangi penduduk Oman, niscaya mereka tidak akan mencacimu dan tidak akan memukulimu.'"
Kaitan dengan ulama dalam daftar:
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Penduduk Oman) menjelaskan bahwa hadits ini adalah pujian khusus bagi penduduk Oman, menunjukkan keimanan dan akhlak mereka yang lembut serta bersih dari sifat kasar dan permusuhan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (Syarah Shahih Bukhari) ketika membahas keutamaan penduduk Oman juga menukil riwayat-riwayat yang menegaskan kebaikan iman mereka, termasuk pernyataan Nabi bahwa penduduk Oman adalah “sebaik-baik manusia dalam hal keimanan” (riwayat lain dari Ahmad).
- Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah (jilid 6) menceritakan tentang utusan Rasulullah ﷺ ke Oman, yaitu ‘Amr bin al-‘Ash dan Abu Zaid al-Ansari, yang disambut dengan baik oleh raja Oman (Ja’far dan ‘Abdul Jalandi) dan penduduknya, sehingga mereka masuk Islam dengan penuh kerelaan tanpa kekerasan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan perlakuan buruk sekelompok suku Arab terhadap utusan Rasulullah ﷺ. Mereka mencela dan memukulnya, yang menunjukkan bahwa akhlak mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Ketika Rasulullah ﷺ mendengar laporan itu, beliau membandingkan dengan penduduk Oman, sebuah negeri di pesisir selatan Jazirah Arab yang terkenal dengan keimanan dan perdagangan mereka.
Mengapa penduduk Oman dipuji?
Pujian ini bukan semata-mata karena kesukuan, melainkan karena keimanan mereka yang telah diuji dan terbukti kuat. Dalam riwayat lain dari Shahih Muslim (no. 2543) disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik manusia dalam keimanan adalah penduduk Yaman. Dan penduduk Oman lebih utama daripada mereka.” Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa penduduk Oman terkenal dengan sifat sabar, pemaaf, dan tidak mudah membalas kejahatan dengan kejahatan. Mereka adalah kaum yang lapang dada dan menjaga adab terhadap tamu dan utusan, sebagaimana mereka telah menerima Islam dengan damai.
Pandangan para ulama:
- Imam al-Bukhari (dalam Shahih-nya, kitab Manaqib, bab keutamaan penduduk Oman) meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Penduduk Oman adalah sebaik-baik manusia.”
- Ibnu Khuzaimah dan Ibn Hibban (keduanya dalam daftar) juga meriwayatkan hadits serupa, yang menunjukkan kemuliaan akhlak mereka.
- Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dari ulama abad 14 H dalam daftar) dalam syarahnya atas hadits ini mengatakan bahwa pujian ini adalah kabar gembira sekaligus motivasi bagi setiap muslim untuk berakhlak mulia, terutama terhadap tamu dan orang yang diutus untuk kebaikan.
Ibrah (pelajaran):
- Adab terhadap utusan dan tamu – Seorang muslim wajib menghormati orang yang datang membawa pesan kebaikan, baik itu dai, pendakwah, atau utusan lainnya.
- Keutamaan akhlak yang lembut – Kekerasan dan celaan adalah ciri-ciri keimanan yang lemah. Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya meriwayatkan bahwa Nabi bersabda: “Orang mukmin bukanlah pencela, pengutuk, dan bukan pula yang berkata keji.”
- Keutamaan penduduk Oman secara historis – Mereka masuk Islam melalui dakwah yang penuh hikmah, tanpa pertumpahan darah, dan menjadi teladan dalam menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.
Story Telling
Kisah berikut dinukil dari Al-Bidayah wan Nihayah karya Ibn Katsir (dalam daftar), yang bersumber dari riwayat-riwayat shahih.
Tatkala Rasulullah ﷺ mengutus ‘Amr bin al-‘Ash dan Abu Zaid al-Ansari ke Oman untuk mengajak raja-raja Oman yaitu Ja’far dan ‘Abdul Jalandi beserta rakyatnya memeluk Islam. Mereka berdua datang dengan membawa surat Nabi yang berbunyi: “Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad utusan Allah kepada Ja’far dan ‘Abdul Jalandi, raja-raja Oman. Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du: Sesungguhnya aku mengajak kalian kepada Islam. Masuklah Islam, niscaya kalian selamat. Aku adalah utusan Allah kepada seluruh manusia untuk memperingatkan mereka.”
Saat surat itu dibacakan, Ja’far dan ‘Abdul Jalandi tidak marah atau menolak dengan kasar. Mereka bahkan mengumpulkan para ulama dan pembesar negeri untuk bermusyawarah. Akhirnya, dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan, mereka berdua dan seluruh penduduk Oman menerima Islam. Mereka berkata: “Kami siap menaati Allah dan Rasul-Nya.” Sejak saat itu, Oman menjadi negeri yang subur dengan keimanan, akhlak mulia, dan persaudaraan yang erat. Tidak pernah tercatat bahwa penduduk Oman mengusir atau menyakiti seorang utusan pun sepeninggal Rasulullah ﷺ.
Hikmah:
Ketika iman meresap dalam hati, maka akhlak akan menjadi indah. Kekasaran dan penolakan terhadap kebenaran adalah tanda hati yang belum terbuka, sedangkan sikap ramah dan terbuka adalah tanda keimanan yang kuat.
Kesimpulan Praktis
- Bersikaplah ramah dan hormat kepada siapapun yang datang dengan kebaikan, terutama dai, guru, dan tamu.
- Jauhilah kekerasan, celaan, dan perkataan kasar, karena itu bukan sifat orang beriman.
- Teladani akhlak penduduk Oman yang sabar, pemaaf, dan menerima kebenaran dengan lapang dada.
- Ketahuilah bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan pada suku atau daerah, melainkan pada ketakwaan dan akhlak mulia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.