Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2526 tentang Manusia terbaik adalah yang berakal dan tidak menyukai kekuasaan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi tiga kabar penting dari Nabi ﷺ tentang manusia. Pertama, manusia itu seperti tambang; orang yang mulia di masa jahiliyah, jika masuk Islam dan memahami agamanya, maka ia akan tetap mulia di masa Islam. Kedua, orang yang paling baik dalam urusan kepemimpinan adalah orang yang justru tidak menyukainya, namun ketika dipaksa dan diberi amanah, ia menjalankannya dengan baik. Ketiga, manusia yang paling buruk adalah orang yang bermuka dua, yang datang kepada satu kelompok dengan satu wajah dan kepada kelompok lain dengan wajah yang berbeda.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Pilihan Manusia, nomor 2526, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (no. 3495) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara khusus membahas ketiga poin ini secara langsung, namun ada ayat yang senada dengan makna "manusia sebagai tambang" dan kemuliaan karena ketakwaan, yaitu firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Hujurat [49]: 13

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِلَ لِتَعَارَفُوْا ۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti."

Imam Ibn Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Adzim menjelaskan bahwa kemuliaan di sisi Allah hanyalah berdasarkan ketakwaan, bukan berdasarkan nasab, harta, atau kedudukan di masa lalu. Ini sejalan dengan hadits di atas bahwa ukuran kebaikan adalah pemahaman agama dan ketakwaan, bukan status sosial sebelumnya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam. Berikut poin-poin pentingnya:

1. Manusia seperti tambang (ma'adin)

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa maksud "manusia seperti tambang" adalah manusia itu memiliki tabiat dan watak bawaan yang berbeda-beda, seperti tambang emas, perak, tembaga, dan besi. Ada yang asalnya baik dan mulia, ada pula yang asalnya buruk. Namun yang menjadi ukuran akhir adalah keislaman dan pemahaman agama.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa orang yang mulia di masa jahiliyah—seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan para sahabat lainnya yang dikenal jujur dan terpercaya—ketika masuk Islam, kemuliaan itu tetap ada bahkan bertambah. Sebaliknya, orang yang buruk di masa jahiliyah, jika masuk Islam dan berubah, maka keislamannya bisa mengangkatnya. Namun yang paling utama adalah orang yang sejak awal memiliki akhlak mulia lalu disempurnakan dengan Islam.

2. "Jika mereka memahami (idza faquhu)"

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa syarat "memahami" ini penting karena ada orang yang mulia di masa jahiliyah namun ketika masuk Islam tidak memahami agamanya dengan baik, sehingga kemuliaannya tidak tampak dalam keislamannya. Pemahaman agama (fiqih) menjadikan kemuliaan itu terarah dan bermanfaat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa pemahaman agama adalah kunci. Orang yang mulia namun tidak paham agama bisa saja terjatuh dalam kesalahan karena ketidaktahuannya. Maka ilmu dan pemahaman adalah syarat agar kebaikan bawaan itu menjadi kebaikan yang hakiki.

3. Orang terbaik dalam urusan kepemimpinan adalah yang tidak menyukainya

Imam al-Qadhi 'Iyadh—yang termasuk ulama yang diakui oleh para ulama dalam daftar kita melalui penukilan Imam an-Nawawi—menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan orang yang tidak tamak terhadap jabatan dan kekuasaan. Karena orang yang tidak menyukai kekuasaan biasanya lebih amanah, tidak menyalahgunakan wewenang, dan tidak menjadikan jabatan sebagai alat kepentingan pribadi.

Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa ketika seseorang dipaksa menerima kepemimpinan, ia akan menjalankannya dengan sungguh-sungguh karena merasa terbebani amanah, bukan karena ambisi. Ia akan takut kepada Allah dalam menjalankan tugasnya.

4. Peringatan keras terhadap orang bermuka dua

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "bermuka dua" adalah sifat munafik dalam pergaulan. Seseorang menampakkan wajah ramah dan baik kepada satu kelompok, lalu menampakkan wajah lain yang berbeda kepada kelompok lain. Ini adalah sifat tercela yang menunjukkan ketidakjujuran dan kepalsuan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya Mufidul Mustafid menyebutkan bahwa sifat ini termasuk cabang dari kemunafikan, dan pelakunya diancam dengan kehinaan di dunia dan akhirat.

Story Telling

Ada kisah yang sangat terkenal tentang Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang menggambarkan poin pertama hadits ini. Sebelum Islam, Abu Bakar sudah dikenal sebagai orang yang jujur, lembut, dan terpercaya di kalangan Quraisy. Beliau dijuluki al-Atiq (yang dibebaskan) dan ash-Shiddiq (yang membenarkan). Ketika masuk Islam, kemuliaan itu tidak hilang, justru semakin bersinar. Beliau menjadi orang yang paling utama setelah para nabi.

Imam Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ wafat dan umat Islam guncang, Abu Bakar dengan keteguhan dan pemahamannya berdiri di hadapan para sahabat dan berkata: "Barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka Allah Maha Hidup dan tidak akan mati." Ini adalah buah dari pemahaman agama yang mendalam, yang menjadikan kemuliaan bawaannya semakin sempurna.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga akhlak mulia di mana pun kita berada, karena kebaikan bawaan akan menjadi modal berharga ketika kita beriman dan berilmu.
  2. Perdalam pemahaman agama (fiqih), karena tanpa pemahaman, kebaikan tidak akan terarah dengan benar.
  3. Jangan tamak terhadap jabatan dan kekuasaan. Jika diberi amanah, jalankan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.
  4. Jauhi sifat bermuka dua. Jadilah pribadi yang jujur dan konsisten, tidak menampakkan wajah berbeda kepada orang yang berbeda.
  5. Introspeksi diri: dari ketiga kategori ini, di mana posisi kita? Mari kita perbaiki diri agar termasuk orang-orang yang baik dan dicintai Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.