Penjelasan Hadits Muslim No. 2521 tentang Keutamaan beberapa suku atas suku lainnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pujian dari Nabi ﷺ terhadap beberapa kabilah (suku) Arab yang dikenal karena keimanan dan kesetiaan mereka kepada Islam, yaitu Aslam, Ghifar, Muzainah, Juhainah, dan Asyja'. Pujian ini bukan berarti merendahkan suku-suku lain secara mutlak, melainkan menegaskan keutamaan mereka karena sambutan mereka yang tulus terhadap dakwah Islam di tengah banyaknya penolakan dari suku-suku besar lainnya. Pelajaran utamanya adalah kemuliaan di sisi Allah tidak diukur dari banyaknya jumlah atau kekuatan duniawi, melainkan dari keimanan dan ketaatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Ghifar, Aslam, Juhainah, Asyja', Muzainah, Tamim, Daus, dan Thayyi', no. 2521, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sertakan sudah benar. Berikut teks Arabnya dengan harakat lengkap sesuai periwayatan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا سَلَمَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: "أَسْلَمُ وَغِفَارُ وَمُزَيْنَةُ وَمَنْ كَانَ مِنْ جُهَيْنَةَ أَوْ جُهَيْنَةُ خَيْرٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ وَبَنِي عَامِرٍ وَالْحَلِيفَيْنِ أَسَدٍ وَغَطَفَانَ"

Makna ringkas: "Suku Aslam, Ghifar, Muzainah, dan siapa saja dari Juhainah—atau Juhainah—lebih baik daripada Bani Tamim, Bani 'Amir, dan dua sekutu yaitu Asad dan Ghathafan."

Dalam riwayat lain yang disebutkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 3515) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

"أَسْلَمُ وَغِفَارُ وَشَيْءٌ مِنْ مُزَيْنَةَ وَجُهَيْنَةَ خَيْرٌ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَسَدٍ وَغَطَفَانَ وَهَوَازِنَ وَتَمِيمٍ"

Artinya: "Aslam, Ghifar, dan sebagian dari Muzainah serta Juhainah lebih baik di sisi Allah pada hari kiamat daripada (suku) Asad, Ghathafan, Hawazin, dan Tamim."

Imam Ibnu Hajar al-'Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa pujian ini berkaitan dengan konteks sejarah, yaitu ketika banyak kabilah besar menolak dakwah Nabi ﷺ di awal-awal Islam, sementara kabilah-kabilah kecil ini justru menyambut dan membela beliau.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini turun dalam konteks pujian terhadap kabilah-kabilah yang beriman dan berhijrah, bukan celaan mutlak terhadap kabilah lain. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha' ash-Shirat al-Mustaqim menjelaskan bahwa pujian Nabi ﷺ terhadap kabilah tertentu tidak berarti kabilah lain tercela secara keseluruhan, karena di antara Bani Tamim pun banyak sahabat mulia seperti Abu Bakar ash-Shiddiq yang berasal dari Bani Tamim.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "خَيْرٌ" (lebih baik) di sini adalah lebih baik dalam hal keimanan dan sambutan mereka terhadap Islam pada masa itu. Beliau menukil pendapat ulama bahwa yang dimaksud adalah keutamaan mereka karena mereka lebih dahulu masuk Islam dan lebih kuat pembelaannya terhadap Nabi ﷺ.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang atau suatu kaum di sisi Allah adalah berdasarkan ketakwaan, bukan berdasarkan keturunan atau jumlah. Beliau mencontohkan bahwa meskipun Bani Tamim adalah kabilah besar dan terhormat, namun karena mayoritas mereka belum beriman pada saat itu, maka kabilah kecil yang beriman lebih mulia di sisi Allah.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya ketika menjelaskan QS. Al-Hujurat [49]: 13, "إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ" (Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa), menegaskan bahwa ukuran kemuliaan hanya berdasarkan ketakwaan, dan hadits ini sejalan dengan prinsip tersebut.

Perlu dicatat bahwa sebagian ulama menyebutkan hikmah lain, yaitu bahwa kabilah-kabilah yang disebutkan dalam hadits ini (Aslam, Ghifar, Muzainah, Juhainah) adalah kabilah yang tinggal di sekitar Madinah dan banyak yang masuk Islam serta membela Nabi ﷺ, sementara kabilah-kabilah yang disebutkan (Tamim, 'Amir, Asad, Ghathafan) adalah kabilah-kabilah besar yang pada masa awal Islam banyak yang menolak dakwah dan bahkan memerangi beliau.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, banyak kabilah Arab yang datang menawarkan perlindungan dan meminta dukungan, namun sebagian besar justru menolak dakwah beliau. Di tengah kondisi itu, datanglah utusan dari kabilah Ghifar dan Aslam yang menyatakan keislaman mereka. Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, salah seorang tokoh kabilah Ghifar, adalah sahabat yang terkenal dengan kejujuran dan keberaniannya. Beliau masuk Islam di awal dakwah dan kemudian berdakwah kepada kaumnya hingga banyak dari mereka yang beriman.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Abu Dzar berkata kepada Nabi ﷺ ketika beliau mengabarkan tentang keutamaan kabilahnya: "Wahai Rasulullah, demi Allah, sungguh aku akan menyampaikan kepada kaumku apa yang telah engkau sampaikan kepadaku." Maka beliau ﷺ bersabda: "Sungguh, Ghifar telah diampuni oleh Allah." (HR. al-Bukhari no. 3515)

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa keimanan yang tulus dan perjuangan menyampaikan kebenaran, meskipun dari kabilah yang kecil dan tidak terkenal, akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah melebihi mereka yang memiliki keturunan dan kekuatan duniawi.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan membanggakan diri dengan keturunan atau suku, karena kemuliaan hakiki di sisi Allah adalah ketakwaan, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13 dan hadits ini.
  2. Hargai perjuangan orang-orang yang beriman meskipun dari kalangan yang dianggap kecil atau lemah, karena Allah mengangkat derajat mereka karena keimanan mereka.
  3. Pahami hadits-hadits tentang keutamaan kabilah secara proporsional, jangan dijadikan alat untuk merendahkan suku lain, karena di setiap suku ada orang-orang saleh dan orang-orang yang kurang baik.
  4. Teladani semangat kabilah-kabilah yang disebutkan dalam hadits dalam hal menyambut kebenaran dan membela agama Allah dengan tulus.
  5. Jadikan ukuran kemuliaan dalam pergaulan sehari-hari adalah keimanan dan akhlak, bukan status sosial, kekayaan, atau keturunan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?