Penjelasan Hadits Muslim No. 2517 tentang Doa Nabi untuk ampunan Ghifar dan keselamatan Aslam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah mendoakan keburukan bagi sebagian kabilah yang menzalimi dan mendurhakai Allah serta Rasul-Nya, dan mendoakan kebaikan bagi kabilah Ghifar dan Aslam. Doa beliau ﷺ adalah doa yang mustajab, dan perbedaan perlakuan ini didasarkan pada keadaan masing-masing kabilah. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa mendoakan kejelekan terhadap orang yang zalim bukanlah kezaliman, melainkan bagian dari keadilan dan pembelaan terhadap kebenaran.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Fadha'il (Keutamaan Para Sahabat), dari sahabat Khufaf bin Ima' al-Ghifari radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنِ اللَّيْثِ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ أَبِي أَنَسٍ، عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ خُفَافِ بْنِ إِيمَاءَ الْغِفَارِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي صَلاَةٍ: اللَّهُمَّ الْعَنْ بَنِي لِحْيَانَ وَرِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ، غِفَارُ غَفَرَ اللَّهُ لَهَا وَأَسْلَمُ سَالَمَهَا اللَّهُ

Terjemahan: "Ya Allah, laknatlah Bani Lihyan, Ri'l, Dzakwan, dan 'Ushayyah, karena mereka telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Ghifar — semoga Allah mengampuninya, dan Aslam — semoga Allah memberinya keselamatan."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan doa dan sikap terhadap orang zalim:

QS. Al-Mumtahanah [60]: 4

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Terjemahan: "Sungguh telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya: 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari kamu, dan telah tampak antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.'"

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mendoakan laknat bagi orang-orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, dan bahwa Nabi ﷺ mendoakan demikian karena mereka telah berbuat kezaliman besar. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa doa Nabi ﷺ terhadap suatu kaum adalah bentuk konsekuensi dari perbuatan mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Konteks hadits. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi ketika sekelompok utusan dari kabilah Ri'l, Dzakwan, dan 'Ushayyah datang kepada Nabi ﷺ mengaku masuk Islam, lalu mereka berkhianat dan membunuh para sahabat yang dikirim untuk mengajarkan Islam. Perbuatan ini adalah pengkhianatan besar dan pembunuhan terhadap orang-orang yang tidak bersalah. Maka Nabi ﷺ mendoakan laknat atas mereka dalam shalat.

Kedua: Bolehnya mendoakan keburukan bagi orang zalim. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa mendoakan laknat terhadap orang kafir dan zalim yang memerangi Islam adalah sesuatu yang disyariatkan, sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab [33]: 57 dan QS. Al-Mumtahanah [60]: 4. Ini bukanlah bentuk kezaliman, melainkan keadilan dan pembelaan terhadap agama.

Ketiga: Perbedaan Ghifar dan Aslam dengan kabilah lainnya. Nabi ﷺ secara khusus mendoakan ampunan untuk Ghifar dan keselamatan untuk Aslam. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini menunjukkan keutamaan kabilah Ghifar dan Aslam, dan bahwa mereka telah beriman serta tidak berkhianat seperti kabilah lainnya. Imam an-Nawawi menambahkan bahwa doa "غِفَارُ غَفَرَ اللَّهُ لَهَا" (Ghifar, semoga Allah mengampuninya) adalah doa yang dikabulkan, dan ini merupakan keutamaan besar bagi kabilah Ghifar.

Keempat: Doa Nabi ﷺ mustajab. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa doa Nabi ﷺ adalah doa yang pasti dikabulkan, baik itu doa kebaikan maupun doa keburukan. Maka doa beliau untuk Ghifar dan Aslam adalah jaminan ampunan dan keselamatan bagi mereka.

Kelima: Sikap adil dalam berdoa. Hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus adil dalam berdoa — mendoakan kebaikan bagi yang baik dan mendoakan keburukan bagi yang zalim, sesuai dengan kadar kezalimannya. Ini bukanlah sikap ghuluw (berlebihan) atau permusuhan pribadi, melainkan konsekuensi dari keadilan Allah dan pembelaan terhadap kebenaran.

Keenam: Perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa doa laknat dalam shalat ini terjadi sebelum turunnya larangan mendoakan keburukan dalam shalat untuk urusan duniawi. Namun Ibn Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa doa laknat terhadap orang zalim tetap dibolehkan karena ini termasuk doa untuk kemaslahatan agama, bukan urusan duniawi.

Story Telling

Dikisahkan dalam Shahih Muslim dan kitab-kitab sirah bahwa suatu ketika, sekelompok orang dari kabilah Ri'l, Dzakwan, dan 'Ushayyah datang kepada Nabi ﷺ di Madinah. Mereka mengaku telah masuk Islam dan meminta agar Nabi ﷺ mengirimkan beberapa sahabat untuk mengajarkan Al-Qur'an dan Islam kepada kaum mereka. Nabi ﷺ mengirimkan sekitar sepuluh sahabat, di antaranya Ashim bin Tsabit, Marwan bin al-Hakam, dan lainnya.

Di tengah perjalanan, rombongan ini dicegat oleh kabilah-kabilah tersebut. Para sahabat yang tidak bersenjata dan hanya bertugas mengajarkan kebaikan itu dibunuh secara kejam. Salah satu dari mereka, Ashim bin Tsabit, berdoa: "Ya Allah, sampaikanlah berita ini kepada Nabi-Mu." Kemudian beliau syahid.

Ketika berita ini sampai kepada Nabi ﷺ, beliau sangat bersedih dan marah. Maka dalam shalat, beliau mendoakan laknat atas kabilah-kabilah pengkhianat itu. Di sisi lain, kabilah Ghifar dan Aslam yang tetap setia dan beriman, Nabi ﷺ mendoakan ampunan dan keselamatan untuk mereka.

Hikmah dari kisah ini: pengkhianatan terhadap amanah dan pembunuhan terhadap orang yang mengajarkan kebaikan adalah kezaliman besar yang layak mendapat doa keburukan. Sementara kesetiaan dan keimanan akan mendatangkan ampunan dan keselamatan dari Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Doa adalah senjata orang beriman. Nabi ﷺ menggunakan doa sebagai bentuk pembelaan terhadap kebenaran dan keadilan.
  2. Boleh mendoakan keburukan bagi orang zalim. Ini bukan kezaliman, melainkan keadilan, dengan syarat doa tersebut tidak melampaui batas dan sesuai dengan kadar kezalimannya.
  3. Keimanan dan kesetiaan mendatangkan ampunan dan keselamatan. Kabilah Ghifar dan Aslam mendapat doa khusus dari Nabi ﷺ karena keimanan dan kesetiaan mereka.
  4. Hendaklah kita adil dalam berdoa. Mendoakan kebaikan bagi yang baik dan mendoakan keburukan bagi yang zalim, tanpa ghuluw dan tanpa permusuhan pribadi.
  5. Pelajaran dari sejarah. Pengkhianatan terhadap amanah dan pembunuhan terhadap orang yang mengajarkan kebaikan adalah dosa besar yang harus kita jauhi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?