Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ menyebutkan urutan keutamaan sebagian kabilah Ansar, namun beliau juga menegaskan bahwa semua kabilah Ansar memiliki kebaikan. Jadi keutamaan yang disebutkan bukanlah bentuk celaan bagi yang lain, melainkan pemberitahuan tentang tingkatan tertentu, sementara seluruh Ansar tetap mulia. Sikap Sa'd bin Ubadah yang merasa "didahulukan orang lain" dijawab dengan penjelasan bahwa kaumnya justru dimuliakan di atas banyak kaum lain.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Tentang Kebaikan Rumah-Rumah Ansar, nomor 2511. Perawi jalurnya: Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan) menerimanya dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, dari Abu Usaid radhiyallahu 'anhu.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan Ansar secara umum:
QS. At-Taubah [9]: 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Terjemahan: "Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan kabilah-kabilah Ansar yang disebutkan secara berurutan, dan bahwa penyebutan sebagian di atas sebagian lain tidak mengurangi keutamaan yang lain, karena Nabi ﷺ sendiri menutup sabdanya dengan "wa fī kulli dūril Anshāri khair" (dan di setiap rumah/kabilah Ansar terdapat kebaikan).
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas riwayat serupa dalam Shahih Bukhari) menyebutkan bahwa keutamaan ini berkaitan dengan kedudukan mereka dalam Islam, kedekatan nasab dengan Nabi ﷺ, dan peran mereka dalam menolong dakwah. Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menegaskan kemuliaan seluruh Ansar berdasarkan ayat di atas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Keutamaan kabilah Ansar tertentu disebutkan secara berurutan. Nabi ﷺ menyebut Banu Najjar terlebih dahulu, kemudian Banu Abdul Asyhal, kemudian Banu Harits bin Khazraj, kemudian Banu Sa'idah. Para ulama seperti Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa urutan ini adalah pemberitahuan dari Nabi ﷺ tentang tingkatan keutamaan yang Allah berikan, bukan penilaian manusia biasa. Di antara sebab keutamaan Banu Najjar adalah karena Nabi ﷺ tinggal di rumah mereka (setelah hijrah, beliau menetap di rumah Abu Ayyub al-Anshari yang berasal dari Banu Najjar), dan banyak sahabat mulia dari kabilah ini.
Kedua: Penegasan bahwa semua Ansar memiliki kebaikan. Kalimat "wa fī kulli dūril Anshāri khair" adalah penutup yang sangat penting. Ini menunjukkan bahwa penyebutan urutan bukan berarti merendahkan yang lain. Ibnu Hajar menegaskan bahwa ini adalah bentuk penghormatan menyeluruh kepada seluruh Ansar, karena mereka semua telah berjasa menolong Nabi ﷺ dan kaum Muhajirin.
Ketiga: Sikap Sa'd bin Ubadah. Sa'd adalah pemimpin kabilah Banu Sa'idah (yang disebut terakhir dalam urutan). Beliau berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ telah memuliakan orang lain di atas kami." Ini menunjukkan kepekaan beliau terhadap keutamaan, bukan karena riya atau kesombongan, melainkan karena kecintaan beliau kepada kebaikan. Lalu dijawab: "Dia telah memuliakan kalian di atas banyak orang lainnya." Artinya, meskipun Banu Sa'idah disebut terakhir di antara empat kabilah yang disebut, mereka tetap lebih utama dibanding banyak kabilah lain secara umum.
Keempat: Perbedaan pendapat ulama. Sebagian ulama seperti Al-Qadhi 'Iyadh (yang dinukil oleh an-Nawawi) menyebutkan bahwa urutan ini bisa jadi berdasarkan kedekatan nasab dengan Nabi ﷺ atau berdasarkan jasa tertentu. Namun yang paling kuat adalah bahwa ini adalah keutamaan yang ditetapkan oleh wahyu, dan kita menerimanya tanpa perlu mempertanyakan hikmahnya secara rinci. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari-nya juga menekankan pentingnya menerima keutamaan sahabat sebagaimana disebutkan dalam nash, tanpa mengurangi hak yang lain.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, beliau singgah di rumah Abu Ayyub al-Anshari radhiyallahu 'anhu, yang berasal dari kabilah Banu Najjar. Kabilah ini sangat gembira dan berlomba-lomba untuk menjamu Nabi ﷺ. Dalam sebuah riwayat yang disebutkan Imam Muslim dan Al-Bukhari, ketika Nabi ﷺ pertama kali tiba di Madinah, penduduk berbondong-bondong menyambut beliau, dan setiap kabilah memohon agar Nabi ﷺ singgah di rumah mereka. Namun Nabi ﷺ bersabda agar untanya dibiarkan berjalan, dan akhirnya berhenti di tempat yang kemudian dibangun Masjid Nabawi, yang tanahnya milik dua anak yatim dari Banu Najjar.
Hikmahnya: keutamaan Banu Najjar bukan hanya karena Nabi ﷺ tinggal di sana, tetapi karena Allah memilih tempat itu untuk rumah beliau. Ini menunjukkan bahwa keutamaan yang Allah berikan tidak selalu kita ketahui hikmahnya secara sempurna, namun kita menerimanya dengan lapang dada.
Kesimpulan Praktis
- Menerima keutamaan sahabat sebagaimana disebutkan dalam nash, tanpa mengurangi hak yang lain.
- Memahami bahwa penyebutan urutan bukan berarti celaan, karena Nabi ﷺ sendiri menegaskan bahwa semua Ansar memiliki kebaikan.
- Meneladani sikap Sa'd bin Ubadah yang cinta kepada keutamaan, namun tetap menerima penjelasan dengan lapang dada.
- Menghormati seluruh sahabat Nabi ﷺ, baik Muhajirin maupun Ansar, karena mereka adalah generasi terbaik yang telah Allah ridhai.
- Tidak menjadikan perbedaan keutamaan sebagai bahan perpecahan, melainkan sebagai motivasi untuk berlomba dalam kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.