Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan tiga amalan utama yang menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat seseorang, yaitu: menyempurnakan wudhu dalam keadaan sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Para ulama menjelaskan bahwa amalan-amalan ini adalah bentuk jihad dalam ketaatan dan bukti kesungguhan dalam beribadah, serta pahalanya sangat besar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ، وَابْنُ، حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ، - قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، - أَخْبَرَنِي الْعَلاَءُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟» قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: «إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ».
Terjemahan: Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dengannya Allah menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?" Mereka menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Menyempurnakan wudhu dalam keadaan sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat setelah shalat. Itulah ribath (kesungguhan atau penjagaan)." (HR. Muslim, Kitab Thaharah, Bab Keutamaan Mengambil Wudhu dengan Baik di Tengah Kesulitan, no. 251)
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Al-Ma'idah [5]: 6 tentang keutamaan wudhu dan kebersihan. Ayat ini menunjukkan perintah wudhu dan keutamaannya, yang ditegaskan dalam hadits di atas.
Teks Arab:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ... (QS. Al-Ma'idah [5]: 6)
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai siku, dan usaplah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai kedua mata kaki..."
QS. At-Taubah [9]: 108 tentang masjid yang didirikan atas takwa, yang menunjukkan keutamaan masjid dan langkah ke sana.
Teks Arab:
لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَىٰ مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ ۚ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا ۚ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ (QS. At-Taubah [9]: 108)
Terjemahan: "Sungguh, masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama, lebih berhak bagimu melaksanakan shalat di dalamnya. Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Allah menyukai orang-orang yang bersih."
Penjelasan Rinci
Makna Isbâgh al-Wudhû' 'alâ al-Makârih (Menyempurnakan Wudhu dalam Keadaan Sulit)
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa “makaarih” (keadaan sulit) mencakup cuaca yang sangat dingin, sakit, luka, atau keterbatasan air yang membuat wudhu terasa berat. Menyempurnakan wudhu di saat seperti itu adalah bentuk kesabaran dan ketundukan yang besar. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jâmi' al-'Ulûm wa al-Hikam juga menekankan bahwa amalan ini menghapus dosa-dosa kecil dan mengangkat derajat karena mengandung pengorbanan dan mujahadah.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh as-Shalihin menambahkan bahwa menyempurnakan wudhu berarti membasuh anggota wudhu secara merata dan sesuai sunnah, meskipun dalam kesulitan. Ini juga termasuk membasuh bagian-bagian yang wajib dan sunnah.
Makna Katsrah al-Khuthâ ilâ al-Masâjid (Memperbanyak Langkah Menuju Masjid)
Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah meriwayatkan bahwa para sahabat sangat bersemangat mendatangi masjid, bahkan dari rumah yang jauh. Imam Muslim sendiri meriwayatkan hadits lain bahwa orang yang langkahnya paling banyak ke masjid mendapat pahala lebih besar. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa “memperbanyak langkah” mencakup berjalan kaki ke masjid, baik dari rumah yang dekat apalagi jauh, dan ini termasuk sedekah setiap langkah.
Syeikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmû' Fatâwâ menekankan bahwa langkah ke masjid menggugurkan dosa dan mengangkat derajat sebagaimana disebut dalam hadits ini.
Makna Intizhâr ash-Shalâh ba'd ash-Shalâh (Menunggu Shalat Setelah Shalat)
Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madârij as-Sâlikîn menjelaskan bahwa menunggu shalat berikutnya setelah shalat – baik dengan duduk di masjid, berdzikir, atau membaca Al-Qur'an – adalah “ribath” (penjagaan) yang besar. Ini menunjukkan kesinambungan ibadah dan kesungguhan dalam beribadah.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bâri mengutip Imam an-Nawawi bahwa yang dimaksud adalah seseorang tetap berada dalam keadaan suci dan niat untuk shalat berikutnya, meskipun waktunya masih panjang. Ini juga mencakup shalat sunnah di antara dua shalat wajib.
Hubungan Ketiganya dengan “Ribath”
Nabi ﷺ menyebut ketiganya sebagai “ribath” yang biasanya berarti penjagaan perbatasan di jalan Allah. Para ulama – seperti Imam Ahmad dan Imam asy-Syafi’i – menjelaskan bahwa ribath yang paling utama adalah menunggu shalat setelah shalat, karena menjaga iman dan ketaatan secara terus-menerus. Fudail bin 'Iyadh berkata, “Ribath yang sebenarnya adalah kesabaran dalam beribadah karena diperintahkan.”
Story Telling
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (no. 664) dari Abu Hurairah ra., bahwa ada seorang sahabat yang rumahnya sangat jauh dari masjid. Orang-orang berkata kepadanya, “Seandainya engkau membeli keledai atau unta untuk ditunggangi ke masjid.” Maka sahabat itu menjawab, “Tidak, sungguh aku berharap bahwa setiap langkahku ke masjid dicatat sebagai satu kebaikan.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda tentangnya, “Sungguh, Allah akan mengumpulkan bagimu pahala semua langkah itu.” Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat sangat bersemangat memperbanyak langkah ke masjid meskipun menghadapi kesulitan.
Hikmah: Kesungguhan dalam ibadah meski ada rintangan akan mendatangkan pahala berlipat. Menunggu shalat di masjid juga menjadi pengisi waktu dengan ketaatan.
Kesimpulan Praktis
- Sempurnakan wudhu meskipun dalam keadaan dingin, sakit, atau terbatasnya air. Latih diri untuk bersabar demi mengharap pahala.
- Perbanyak langkah ke masjid dengan berjalan kaki. Jika rumah jauh, niatkan setiap langkah sebagai ibadah.
- Jangan terburu-buru pulang setelah shalat waib. Tunggulah untuk melaksanakan shalat sunnah atau berdzikir, sehingga terjaga dalam ketaatan hingga shalat berikutnya.
- Yakini bahwa amalan-amalan ini adalah cara Allah menghapus dosa dan meninggikan derajat kita di sisi-Nya.
- Niatkan semua karena Allah, bukan karena riya atau ingin dipuji.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.