Penjelasan Hadits Muslim No. 2503 tentang Keutamaan Ja'far dan rombongan kapal dari Habasyah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan keutamaan para sahabat yang berhijrah ke Habasyah (Ethiopia) — khususnya Ja'far bin Abu Talib dan Asma' binti Umais — yang oleh Nabi ﷺ disebut memiliki dua hijrah: hijrah ke Habasyah dan hijrah ke Madinah. Ini menunjukkan bahwa keutamaan di sisi Allah tidak diukur dari siapa yang lebih dulu datang, melainkan dari ketakwaan dan pengorbanan seseorang di jalan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hujurat [49]: 13

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, dari Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak faedah, di antaranya penetapan keutamaan ahli kapal (para muhajirin ke Habasyah) dan bahwa mereka mendapat dua pahala hijrah.

Hadits pendukung dari Al-Bukhari dan Muslim juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang para muhajirin Habasyah:

لَكُمْ أَنْتُمْ أَهْلَ السَّفِينَةِ هِجْرَتَانِ

"Kalian, para penumpang kapal, mendapat dua hijrah."

Penjelasan Rinci

Latar belakang peristiwa:

Abu Musa al-Asy'ari رضي الله عنه bersama dua saudaranya dan puluhan orang dari kaumnya di Yaman berangkat menuju Nabi ﷺ setelah mendengar kabar hijrah beliau. Dalam perjalanan, kapal mereka terdampar ke Habasyah (Ethiopia), di mana mereka bertemu dengan Ja'far bin Abu Talib dan rombongan muhajirin yang sebelumnya diutus Nabi ﷺ ke sana untuk berlindung dari kezaliman Quraisy.

Pemahaman para ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan beberapa poin penting:

  1. Keutamaan Ja'far bin Abu Talib — beliau adalah pemimpin rombongan muhajirin ke Habasyah dan memiliki kedudukan mulia di sisi Nabi ﷺ.
  2. Dua hijrah bagi ahli kapal — Nabi ﷺ secara tegas menyatakan bahwa para muhajirin Habasyah mendapat keutamaan dua hijrah: hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya di Habasyah, lalu hijrah ke Madinah. Ini adalah keutamaan yang tidak dimiliki oleh sahabat lain yang hanya berhijrah sekali.
  3. Adab Asma' binti Umais — meskipun beliau marah kepada Umar رضي الله عنه, kemarahannya adalah karena membela kebenaran dan kehormatan dirinya serta saudara-saudaranya. Beliau tidak berdusta, tidak berlebihan, dan langsung mengadukan perkara tersebut kepada Nabi ﷺ. Ini menunjukkan keberanian dan kejujuran seorang wanita mukminah.
  4. Sikap Umar bin al-Khattab — Umar رضي الله عنه mengatakan apa yang beliau yakini sebagai bentuk pembelaan terhadap keutamaan muhajirin Madinah. Namun ketika Nabi ﷺ memberikan penjelasan, tidak ada riwayat yang menunjukkan Umar menolak atau membantah. Ini menunjukkan bahwa Umar adalah orang yang tunduk kepada kebenaran ketika telah jelas dalilnya.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari) menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa keutamaan hijrah tidak hanya diukur dari urutan waktu, tetapi dari keadaan dan pengorbanan masing-masing. Orang yang berhijrah dua kali — meninggalkan kampung halaman, keluarga, dan harta dua kali — tentu memiliki beban dan pahala yang lebih besar.

Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa para muhajirin Habasyah mengalami kesulitan yang sangat berat: jauh dari keluarga, di negeri asing, di bawah tekanan, dan dalam ketakutan. Namun mereka tetap teguh karena Allah dan Rasul-Nya.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ memberikan bagian ghanimah Khaibar kepada Ja'far dan para sahabatnya meskipun mereka tidak ikut serta dalam peperangan, sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas pengorbanan mereka.

Story Telling

Diceritakan bahwa Asma' binti Umais رضي الله عنها — seorang wanita yang telah berhijrah ke Habasyah bersama suaminya Ja'far bin Abu Talib — datang berkunjung ke rumah Hafshah رضي الله عنها, istri Nabi ﷺ. Ketika Umar bin al-Khattab رضي الله عنه masuk dan melihat Asma', beliau bertanya, "Siapa wanita ini?" Hafshah menjawab, "Asma' binti Umais."

Umar berkata, "Wanita Habasyah ini? Wanita kapal ini? Kami telah mendahului kalian dalam hijrah, maka kami lebih berhak kepada Rasulullah ﷺ daripada kalian."

Mendengar itu, Asma' marah dan berkata dengan tegas, "Kamu berdusta, wahai Umar! Demi Allah, kalian bersama Rasulullah ﷺ yang memberi makan orang lapar di antara kalian dan mengajari orang bodoh di antara kalian. Sedangkan kami berada di negeri yang jauh, di tanah Habasyah, di antara musuh-musuh, dan itu semua demi Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, aku tidak akan makan atau minum sampai aku menceritakan apa yang kamu katakan kepada Rasulullah ﷺ."

Ketika Nabi ﷺ datang, Asma' menceritakan perkataan Umar. Nabi ﷺ bersabda, "Umar tidak lebih berhak kepadaku daripada kalian. Baginya dan para sahabatnya satu hijrah, sedangkan kalian — ahli kapal — mendapat dua hijrah."

Abu Burdah berkata, "Aku melihat Abu Musa dan orang-orang kapal datang kepada Asma' secara berkelompok, meminta beliau mengulangi hadits ini. Tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang lebih membahagiakan mereka daripada sabda Nabi ﷺ tersebut."

Hikmah: Kisah ini mengajarkan bahwa pengorbanan yang tampak "terlambat" bisa jadi lebih besar nilainya di sisi Allah. Juga mengajarkan adab dalam berbeda pendapat: Asma' menyampaikan keberatan dengan jujur tanpa berdusta, dan Umar — meskipun awalnya berbeda pendapat — tidak tercatat menolak penjelasan Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan meremehkan pengorbanan orang lain — bisa jadi orang yang tampak "terlambat" atau "jauh" memiliki keutamaan yang lebih besar di sisi Allah karena keadaan dan keteguhannya.
  2. Sampaikan kebenaran dengan adil — Asma' mencontohkan keberanian menyampaikan kebenaran tanpa berdusta, tanpa berlebihan, dan tanpa menyerang pribadi.
  3. Kembalikan perselisihan kepada dalil — ketika terjadi perbedaan pendapat, ukurannya adalah Al-Qur'an dan Sunnah, bukan siapa yang lebih dulu atau lebih banyak.
  4. Hormati para sahabat Nabi ﷺ — semua sahabat memiliki keutamaan masing-masing, dan kita diperintahkan untuk mencintai mereka semua tanpa mencela salah satu dari mereka.
  5. Hijrah yang paling utama adalah hijrah hati — meninggalkan apa yang dilarang Allah dan berpegang teguh pada agama-Nya, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah." (HR. Al-Bukhari)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?