Penjelasan Hadits Muslim No. 25 tentang Syahadat saat kematian tidak menjamin keislaman

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa hidayah (petunjuk) adalah urusan Allah, bukan sekadar usaha manusia. Nabi ﷺ sangat mencintai pamannya Abu Thalib dan berharap ia masuk Islam, tetapi Abu Thalib menolak mengucapkan syahadat sebelum wafat. Allah lalu menurunkan ayat yang menegaskan bahwa Nabi tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang ia cintai, karena hidayah hanya di tangan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Qashash [28]: 56

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Terjemahan: "Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Iman, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Imam Muslim bin al-Hajjaj (wafat 261 H) menempatkannya dalam bab yang menunjukkan bahwa keimanan seseorang yang muncul saat kematian (yakni tanda-tanda sahnya Islam) memiliki ketentuan khusus.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak mampu memberikan hidayah taufik kepada Abu Thalib meskipun beliau sangat menginginkannya.
  • Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abu Thalib, dan menjadi dalil bahwa hidayah adalah murni pemberian Allah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa kecintaan Nabi ﷺ kepada keluarganya tidak menjamin mereka mendapat hidayah.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menceritakan peristiwa menjelang wafatnya Abu Thalib, paman Nabi ﷺ yang selama ini melindungi beliau dari gangguan kaum Quraisy. Nabi ﷺ sangat mencintainya dan berharap ia mengucapkan kalimat tauhid sebelum meninggal. Nabi ﷺ bahkan menjanjikan akan bersaksi di hadapan Allah pada hari kiamat bahwa Abu Thalib telah mengucapkan kalimat tersebut. Namun Abu Thalib menolak, dan Allah menurunkan ayat di atas sebagai penegasan bahwa hidayah bukan urusan manusia.

Pemahaman ulama:

  1. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran bahwa Nabi ﷺ tidak memiliki kemampuan memberi hidayah kepada orang yang beliau cintai. Ini bukan berarti Nabi ﷺ gagal, tetapi menunjukkan bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah. An-Nawawi juga menegaskan bahwa ayat ini tidak mengurangi kedudukan Nabi ﷺ, justru menegaskan tauhid bahwa hanya Allah yang memberi petunjuk.
  2. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini turun khusus tentang Abu Thalib. Beliau menjelaskan bahwa meskipun Nabi ﷺ sangat menginginkan Abu Thalib masuk Islam, Allah mengetahui bahwa Abu Thalib tidak akan menerima hidayah. Ibnu Katsir juga mengutip pendapat Mujahid dan Qatadah yang menyatakan bahwa ayat ini adalah penghiburan bagi Nabi ﷺ agar tidak bersedih berlebihan atas penolakan kaumnya.
  3. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa hidayah ada dua jenis: hidayah taufik (yang hanya Allah berikan) dan hidayah bayan (penjelasan yang dilakukan para nabi dan dai). Nabi ﷺ telah menyampaikan hidayah bayan kepada Abu Thalib, tetapi hidayah taufik tidak diberikan Allah kepadanya.
  4. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan kepada seseorang tidak berarti kita mampu memaksanya menerima kebenaran. Beliau juga menegaskan bahwa doa dan usaha Nabi ﷺ sudah maksimal, namun keputusan akhir tetap di tangan Allah.
  5. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran bahwa seorang dai hanya berkewajiban menyampaikan, bukan memaksa hasil. Beliau juga menegaskan bahwa Allah lebih mengetahui siapa yang layak mendapat hidayah.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama membahas apakah Abu Thalib masuk Islam atau tidak. Namun menurut Imam an-Nawawi, Ibnu Katsir, dan Ibnu Hajar, hadits ini secara tegas menunjukkan bahwa Abu Thalib menolak mengucapkan syahadat dan wafat dalam keadaan tidak beriman. Pendapat ini yang paling kuat berdasarkan dalil.

Story Telling

Diceritakan bahwa ketika Abu Thalib sakit keras dan mendekati wafat, Nabi ﷺ datang menjenguknya. Di sisi Abu Thalib sudah ada Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah. Nabi ﷺ berkata dengan penuh kasih: "Wahai paman, ucapkanlah 'Laa ilaaha illallah', aku akan bersaksi untukmu di hadapan Allah pada hari kiamat."

Namun Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata: "Wahai Abu Thalib, apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?" Mereka terus mendesak hingga Abu Thalib tetap pada keyakinan nenek moyangnya dan menolak mengucapkan syahadat.

Nabi ﷺ sangat sedih. Beliau mencintai pamannya yang telah melindunginya bertahun-tahun. Namun Allah menurunkan ayat:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ

Ayat ini menjadi penghiburan sekaligus pelajaran bahwa hidayah bukan di tangan manusia. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Hikmahnya: kita boleh mencintai seseorang dan berusaha mengajaknya kepada kebaikan, tetapi hasilnya kita serahkan kepada Allah. Tugas kita hanya menyampaikan dengan lembut dan penuh adab.

Kesimpulan Praktis

  1. Hidayah adalah urusan Allah. Kita hanya berkewajiban menyampaikan kebenaran, bukan memaksa orang menerimanya.
  2. Cinta tidak menjamin hidayah. Nabi ﷺ mencintai Abu Thalib, tetapi hidayah tetap tidak diberikan Allah kepadanya.
  3. Tetap berusaha dengan lembut. Nabi ﷺ tetap mengajak Abu Thalib dengan penuh kasih sayang hingga akhir hayatnya.
  4. Jangan bersedih berlebihan. Jika orang yang kita cintai menolak kebenaran, kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah.
  5. Perbanyak doa. Karena hanya Allah yang mampu membuka hati seseorang untuk menerima hidayah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?