Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menggambarkan keutamaan besar Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu di mata para sahabat lainnya. Ketika beliau wafat, Abu Musa al-Asy'ari dan Abu Mas'ud al-Anshari radhiyallahu 'anhuma mengakui bahwa tidak ada yang bisa menandingi kedudukan Ibnu Mas'ud. Keistimewaan itu karena beliau adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ, paling banyak menyaksikan majelis beliau, dan paling dalam ilmunya. Ini adalah pujian dari sesama sahabat yang mulia, yang menunjukkan betapa tingginya kedudukan Ibnu Mas'ud di sisi mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Abdullah bin Mas'ud dan Ibunya, nomor 2461. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ibnu Mas'ud yang sangat besar, karena beliau termasuk orang yang paling awal masuk Islam dan paling banyak bersama Nabi ﷺ.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari juga menyebutkan keutamaan Ibnu Mas'ud ketika menjelaskan hadits-hadits tentang beliau, bahwa beliau adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ dan paling paham terhadap Al-Qur'an.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama, kedudukan Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang sangat tinggi. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling awal masuk Islam. Bahkan disebutkan bahwa beliau adalah orang keenam yang masuk Islam. Beliau juga pernah menjadi pelayan Rasulullah ﷺ dan sangat dekat dengan beliau.
Kedua, perkataan Abu Musa dan Abu Mas'ud "dia diterima (di sisi Nabi) sementara kami ditahan, dan dia hadir sementara kami tidak hadir" menunjukkan bahwa Ibnu Mas'ud memiliki keistimewaan berupa seringnya berada di majelis Rasulullah ﷺ. Beliau tidak pernah berpisah dari Nabi ﷺ dalam banyak kesempatan, sehingga beliau banyak menyerap ilmu dan petunjuk dari beliau.
Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa makna "يُؤْذَنُ لَهُ إِذَا حُجِبْنَا" adalah bahwa Ibnu Mas'ud sering kali diberi izin masuk menemui Rasulullah ﷺ ketika sahabat lain tidak diizinkan, karena kedekatannya yang luar biasa. Ini adalah keistimewaan khusus yang Allah berikan kepada beliau.
Ketiga, hadits ini juga menunjukkan adab para sahabat dalam memuji sesama mereka. Mereka tidak saling iri atau dengki, tetapi justru mengakui kelebihan masing-masing. Ini adalah pelajaran berharga tentang ukhuwah Islamiyah yang tulus.
Keempat, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu dikenal sebagai sahabat yang paling paham tentang Al-Qur'an. Rasulullah ﷺ sendiri bersabda: "Ambillah Al-Qur'an dari empat orang: dari Ibnu Mas'ud, Salim, Mu'adz, dan Ubay bin Ka'ab." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan bahwa beliau adalah rujukan utama dalam ilmu Al-Qur'an di kalangan sahabat.
Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya menyebutkan bahwa Ibnu Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dan paling dalam pemahamannya terhadap syariat. Beliau juga termasuk sahabat yang paling zuhud dan paling takut kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu wafat, para sahabat sangat bersedih. Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku tidak pernah melihat seorang pun yang lebih baik bacaannya, lebih dalam ilmunya, dan lebih zuhudnya daripada Ibnu Mas'ud."
Bahkan disebutkan bahwa ketika berita wafatnya Ibnu Mas'ud sampai kepada para sahabat, mereka merasa kehilangan sosok yang sangat berjasa dalam menyebarkan ilmu Al-Qur'an. Beliau adalah orang yang pertama kali membaca Al-Qur'an dengan suara keras di hadapan kaum Quraisy di Makkah, meskipun saat itu beliau harus menerima siksaan yang berat.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kedekatan dengan Rasulullah ﷺ dan kesungguhan dalam menuntut ilmu akan mengangkat derajat seseorang di sisi Allah dan di mata manusia. Ibnu Mas'ud tidak memiliki harta atau kedudukan duniawi, tetapi karena ilmunya dan pengorbanannya, beliau menjadi salah satu sahabat yang paling dimuliakan.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama, terutama Al-Qur'an dan hadits, sebagaimana Ibnu Mas'ud yang menghabiskan waktunya bersama Rasulullah ﷺ untuk belajar.
- Menjaga kedekatan dengan para ulama dan orang-orang shalih, karena dengan itu ilmu dan adab akan terserap.
- Mengakui kelebihan orang lain dan tidak iri hati, sebagaimana para sahabat yang saling memuji dengan tulus.
- Meneladani kezuhudan Ibnu Mas'ud yang tidak terpengaruh dengan gemerlap dunia, tetapi fokus pada akhirat.
- Menghormati para sahabat dan tidak merendahkan mereka, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.