Penjelasan Hadits Muslim No. 2427 tentang Keutamaan bertemu dan bersama Rasulullah bersama sahabat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu bukti nyata kasih sayang dan kelembutan Nabi ﷺ kepada anak-anak. Beliau ﷺ tidak hanya mengajarkan akhlak mulia, tetapi juga mempraktikkannya secara langsung dalam keseharian, termasuk kepada anak-anak kecil dari kalangan keluarganya. Kisah sederhana tentang beliau ﷺ yang memilih untuk membonceng Abdullah bin Ja'far dan Ibn Abbas, sementara meninggalkan Ibn Zubair, mengajarkan kita tentang keistimewaan para sahabat muda ini dan bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan mereka dengan penuh cinta.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Abdullah bin Ja'far, nomor 2427.

Teks Hadits (dengan harakat):

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ الشَّهِيدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُلَيْكَةَ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ لاِبْنِ الزُّبَيْرِ أَتَذْكُرُ إِذْ تَلَقَّيْنَا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَنَا وَأَنْتَ وَابْنُ عَبَّاسٍ قَالَ نَعَمْ فَحَمَلَنَا وَتَرَكَكَ.

Makna Ringkas: Abdullah bin Ja'far bertanya kepada Abdullah bin Zubair, "Apakah kamu ingat ketika kita bertemu Rasulullah ﷺ, aku, kamu, dan Ibnu Abbas?" Ia menjawab, "Ya." (Nabi ﷺ) lalu membonceng kami (Abdullah bin Ja'far dan Ibn Abbas) dan meninggalkanmu (Ibn Zubair).

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Abdullah bin Ja'far, dengan redaksi yang serupa. Ini menunjukkan keshahihan hadits ini dari dua sumber utama hadits.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

  1. Keutamaan Abdullah bin Ja'far dan Abdullah bin Abbas: Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan yang besar bagi Abdullah bin Ja'far dan Abdullah bin Abbas. Mereka berdua adalah anak-anak dari keluarga yang sangat dicintai Nabi ﷺ. Abdullah bin Ja'far adalah putra dari Ja'far bin Abi Thalib, sahabat yang gugur di Perang Mu'tah dan dijuluki "Dzul Janahain" (pemilik dua sayap di surga). Sedangkan Abdullah bin Abbas adalah sepupu Nabi ﷺ yang kelak menjadi ulama besar umat ini, yang dijuluki Habr al-Ummah (samudra ilmu umat).
  2. Kasih Sayang Nabi ﷺ kepada Anak-Anak: Peristiwa ini menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan anak-anak dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Beliau ﷺ tidak hanya berdakwah kepada orang dewasa, tetapi juga meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak, bahkan menggendong mereka di atas kendaraannya. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya pendidikan dan perhatian kepada anak-anak. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam berbagai ceramahnya sering menekankan bahwa pendidikan anak adalah dengan memberikan kasih sayang dan perhatian, bukan hanya dengan perintah dan larangan.
  3. Sikap Nabi ﷺ yang Tidak Membeda-bedakan Secara Negatif: Pertanyaan Abdullah bin Ja'far kepada Ibn Zubair, "Apakah kamu ingat...?" dan jawaban Ibn Zubair, "Ya," menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah kenangan yang menyenangkan bagi mereka semua. Meskipun Nabi ﷺ tidak membonceng Ibn Zubair saat itu, tidak ada rasa iri atau dengki di hati Ibn Zubair. Ini menunjukkan bahwa para sahabat muda ini memahami bahwa Nabi ﷺ memiliki hikmah dalam setiap tindakannya. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah memihak secara negatif, dan para sahabat pun tidak pernah salah sangka terhadap beliau ﷺ.
  4. Hikmah di Balik Tindakan Nabi ﷺ: Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari saat menjelaskan hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari, menyebutkan bahwa tindakan Nabi ﷺ yang membonceng dua orang dan meninggalkan yang lain adalah murni karena kondisi kendaraan saat itu, atau bisa jadi karena usia Abdullah bin Ja'far dan Ibn Abbas yang lebih muda sehingga lebih membutuhkan bantuan untuk dibonceng. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan kondisi dan kebutuhan orang lain, bahkan dalam hal sekecil ini.
  5. Adab Bertanya dan Mengingat Kebaikan: Hadits ini juga mengajarkan adab untuk mengingat dan menceritakan kembali kebaikan atau momen indah bersama orang-orang shalih. Abdullah bin Ja'far tidak merasa canggung untuk bertanya kepada Ibn Zubair tentang kenangan mereka bersama Nabi ﷺ. Ini adalah cara untuk menghidupkan kecintaan kepada Nabi ﷺ di dalam hati.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa membayangkan suasana di Madinah. Abdullah bin Ja'far, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Zubair adalah tiga anak kecil yang masih belia. Mereka mungkin sedang bermain atau berjalan, lalu bertemu dengan Rasulullah ﷺ yang sedang mengendarai hewan tunggangannya.

Tanpa diminta, Nabi ﷺ yang hatinya penuh kasih sayang langsung mengulurkan tangannya, membonceng Abdullah bin Ja'far dan Abdullah bin Abbas di atas kendaraannya. Beliau ﷺ membiarkan Abdullah bin Zubair berjalan karena mungkin saat itu hewan tunggangannya tidak mampu membawa tiga orang sekaligus.

Momen ini terekam jelas dalam ingatan mereka. Bertahun-tahun kemudian, ketika mereka sudah dewasa dan menjadi tokoh-tokoh penting umat, Abdullah bin Ja'far masih mengingatnya dan bertanya kepada Ibn Zubair untuk sekadar bernostalgia tentang kasih sayang Nabi ﷺ yang pernah mereka rasakan. Kenangan ini bukan hanya tentang dibonceng, tetapi tentang kedekatan fisik dan emosional dengan manusia terbaik sepanjang masa.

Hikmahnya, momen-momen kecil yang penuh kasih sayang dengan orang tua atau guru akan selalu dikenang oleh anak-anak. Ini adalah investasi emosional yang sangat berharga dalam pendidikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Teladani Kasih Sayang Nabi ﷺ: Jadikanlah Rasulullah ﷺ sebagai teladan utama dalam memperlakukan anak-anak. Penuhilah interaksi kita dengan mereka dengan kelembutan dan kasih sayang, bukan kekerasan atau kemarahan.
  2. Perhatikan Kebutuhan Anak: Sebagaimana Nabi ﷺ memperhatikan kondisi kendaraannya dan usia anak-anak, kita pun hendaknya memperhatikan kebutuhan dan kondisi anak-anak dalam mendidik mereka.
  3. Hidupkan Kenangan Baik: Biasakanlah untuk mengingat dan menceritakan kembali momen-momen indah bersama orang-orang shalih, guru, atau orang tua kita. Ini akan menumbuhkan rasa cinta dan hormat.
  4. Tanamkan Cinta kepada Nabi ﷺ: Kisahkanlah sirah dan akhlak Nabi ﷺ kepada anak-anak sejak dini, agar tumbuh dalam diri mereka kecintaan yang mendalam kepada beliau ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?