Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan peristiwa Perang Khandaq, ketika Abdullah bin Zubair masih kecil berada di benteng bersama kaum wanita, lalu melihat ayahnya (Az-Zubair bin Al-'Awwam) menunggang kuda menuju Bani Quraizhah. Ketika hal itu diceritakan kepada ayahnya, Az-Zubair radhiyallahu 'anhu mengabarkan bahwa Rasulullah ﷺ pada hari itu menyatukan kedua orang tuanya dalam satu kalimat pujian: "فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي" (biarlah ayah dan ibuku menjadi tebusanmu). Ini menunjukkan keutamaan besar Az-Zubair, dan hadits ini diletakkan Imam Muslim dalam bab keutamaan Thalhah dan Az-Zubair.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Thalhah dan Az-Zubair, no. 2416. Perawinya adalah Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya ('Urwah bin Az-Zubair).
Adapun ayat yang berkaitan dengan pujian terhadap para sahabat yang berjihad di jalan Allah, di antaranya firman Allah:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
QS. Al-Ahzab [33]: 23
"Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada yang masih menunggu; dan mereka tidak mengubah (janjinya)."
Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memuji para sahabat yang teguh dalam perjanjian dengan Allah, termasuk mereka yang berjihad pada Perang Khandaq dan peristiwa-peristiwa besar lainnya.
Penjelasan Rinci
Konteks Peristiwa (Perang Khandaq / Al-Ahzab):
Perang Khandaq terjadi pada tahun 5 H, ketika kaum musyrikin Quraisy bersama sekutu-sekutunya mengepung Madinah. Kaum Muslimin menggali parit (khandaq) sebagai benteng pertahanan. Dalam situasi genting itu, ada pula ancaman dari dalam, yaitu pengkhianatan Bani Quraizhah yang membatalkan perjanjian dengan Rasulullah ﷺ.
Kedudukan Abdullah bin Az-Zubair saat itu:
Abdullah bin Az-Zubair masih kecil (sekitar 5–7 tahun). Ia dan Umar bin Abu Salamah ditempatkan bersama kaum wanita dan anak-anak di benteng (أُطُم) milik Hassan bin Tsabit untuk perlindungan. Keduanya saling bergantian melihat ke luar benteng untuk mengamati keadaan.
Penglihatan Abdullah terhadap ayahnya:
Abdullah melihat ayahnya, Az-Zubair bin Al-'Awwam radhiyallahu 'anhu, menunggang kuda dengan perlengkapan senjata menuju Bani Quraizhah. Ini menunjukkan peran Az-Zubair sebagai salah satu pasukan berkuda terbaik Rasulullah ﷺ. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Az-Zubair termasuk sahabat yang sangat menonjol dalam keberanian dan pengabdian di medan jihad.
Kalimat "فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي":
Ketika Abdullah menceritakan penglihatannya kepada ayahnya, Az-Zubair bertanya: "Apakah engkau melihatku?" Abdullah menjawab: "Ya." Lalu Az-Zubair berkata: "Demi Allah, pada hari itu Rasulullah ﷺ telah mengumpulkan kedua orang tuaku untukku, dan beliau bersabda: 'فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي' (biarlah ayah dan ibuku menjadi tebusanmu)."
Makna dan Keutamaannya:
- Pujian langsung dari Nabi ﷺ — Ini adalah bentuk penghormatan tertinggi. Nabi ﷺ tidak mengucapkan kalimat ini kepada sembarang orang. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa kalimat "فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي" adalah ungkapan penghormatan dan doa, menunjukkan kedudukan Az-Zubair yang sangat mulia.
- Kesatuan kedua orang tua dalam satu pujian — Dalam riwayat lain (juga dalam Shahihain), kalimat ini juga diucapkan Nabi ﷺ kepada Sa'd bin Abi Waqqash pada Perang Uhud. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan kalimat ini kepada lebih dari satu sahabat, dan itu menunjukkan keutamaan mereka masing-masing, bukan berarti membatasi hanya pada satu orang.
- Keberanian Az-Zubair — Az-Zubair adalah salah satu dari sedikit sahabat yang disebut Nabi ﷺ sebagai "hawari" (penolong setia) beliau. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Setiap Nabi memiliki hawari, dan hawariku adalah Az-Zubair bin Al-'Awwam."
- Pendidikan bagi anak — Az-Zubair mengabarkan keutamaan ini kepada anaknya, Abdullah, sebagai bentuk pendidikan dan penanaman kecintaan kepada Rasulullah ﷺ serta motivasi untuk meneladani keberanian dan pengabdian.
Perbedaan pendapat ulama daftar:
Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama yang tercantum mengenai keutamaan Az-Zubair. Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, dan Ibnu Katsir sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Az-Zubair yang agung. Yang mungkin berbeda adalah penempatan bab oleh Imam Muslim: hadits ini diletakkan dalam bab keutamaan Thalhah dan Az-Zubair sekaligus, karena keduanya memiliki keutamaan yang berdekatan dan sering disebut bersama dalam konteks jihad dan pengorbanan.
Story Telling
Kisah Keberanian Az-Zubair bin Al-'Awwam di Perang Khandaq:
Pada hari-hari genting Perang Khandaq, Madinah dikepung dari segala penjuru. Kaum Muslimin menggali parit, namun ancaman dari Bani Quraizhah yang berkhianat membuat situasi semakin berbahaya. Rasulullah ﷺ membutuhkan informasi tentang gerak-gerik musuh.
Az-Zubair bin Al-'Awwam, yang dikenal sebagai salah satu penunggang kuda terbaik di kalangan sahabat, diperintahkan untuk memimpin pasukan berkuda menuju Bani Quraizhah. Dengan penuh keberanian, ia menunggang kudanya melewati medan yang berbahaya, mengenakan perlengkapan senjata lengkap.
Di dalam benteng, anaknya yang masih kecil, Abdullah bin Az-Zubair, mengintip dari balik celah benteng. Ia melihat sosok ayahnya yang gagah menunggang kuda menuju kubu Bani Quraizhah. Momen itu terukir dalam ingatannya.
Bertahun-tahun kemudian, ketika Abdullah sudah dewasa dan menjadi salah satu tokoh besar Islam, ia menceritakan pengalaman itu kepada ayahnya. Az-Zubair tersenyum dan berkata: "Anakku, apakah engkau melihatku saat itu?" Abdullah menjawab: "Ya, ayah."
Az-Zubair lalu mengucapkan kalimat yang penuh kebanggaan dan syukur: "Demi Allah, pada hari itu Rasulullah ﷺ telah mengumpulkan kedua orang tuaku untukku, dan beliau bersabda: 'Biarlah ayah dan ibuku menjadi tebusanmu.'"
Betapa agungnya kedudukan seorang sahabat yang mendapat pujian langsung dari Nabi ﷺ. Kalimat itu bukan sekadar ungkapan, tetapi doa dan pengakuan atas pengorbanan Az-Zubair di jalan Allah. (Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan Shahih Al-Bukhari dengan berbagai jalur.)
Kesimpulan Praktis
- Keutamaan sahabat Nabi ﷺ — Az-Zubair bin Al-'Awwam adalah salah satu sahabat mulia yang mendapat pujian langsung dari Rasulullah ﷺ. Kita wajib mencintai dan menghormati mereka semua.
- Pentingnya meneladani keberanian dan pengabdian — Az-Zubair mencontohkan keberanian dalam membela Islam. Kita diajarkan untuk berani dalam kebenaran sesuai kemampuan masing-masing.
- Pendidikan anak dengan kisah keutamaan — Az-Zubair mengabarkan keutamaan ini kepada anaknya. Ini mengajarkan kita untuk mendidik anak dengan kisah-kisah teladan dari generasi terbaik.
- Menjaga adab terhadap sahabat — Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar mengingatkan bahwa mencintai sahabat adalah bagian dari aqidah Ahlus Sunnah, dan mencela mereka adalah penyimpangan.
- Doa dan penghormatan — Kalimat "فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي" mengajarkan kita untuk menghormati orang-orang mulia dengan ungkapan yang penuh adab.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.