Penjelasan Hadits Muslim No. 2414 tentang Keutamaan Talhah dan Sa'd saat perang bersama Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan keutamaan besar dua sahabat mulia, yaitu Thalhah bin 'Ubaidillah dan Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhuma. Dalam salah satu peperangan yang sangat sulit, keduanya tetap setia mendampingi dan melindungi Rasulullah ﷺ ketika yang lain telah pergi. Ini menunjukkan tingginya kedudukan mereka di sisi Allah dan Rasul-Nya karena pengorbanan dan kesetiaan yang luar biasa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Thalhah dan Zubair, no. 2414. Berikut teks haditsnya:

Teks Arab (dengan harakat lengkap):

> حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ، وَحَامِدُ بْنُ عُمَرَ الْبَكْرَاوِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى، قَالُوا: حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ وَهُوَ ابْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، قَالَ: لَمْ يَبْقَ مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي بَعْضِ تِلْكَ الْأَيَّامِ الَّتِي قَاتَلَ فِيهِنَّ رَسُولُ اللهِ ﷺ غَيْرُ طَلْحَةَ وَسَعْدٍ. عَنْ حَدِيثِهِمَا.

Terjemahan: Abu 'Utsman an-Nahdi berkata, "Tidak ada yang tersisa bersama Rasulullah ﷺ pada sebagian hari-hari ketika beliau berperang, kecuali Thalhah dan Sa'd."

Kaitan dengan Ulama: Hadits ini dinukil oleh Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (15/174) dan beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah perang Uhud. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani juga menyebutkan dalam Fathul Bari (7/47) bahwa para ulama sepakat peristiwa ini terjadi pada Perang Uhud, ketika kaum muslimin tercerai-berai dan hanya sedikit yang tetap bertahan bersama Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengisyaratkan peristiwa besar dalam Perang Uhud. Ketika pasukan muslimin mengalami kekalahan sementara dan banyak yang lari meninggalkan medan perang, Rasulullah ﷺ tetap berdiri teguh di tengah bahaya. Yang tetap setia melindungi beliau saat itu hanyalah Thalhah bin 'Ubaidillah dan Sa'd bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhuma.

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat agung bagi keduanya. Beliau berkata, "Maknanya, pada sebagian peperangan Nabi ﷺ, tidak ada yang tersisa bersama beliau selain Thalhah dan Sa'd. Ini adalah keutamaan yang nyata bagi keduanya." (Syarah Shahih Muslim, 15/174)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa keteguhan Thalhah dan Sa'd ini bukan perkara sepele. Saat itu, keadaan sangat kacau dan bahaya mengancam nyawa. Namun keduanya memilih tetap di sisi Rasulullah ﷺ, bahkan rela menjadi tameng bagi beliau. Ini adalah puncak kejujuran iman dan kecintaan yang tulus kepada Allah dan Rasul-Nya. (Syarah Riyadhush Shalihin, 4/187)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah tentang para sahabat yang teguh, menyebutkan bahwa keteguhan seperti inilah yang dimaksud dalam QS. Al-Hasyr [59]: 8-9, yaitu mereka yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. (Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim, 8/92)

Perlu diketahui bahwa dalam riwayat lain yang lebih panjang, disebutkan bahwa pada Perang Uhud, Thalhah mengalami luka yang sangat banyak—lebih dari 70 luka—karena melindungi Rasulullah ﷺ dari panah dan pedang musuh. Beliau bahkan mengorbankan tangannya untuk menahan serangan ketika Rasulullah ﷺ dalam bahaya. Ini menunjukkan bahwa keutamaan yang disebut dalam hadits ini bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan atas pengorbanan nyata yang telah mereka lakukan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada Perang Uhud, ketika kaum muslimin tercerai-berai dan musuh mengepung Rasulullah ﷺ, Abu 'Utsman an-Nahdi—perawi hadits ini—menyaksikan sendiri bagaimana Thalhah dan Sa'd bertarung dengan gagah berani di sisi beliau. Saat itu, Thalhah melindungi Rasulullah ﷺ dengan tubuhnya, dan beliau ﷺ bersabda tentang Thalhah: "Barangsiapa ingin melihat seorang syahid yang masih berjalan di muka bumi, maka lihatlah Thalhah bin 'Ubaidillah." (HR. At-Tirmidzi, dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 3739)

Ketika Rasulullah ﷺ melihat keadaan Thalhah yang terluka parah, beliau bersabda: "Thalhah telah mewajibkan (kematian syahid) atas dirinya." (HR. Muslim, no. 2415)

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kedudukan mulia di sisi Allah tidak datang dengan sendirinya, melainkan melalui pengorbanan, kesetiaan, dan keikhlasan dalam membela agama-Nya. Thalhah dan Sa'd tidak mencari pujian, tetapi Allah yang Maha Mengetahui membalas ketulusan mereka dengan menyebutkan keutamaan mereka dalam hadits-hadits shahih yang akan terus dibaca hingga hari kiamat.

Kesimpulan Praktis

  1. Meneladani kesetiaan — Dalam keadaan sulit, seorang mukmin sejati tetap bertahan di jalan kebenaran, tidak lari dari ujian.
  2. Menghormati para sahabat — Kita wajib mencintai dan menghormati seluruh sahabat Rasulullah ﷺ, terutama yang memiliki keutamaan besar seperti Thalhah dan Sa'd.
  3. Memahami pengorbanan — Keimanan yang benar menuntut kesediaan berkorban, baik dengan harta, tenaga, maupun jiwa, sesuai kemampuan kita.
  4. Menjaga lisan — Jangan pernah mencela atau merendahkan para sahabat, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?