Penjelasan Hadits Muslim No. 2413 tentang Larangan mengusir orang-orang yang berdoa kepada Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan sebab turunnya (asbabun nuzul) QS. Al-An'am [6]: 52. Ayat ini turun ketika orang-orang musyrik Quraisy meminta Nabi ﷺ untuk menjauhkan kaum muslimin yang dianggap lemah dan miskin, seperti Bilal, Ammar, dan lainnya. Allah ﷻ dengan tegas melarang Nabi-Nya untuk mengusir mereka, karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas beribadah dan mengharap ridha-Nya. Hadits ini mengajarkan kita tentang kemuliaan orang-orang yang ikhlas, larangan merendahkan mereka, dan pentingnya menjaga persaudaraan atas dasar iman, bukan status sosial.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-An'am [6]: 52:

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ

"Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, sehingga kamu mengusir mereka; sebab itu kamu termasuk orang-orang yang zalim."

Hadits Terkait:

Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Sahabat, Bab Keutamaan Sa'd bin Abi Waqqas, nomor 2413. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya secara ringkas.

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Sa'd bin Abi Waqqas dan beberapa sahabat lainnya. Beliau menukil riwayat-riwayat yang menjelaskan konteks turunnya ayat ini. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di (Taisir Al-Karim Ar-Rahman) juga menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran tentang keikhlasan dan larangan merendahkan orang-orang beriman yang sederhana keadaannya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu riwayat tentang asbabun nuzul (sebab turunnya) QS. Al-An'am [6]: 52. Mari kita pahami dengan baik.

Pertama: Konteks Turunnya Ayat

Sa'd bin Abi Waqqas radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan enam orang sahabat yang terdiri dari beliau sendiri, Ibnu Mas'ud, dan empat orang lainnya. Para ulama menyebutkan mereka adalah: Sa'd bin Abi Waqqas, Abdullah bin Mas'ud, Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir, Shuhaib bin Sinan, dan Salman Al-Farisi (atau Khabbab bin Al-Arat menurut sebagian riwayat). Mereka adalah kaum muslimin yang berasal dari kalangan lemah, miskin, dan para budak yang telah dimerdekakan.

Orang-orang musyrik Quraisy yang sombong berkata kepada Nabi ﷺ, "Jangan dekatkan orang-orang ini kepadamu. Jika engkau mengusir mereka, kami akan duduk bersamamu dan mendengarkan ajaranmu." Mereka merasa gengsi duduk bersama orang-orang yang mereka anggap hina. Maka Allah ﷻ menurunkan ayat ini sebagai teguran dan larangan yang tegas kepada Nabi ﷺ agar tidak mengusir orang-orang mukmin yang ikhlas itu.

Kedua: Makna Ayat

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan Nabi ﷺ untuk tetap bersama orang-orang yang berdoa dan beribadah kepada Allah di pagi dan petang hari, yaitu shalat Subuh dan shalat Ashar (atau secara umum semua waktu ibadah). Mereka melakukan itu semua karena mengharap wajah Allah ﷻ, bukan karena kepentingan duniawi.

Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah ﷻ memberitahukan bahwa orang-orang mukmin yang sederhana ini tidak ada hubungannya dengan hisab (perhitungan amal) para pembesar Quraisy, dan para pembesar itu pun tidak ada hubungannya dengan hisab mereka. Maksudnya, setiap orang bertanggung jawab atas amalnya sendiri. Maka tidak pantas Nabi ﷺ mengusir mereka hanya karena tekanan orang-orang musyrik. Jika beliau melakukannya, beliau akan termasuk orang-orang yang zalim.

Ketiga: Pelajaran dari Hadits

  1. Kemuliaan di sisi Allah bukan berdasarkan status sosial. Orang-orang miskin dan lemah yang ikhlas lebih mulia di sisi Allah daripada pembesar Quraisy yang sombong dan kafir. Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa keikhlasan adalah ruh dari setiap amal, dan Allah melihat hati hamba-Nya, bukan penampilan lahiriahnya.
  2. Larangan merendahkan orang-orang beriman. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan mengusir atau merendahkan orang-orang yang beriman, sekalipun mereka dari kalangan fakir dan miskin.
  3. Menjaga persaudaraan iman. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya tentang hikmah-hikmah syariat menjelaskan bahwa Allah ﷻ ingin mengajarkan kepada kaum muslimin bahwa ikatan iman lebih kuat daripada ikatan nasab, harta, atau kedudukan.
  4. Adab Nabi ﷺ dalam menerima teguran Allah. Nabi ﷺ langsung menerima perintah Allah tanpa membantah. Ini menunjukkan ketaatan total seorang hamba kepada Rabb-nya.

Story Telling

Ada kisah indah yang diriwayatkan dari Salman Al-Farisi radhiyallahu 'anhu. Ketika ia datang menemui Nabi ﷺ, para sahabat yang mulia duduk di sekeliling beliau. Salman adalah seorang yang sebelumnya berstatus budak dan berasal dari Persia. Ketika ia datang, para sahabat berebut tempat duduk di dekat beliau karena kecintaan mereka kepada Nabi ﷺ.

Namun ada satu pelajaran yang lebih dalam. Ketika 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menjadi khalifah, ia pernah berkata kepada Salman, "Wahai Salman, siapakah tuanmu?" Salman menjawab, "Tuanku adalah Allah, dan aku telah dimerdekakan oleh Rasulullah ﷺ." Kemudian 'Umar berkata, "Benar." Lalu 'Umar bertanya lagi, "Dari mana engkau mendapatkan harta ini?" Salman menjawab, "Aku tidak memiliki harta wahai Amirul Mukminin." 'Umar tersenyum dan berkata, "Wahai Salman, jika engkau mau, aku bisa ceritakan tentang dirimu di hadapan orang-orang." Salman menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, biarkanlah aku menjadi hamba yang biasa saja."

Kisah ini menunjukkan kerendahan hati para sahabat. Mereka yang dulunya dianggap hina oleh orang-orang musyrik, justru menjadi pemimpin-pemimpin besar Islam setelahnya. Salman menjadi gubernur di Madain, Bilal menjadi muadzin pertama Islam, dan Abdullah bin Mas'ud menjadi ulama besar di kalangan sahabat. Inilah bukti bahwa Allah ﷻ meninggikan orang-orang yang ikhlas, sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain bahwa kemuliaan hanya di sisi Allah bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah merendahkan orang lain karena status sosial, ekonomi, atau penampilannya. Kemuliaan hakiki di sisi Allah adalah ketakwaan dan keikhlasan.
  2. Jaga persaudaraan dengan semua kaum muslimin, baik yang kaya maupun miskin, yang terpandang maupun yang sederhana. Duduklah bersama orang-orang shalih, karena mereka adalah sebaik-baik teman.
  3. Ikhlaslah dalam beribadah — lakukan semua amal hanya karena mengharap wajah Allah ﷻ, bukan karena ingin dipuji atau dilihat orang.
  4. Terimalah nasihat dengan lapang dada, sebagaimana Nabi ﷺ menerima teguran Allah dalam ayat ini dengan penuh ketaatan.
  5. Jangan biarkan tekanan orang lain membuat kita meninggalkan kebenaran atau menjauhi orang-orang yang Allah cintai.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?