Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه, sampai-sampai Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه memuji dan mendoakannya di depan jenazahnya, serta berharap Umar dikumpulkan Allah bersama Nabi ﷺ dan Abu Bakr رضي الله عنه. Pujian Ali ini bukan sekadar perasaan pribadi, tetapi berdasarkan sabda Nabi ﷺ yang sering ia dengar tentang kebersamaan beliau dengan Abu Bakr dan Umar. Hadits ini juga menjadi dalil kecintaan dan penghormatan salaf terhadap sesama sahabat, serta larangan mencela mereka.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Umar, no. 2389. Perawi sahabatnya adalah Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما, dan jalurnya melalui Ibnu Abi Mulaikah.
Lafaz penting dari hadits:
عَنْ عَلِيٍّ فَتَرَحَّمَ عَلَى عُمَرَ وَقَالَ: مَا خَلَّفْتَ أَحَدًا أَحَبَّ إِلَيَّ أَنْ أَلْقَى اللَّهَ بِمِثْلِ عَمَلِهِ مِنْكَ
Terjemah ringkas: “Ali mendoakan rahmat untuk Umar dan berkata: ‘Engkau tidak meninggalkan seorang pun yang lebih aku cintai untuk bertemu Allah dengan amal seperti amalnya daripada engkau.’”
Dan sabda Nabi ﷺ yang disebut Ali:
جِئْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَدَخَلْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ، وَخَرَجْتُ أَنَا وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ
Terjemah ringkas: “Aku datang bersama Abu Bakr dan Umar; aku masuk bersama Abu Bakr dan Umar; aku keluar bersama Abu Bakr dan Umar.”
Adapun ayat yang sangat relevan dengan tema keutamaan sahabat dan larangan mencela mereka:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
QS. At-Taubah [9]: 100.
Terjemah ringkas: “Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah; dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini mencakup para sahabat Nabi ﷺ, dan Allah telah menyatakan keridhaan-Nya kepada mereka. Karena itu, mencela mereka berarti menentang pujian dan keridhaan Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
Pertama, keutamaan Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه. Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه bersaksi bahwa tidak ada seorang pun yang lebih ia cintai untuk bertemu Allah dengan amal seperti amal Umar. Ini pujian yang sangat tinggi dari seorang sahabat mulia, menantu Nabi ﷺ, dan salah satu dari empat khalifah yang mendapat petunjuk. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan Ali ini menunjukkan pengakuan beliau atas keutamaan Umar dan kedudukannya yang tinggi di sisi Allah.
Kedua, sabda Nabi ﷺ “aku datang bersama Abu Bakr dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan Umar” menunjukkan kedekatan khusus mereka bertiga dengan Nabi ﷺ. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa penyebutan berulang dalam keadaan datang, masuk, dan keluar menunjukkan kebersamaan yang erat dan terus-menerus, bukan sekadar sekali-dua kali. Ini menjadi isyarat keutamaan Abu Bakr dan Umar serta kedudukan mereka bersama Nabi ﷺ.
Ketiga, Ali رضي الله عنه berharap Umar dikumpulkan bersama Nabi ﷺ dan Abu Bakr. Ini menunjukkan keyakinan Ali akan keutamaan Umar dan harapan baik terhadapnya. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya tentang keutamaan sahabat menjelaskan bahwa sikap salaf adalah saling mencintai, saling memuji, dan tidak saling mencela. Perbedaan pendapat yang pernah terjadi di antara mereka tidak menghalangi mereka untuk saling mendoakan dan mengakui keutamaan.
Keempat, hadits ini juga menjadi bantahan terhadap orang-orang yang mencela Umar atau mencela Ali, atau mempertentangkan mereka. Ali sendiri memuji Umar di depan jenazahnya, di hadapan banyak orang. Ini menunjukkan bahwa sikap Ahlus Sunnah adalah mencintai seluruh sahabat, mengakui keutamaan mereka sesuai kedudukan yang Allah dan Rasul-Nya tetapkan, dan menahan diri dari mencela mereka.
Ibnu Taymiyyah dalam kitabnya tentang aqidah Ahlus Sunnah menegaskan bahwa Ahlus Sunnah mencintai seluruh sahabat Nabi ﷺ, tidak mencela seorang pun dari mereka, dan mengakui keutamaan Abu Bakr, lalu Umar, lalu Utsman, lalu Ali رضي الله عنهم. Ini adalah urutan keutamaan yang disepakati Ahlus Sunnah berdasarkan dalil-dalil shahih.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang detail keutamaan sahabat, maka yang paling kuat adalah pendapat Ahlus Sunnah yang mencintai semuanya dan mengakui keutamaan masing-masing sesuai dalil, tanpa ghuluw dan tanpa merendahkan.
Story Telling
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim dan kitab-kitab keutamaan sahabat bahwa ketika Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه wafat, jenazahnya diletakkan di atas tempat tidurnya. Orang-orang berkumpul mengelilinginya, mendoakan dan memujinya. Ibnu Abbas رضي الله عنهما, yang saat itu masih muda, berada di antara mereka. Tiba-tiba ada seseorang yang menggenggam bahunya dari belakang. Ibnu Abbas menoleh, dan ternyata dia adalah Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه.
Ali kemudian mendoakan rahmat untuk Umar dan berkata dengan penuh penghormatan: “Engkau tidak meninggalkan seorang pun yang lebih aku cintai untuk bertemu Allah dengan amal seperti amalnya daripada engkau. Demi Allah, aku berharap Allah menyatukanmu dengan dua sahabatmu.” Lalu Ali menyebutkan sabda Nabi ﷺ yang sering ia dengar tentang kebersamaan Nabi ﷺ dengan Abu Bakr dan Umar.
Hikmahnya: betapa indahnya akhlak salaf. Meskipun pernah terjadi perbedaan pendapat dalam beberapa masalah ijtihad, Ali tetap mengakui keutamaan Umar, mendoakannya, dan berharap kebaikan untuknya. Ini mengajarkan kita untuk menjaga lisan, mencintai para sahabat, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk mencela.
Kesimpulan Praktis
- Cintailah seluruh sahabat Nabi ﷺ, terutama Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali رضي الله عنهم, serta akui keutamaan mereka sesuai dalil.
- Jangan mencela atau merendahkan sahabat, karena Allah telah menyatakan ridha kepada mereka dalam QS. At-Taubah [9]: 100.
- Teladani akhlak Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه yang memuji dan mendoakan Umar, bukan mencela atau mempertentangkan.
- Pahami bahwa keutamaan Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه diakui oleh Nabi ﷺ dan para sahabat, termasuk Ali.
- Jaga lisan dan tulisan dari perkataan yang dapat merendahkan sahabat, karena itu termasuk perkara besar dalam aqidah Ahlus Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.