Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil paling agung yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Isinya tentang kabar dekatnya ajal Rasulullah ﷺ, yang langsung dipahami oleh Abu Bakar karena kedalaman ilmunya. Hadits ini juga menegaskan bahwa Abu Bakar adalah manusia yang paling utama di sisi Nabi ﷺ dalam hal persahabatan, harta, dan kedudukan, serta penetapan kekhalifahannya setelah Nabi ﷺ wafat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Muslim:
Teks hadits yang Anda sertakan adalah riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan Para Sahabat, Bab Keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq, no. 2382, dari sahabat Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Allah ﷻ berfirman tentang pilihan antara dunia dan akhirat:
وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ خَيْرٌ لِّلْاَبْرَارِ
"Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbuat baik." (QS. Ali 'Imran [3]: 198)
Kaitan dengan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Abu Bakar yang sangat besar, dan bahwa beliau adalah orang yang paling memahami maksud Rasulullah ﷺ.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits ini secara panjang lebar dalam konteks keutamaan Abu Bakar dan penetapan kekhalifahannya.
- Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin dan kitab-kitabnya menjelaskan bahwa pemahaman Abu Bakar yang langsung menangis adalah bukti kecerdasan dan kedekatannya dengan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Makna Hadits
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran besar:
1. Kabar Wafatnya Nabi ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada seorang hamba yang diberi pilihan oleh Allah antara keindahan dunia atau apa yang ada di sisi Allah, dan hamba itu memilih apa yang ada di sisi Allah. Para sahabat yang hadir tidak memahami maksudnya, tetapi Abu Bakar langsung menangis karena beliau memahami bahwa yang dimaksud adalah Rasulullah ﷺ sendiri. Ini adalah isyarat bahwa ajal Nabi ﷺ sudah dekat.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa tangisan Abu Bakar adalah karena kesedihannya mengetahui bahwa perpisahan dengan Rasulullah ﷺ akan segera terjadi. Beliau lebih memahami maksud Nabi ﷺ daripada para sahabat lainnya karena kedekatannya yang luar biasa dengan beliau.
2. Keutamaan Abu Bakar dalam Harta dan Persahabatan
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling dermawan kepadaku dalam hal harta dan persahabatannya adalah Abu Bakar."
Ini menegaskan bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling banyak berkorban. Kita tahu dari sirah bahwa Abu Bakar memerdekakan banyak budak, membelanjakan hartanya untuk dakwah, dan selalu mendampingi Nabi ﷺ dalam setiap keadaan, termasuk saat hijrah ke Madinah.
Syaikh Al-Utsaimin menjelaskan bahwa kata "amann" (أَمَنَّ) dalam hadits ini bermakna paling banyak memberikan kebaikan dan pertolongan. Abu Bakar adalah orang yang paling banyak memberikan hartanya untuk kepentingan Islam.
3. Larangan Mengangkat Kekasih Selain Allah
Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya aku boleh mengambil kekasih (khalil) selain Tuhanku, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku, tetapi persaudaraan Islam dan kasih sayang (tetap terjalin)."
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa khalil adalah tingkatan cinta yang paling tinggi, dan Nabi ﷺ hanya memiliki Allah sebagai khalil-Nya. Ini menunjukkan bahwa cinta kepada Abu Bakar adalah cinta yang paling tinggi setelah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
4. Penetapan Kekhalifahan Abu Bakar
Sabda Nabi ﷺ: "Tutuplah semua pintu kecil (khusyukh) di masjid ini kecuali pintu kecil Abu Bakar."
Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa perintah ini adalah isyarat bahwa Abu Bakar akan menjadi khalifah setelah Nabi ﷺ, karena hanya beliau yang diizinkan memiliki akses khusus ke masjid. Ini juga menunjukkan bahwa Abu Bakar akan selalu bersama kaum muslimin dalam urusan agama mereka.
Kedudukan Hadits Ini
Hadits ini termasuk hadits yang sangat agung karena:
- Menjelaskan keutamaan Abu Bakar secara komprehensif
- Menunjukkan kecerdasan dan pemahaman Abu Bakar
- Menjadi dalil penetapan kekhalifahan Abu Bakar
- Mengajarkan adab mencintai sahabat Nabi ﷺ
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam berbagai kesempatan menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang keutamaan Abu Bakar ini adalah bantahan terhadap mereka yang merendahkan kedudukan beliau, dan menjadi dalil bahwa beliau adalah manusia terbaik setelah para nabi.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Nabi ﷺ menyampaikan hadits ini, para sahabat yang hadir tidak memahami maksudnya. Mereka hanya mendengar kabar tentang seorang hamba yang memilih akhirat. Namun Abu Bakar langsung menangis tersedu-sedu.
Para sahabat heran dan bertanya-tanya mengapa Abu Bakar menangis. Kemudian Abu Bakar berkata: "Biarlah ayah dan ibu kami menjadi tebusan untukmu, wahai Rasulullah."
Abu Bakar memahami bahwa Rasulullah ﷺ sedang mengabarkan tentang dirinya sendiri. Beliau tahu bahwa Nabi ﷺ akan segera meninggalkan mereka. Kesedihan yang mendalam membuatnya tidak kuasa menahan air mata.
Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menyebutkan bahwa setelah peristiwa ini, Abu Bakar semakin dekat dengan Nabi ﷺ dan selalu berada di sisinya hingga akhir hayat Rasulullah ﷺ. Dan setelah Nabi ﷺ wafat, Abu Bakar-lah yang menjadi khalifah pertama, memimpin umat dengan keteguhan dan kebijaksanaan.
Hikmah dari kisah ini: kedekatan dengan Nabi ﷺ melahirkan pemahaman yang dalam, dan pemahaman yang dalam melahirkan kecintaan yang tulus.
Kesimpulan Praktis
- Mencintai Abu Bakar adalah bagian dari iman. Barangsiapa yang membenci beliau, maka ia telah menyimpang dari jalan Ahlus Sunnah.
- Meneladani pengorbanan Abu Bakar dalam hal harta dan jiwa untuk membela Islam.
- Belajar memahami Al-Qur'an dan Sunnah dengan benar, sebagaimana Abu Bakar memahami isyarat Nabi ﷺ dengan cepat karena kedekatannya.
- Mendahulukan akhirat daripada dunia, sebagaimana pilihan Nabi ﷺ yang memilih apa yang ada di sisi Allah.
- Menghormati para sahabat dan tidak merendahkan mereka, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.