Penjelasan Hadits Muslim No. 2380 tentang Kisah Nabi Musa mencari Khidir yang lebih berilmu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan perjalanan Nabi Musa `alaihissalam` mencari Nabi Khidir `alaihissalam` untuk belajar darinya. Kisah ini mengajarkan kita beberapa pelajaran penting: pertama, ilmu yang paling utama adalah ilmu yang Allah berikan, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui segala sesuatu; kedua, seorang penuntut ilmu harus bersabar dan rendah hati; ketiga, ada perkara-perkara yang dilakukan oleh para nabi dan wali Allah yang lahirnya tampak aneh, tetapi di balik itu ada hikmah yang hanya Allah ketahui. Hadits ini juga menegaskan bahwa Nabi Musa yang bertemu Khidir adalah Musa yang diutus kepada Bani Isra'il, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Keutamaan, Bab Keutamaan Khidir `alaihissalam` (no. 2380), dari sahabat Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu. Kisah ini juga disebutkan dalam Al-Qur'an pada surat Al-Kahfi ayat 60-82.

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

QS. Al-Kahfi [18]: 60-61

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا ۝ فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا

Artinya: "Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sampai sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.' Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai tentang ikan mereka, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu."

QS. Al-Kahfi [18]: 65

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

Artinya: "Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami."

Hadits terkait:

Hadits yang sedang kita bahas ini adalah hadits shahih riwayat Imam Muslim. Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dari sahabat Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk tentang siapa Nabi Musa yang dimaksud dan pelajaran-pelajaran yang terkandung di dalamnya. Ibnu Katsir rahimahullah juga membahas kisah ini secara mendalam dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim ketika menafsirkan surat Al-Kahfi.

Penjelasan Rinci

1. Siapakah Nabi Musa yang Bertemu Khidir?

Dalam hadits ini, Sa'id bin Jubair bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang pendapat Nauf Al-Bikali yang mengatakan bahwa Musa yang bertemu Khidir bukanlah Musa yang diutus kepada Bani Isra'il. Ibnu Abbas dengan tegas membantahnya dan berkata: "Musuh Allah berbohong." Beliau kemudian menyebutkan hadits dari Ubay bin Ka'ab bahwa Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Musa yang bertemu Khidir adalah Musa yang berdiri berkhutbah di hadapan Bani Isra'il.

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa pendapat yang benar adalah bahwa Musa tersebut adalah Nabi Musa bin 'Imran, Rasul Bani Isra'il, dan inilah yang disepakati oleh para ulama Ahlus Sunnah.

2. Pelajaran tentang Adab Ilmu

Ketika Nabi Musa ditanya, "Siapakah manusia yang paling berilmu?" Beliau menjawab, "Akulah yang paling berilmu." Allah menegur beliau karena tidak mengembalikan ilmu itu kepada Allah. Ini adalah pelajaran besar: seorang hamba tidak boleh merasa dirinya paling berilmu, karena ilmu yang sesungguhnya hanyalah milik Allah. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa seorang alim hendaknya mengakui bahwa masih ada yang lebih alim darinya, dan ilmu Allah itu tidak terbatas.

3. Perjalanan Mencari Ilmu

Allah memerintahkan Musa untuk membawa ikan dalam keranjang, dan ketika ikan itu hilang di pertemuan dua laut, di situlah ia akan bertemu dengan Khidir. Ini menunjukkan bahwa mencari ilmu memerlukan kesungguhan dan perjalanan yang panjang. Musa `alaihissalam` berkata, "Aku tidak akan berhenti berjalan sampai aku sampai ke pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan selama bertahun-tahun." Ini adalah teladan dalam menuntut ilmu: bersabar dan tidak mudah menyerah.

4. Kisah Tiga Peristiwa

Khidir melakukan tiga hal yang tampak aneh:

  • Melubangi perahu milik orang-orang miskin yang telah menolong mereka
  • Membunuh seorang anak kecil
  • Menegakkan dinding di sebuah kampung yang penduduknya tidak mau menjamu mereka

Nabi Musa tidak sabar dan bertanya-tanya, sehingga akhirnya Khidir menjelaskan hikmah di balik semua itu:

  • Perahu itu akan dirampas oleh raja yang zalim, maka Khidir merusaknya agar tidak dirampas
  • Anak itu akan menjadi kafir dan memaksa kedua orang tuanya yang beriman untuk kafir, maka Allah menggantinya dengan anak yang lebih baik
  • Dinding itu menyimpan harta untuk dua anak yatim, dan di bawahnya ada harta mereka; Allah ingin menjaga harta itu sampai mereka dewasa

5. Ilmu Manusia Sangat Sedikit

Di akhir hadits, Khidir memberikan perumpamaan: seekor burung pipit yang mencelupkan paruhnya ke laut, lalu berkata, "Ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah hanyalah seperti air yang menempel di paruh burung itu dibandingkan dengan lautan." Ini menunjukkan betapa kecilnya ilmu manusia dibandingkan ilmu Allah.

Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan adanya ilmu yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang shalih secara khusus (ilmu ladunni), namun tetap saja semua ilmu itu sangat kecil dibandingkan ilmu Allah.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa mengambil kisah yang sangat indah tentang adab Nabi Musa dalam menuntut ilmu. Beliau adalah seorang nabi yang mulia, namun ketika mendengar ada seorang hamba yang lebih alim darinya, beliau tidak merasa gengsi untuk mencarinya dan belajar darinya. Beliau bahkan membawa ikan sebagai tanda dan berjalan jauh untuk menemukannya.

Ketika bertemu Khidir, Musa berkata dengan penuh adab: "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" Ini adalah adab seorang penuntut ilmu: merendahkan diri, meminta izin, dan siap menerima bimbingan.

Namun Musa juga manusia biasa yang memiliki rasa ingin tahu. Ketika melihat hal-hal yang tampak aneh, beliau tidak sabar dan bertanya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Semoga Allah merahmati Musa. Seandainya ia bersabar, niscaya akan diceritakan kepada kita kisah mereka berdua." Ini menunjukkan bahwa kesabaran adalah kunci untuk mendapatkan ilmu yang lebih dalam.

Kesimpulan Praktis

  1. Rendah hati dalam ilmu — Jangan pernah merasa diri paling pandai, karena ilmu Allah itu luas dan tidak terbatas.
  2. Bersungguh-sungguh mencari ilmu — Nabi Musa menempuh perjalanan jauh untuk belajar; kita pun harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu agama.
  3. Bersabar dalam belajar — Ada kalanya kita tidak langsung memahami hikmah di balik suatu pelajaran; butuh kesabaran dan kepercayaan kepada guru.
  4. Menghormati guru — Nabi Musa meminta izin dan berjanji tidak akan bertanya sebelum diizinkan; ini contoh adab murid kepada gurunya.
  5. Meyakini bahwa semua ketentuan Allah ada hikmahnya — Apa yang tampak buruk bisa jadi baik, dan apa yang tampak baik bisa jadi buruk; hanya Allah yang mengetahui segalanya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?