Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2369 tentang Keutamaan Nabi Ibrahim sebagai sebaik-baik makhluk

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab yang sangat mulia: ketika ada seseorang yang memuji Nabi ﷺ dengan pujian yang berlebihan, beliau segera meluruskannya dan mengarahkan pujian tersebut kepada Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah pribadi yang sangat tawadhu' (rendah hati) dan tidak ingin dipuji secara berlebihan. Beliau mengajarkan bahwa keutamaan dan kemuliaan hakikatnya milik Allah, dan para nabi adalah hamba-hamba pilihan-Nya yang masing-masing memiliki kedudukan mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: 'Wahai sebaik-baik makhluk.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Yang demikian itu adalah Ibrahim 'alaihis salam.'" (HR. Muslim, no. 2369)

Penjelasan Ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarh Shahih Muslim (15/46) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa agungnya akhlak Nabi ﷺ. Beliau tidak menerima pujian yang berlebihan dan segera mengembalikan keutamaan itu kepada Nabi Ibrahim 'alaihis salam. Ini adalah bentuk tawadhu' yang luar biasa.

Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fath al-Bari (6/615) ketika membahas hadits serupa, beliau menjelaskan bahwa makna sabda Nabi ﷺ "Dia adalah Ibrahim" bukan berarti Nabi Ibrahim lebih utama dari Nabi Muhammad ﷺ secara mutlak. Namun ini adalah bentuk tawadhu' dan pengajaran adab. Para ulama sepakat bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah pemimpin seluruh anak Adam dan yang paling mulia di sisi Allah.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (1/456) menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk tidak memuji seseorang secara berlebihan, apalagi sampai melampaui batas. Pujian yang baik adalah yang sesuai dengan kenyataan dan tidak berlebihan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya pada Kitab Keutamaan, Bab Keutamaan Ibrahim Al-Khalil. Peristiwa ini terjadi ketika seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan memanggil beliau dengan sebutan "Ya khairal bariyyah" (Wahai sebaik-baik makhluk). Mendengar pujian tersebut, Nabi ﷺ segera meluruskannya dengan mengatakan bahwa yang dimaksud dengan sebaik-baik makhluk adalah Nabi Ibrahim 'alaihis salam.

Para ulama memberikan beberapa penjelasan mengenai makna hadits ini:

  1. Sikap Tawadhu' Nabi ﷺ: Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah akhlak mulia Nabi ﷺ yang tidak suka dipuji secara berlebihan. Beliau mengajarkan kepada umatnya untuk tidak memuji seseorang secara berlebihan karena dikhawatirkan akan menimbulkan kesombongan.
  2. Penghormatan kepada Nabi Ibrahim: Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Bahjah Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menyebut nama Nabi Ibrahim karena beliau adalah bapak para nabi dan memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah. Ini juga menunjukkan bahwa para nabi saling menghormati dan mengakui keutamaan satu sama lain.
  3. Bukan Perbandingan Keutamaan: Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah menegaskan bahwa hadits ini tidak menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim lebih utama dari Nabi Muhammad ﷺ. Sebab, dalil-dalil lain yang banyak dan shahih menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah makhluk yang paling mulia. Sabda Nabi ﷺ ini adalah bentuk tawadhu' dan pengajaran adab.
  4. Larangan Pujian Berlebihan: Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Janganlah kalian memujiku secara berlebihan sebagaimana orang-orang Nasrani memuji Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya." (HR. Bukhari, no. 3445)

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah, beliau berkata: "Seorang laki-laki berkata kepada al-Hasan al-Bashri: 'Wahai sebaik-baik manusia.' Maka al-Hasan berkata: 'Jangan kau katakan demikian. Cukuplah engkau mengatakan bahwa aku adalah seorang yang berusaha menjadi baik, dan aku tidak akan selamat dari dosa.'" (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)

Kisah ini menunjukkan bagaimana para salafush shalih meneladani akhlak Nabi ﷺ dalam menolak pujian yang berlebihan. Mereka sangat menjaga hati dari kesombongan dan selalu mengingatkan bahwa kesempurnaan hanya milik Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Tawadhu' dalam Menerima Pujian: Jika dipuji, janganlah merasa bangga dan sombong. Sebaliknya, kembalikan segala pujian kepada Allah dan sadari bahwa kita hanyalah hamba yang penuh kekurangan.
  2. Tidak Memuji Secara Berlebihan: Hindari memuji seseorang dengan pujian yang melampaui batas, karena dikhawatirkan akan menimbulkan fitnah kesombongan.
  3. Menghormati Para Nabi: Kita wajib mengimani dan menghormati seluruh nabi dan rasul tanpa membeda-bedakan, namun tetap meyakini bahwa Nabi Muhammad ﷺ adalah yang paling utama.
  4. Meneladani Akhlak Nabi: Belajar dari sikap Nabi ﷺ yang selalu rendah hati meskipun beliau adalah makhluk yang paling mulia di sisi Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.