Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2363 tentang Urusan dunia lebih diketahui manusia, bukan wahyu

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah prinsip penting: Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sempurna dalam urusan agama, namun dalam urusan duniawi yang bersifat teknis dan pengalaman, para sahabat lebih tahu. Ketika beliau memberikan saran tentang penyerbukan kurma dan hasilnya tidak baik, beliau dengan rendah hati menyatakan, "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian." Ini menunjukkan bahwa wahyu tidak turun untuk mengatur setiap detail teknis kehidupan dunia, melainkan untuk urusan agama dan akhirat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fadhail (Keutamaan), Bab Wujub Imtitsal Ma Qalahu Syar'an (Bab Kewajiban Mematuhi Apa yang Datang dari Syariat) — Shahih Muslim, no. 2363, dari jalur Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya ('Urwah bin Az-Zubair) dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, dan dari Tsabit dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sebutkan sudah lengkap dengan sanad dan matan. Berikut poin pentingnya:

Teks Arab hadits (bagian matan):

مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ: "لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ" قَالَ: فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ: "مَا لِنَخْلِكُمْ؟" قَالُوا: قُلْتَ كَذَا وَكَذَا. قَالَ: "أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ"

Terjemahan: "Nabi ﷺ melewati sekelompok orang yang sedang mengawinkan pohon kurma (menyerbukkan), lalu beliau bersabda: 'Seandainya kalian tidak melakukannya, niscaya kurma itu akan tetap baik.' Maka (mereka meninggalkannya) dan keluarlah kurma yang rusak (kering). Lalu beliau melewati mereka dan bertanya: 'Ada apa dengan pohon kurma kalian?' Mereka menjawab: 'Engkau telah berkata begini dan begitu.' Beliau bersabda: 'Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.'"

Dalil pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam." (QS. Al-Anbiya' [21]: 107)

Ayat ini menunjukkan bahwa kerasulan beliau adalah rahmat, dan salah satu bentuk rahmat itu adalah beliau tidak membebani umatnya dengan hal-hal yang tidak berkaitan dengan wahyu.

Penjelasan ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (15/116-117) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang yang lebih berilmu dalam urusan agama untuk merujuk kepada orang yang lebih ahli dalam urusan duniawi yang bersifat teknis. Beliau juga menegaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian" adalah pengakuan bahwa urusan duniawi yang bersifat ijtihad dan pengalaman tidak termasuk dalam lingkup kenabian, kecuali jika ada wahyu yang mengaturnya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu dalil penting dalam memahami batas-batas sunnah Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan beberapa poin:

1. Perbedaan antara urusan wahyu dan urusan duniawi

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu' Fatawa (18/8-10) menjelaskan bahwa Nabi ﷺ ketika berbicara tentang urusan dunia seperti pertanian, pengobatan, dan strategi perang, itu adalah hasil ijtihad dan pengalaman beliau sebagai manusia, bukan wahyu. Maka jika ternyata ijtihad beliau dalam urusan dunia kurang tepat, hal itu tidak mengurangi kemuliaan beliau sedikit pun. Yang wajib diikuti adalah apa yang beliau sampaikan sebagai wahyu dan syariat.

2. Sikap Nabi ﷺ yang rendah hati

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (9/17) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan kerendahan hati Nabi ﷺ yang luar biasa. Beliau tidak marah ketika sarannya tidak membuahkan hasil, bahkan beliau mengakui bahwa para sahabat lebih tahu dalam urusan teknis dunia. Ini adalah pelajaran adab yang agung: seorang pemimpin atau ulama tidak boleh merasa paling benar dalam semua hal.

3. Penerapan kaidah ini oleh para sahabat dan ulama

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatul Qulubil Abrar (hal. 89) menjelaskan bahwa para sahabat memahami betul perbedaan ini. Mereka tidak pernah mencampuradukkan antara sunnah yang bersifat wahyu dengan perkataan Nabi ﷺ yang bersifat ijtihad duniawi. Karena itu, ketika ada urusan dunia, mereka berdiskusi dan menggunakan akal serta pengalaman mereka.

4. Peringatan dari sikap ghuluw (berlebihan)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Al-Arba'in An-Nawawiyah (hal. 245-246) menegaskan bahwa hadits ini juga menjadi bantahan bagi orang-orang yang berlebihan dalam mengikuti Nabi ﷺ sampai pada hal-hal yang bukan syariat. Misalnya, ada yang menganggap sunnah untuk memakai pakaian model tertentu, padahal itu murni budaya dan bukan ibadah. Yang benar adalah mengikuti beliau dalam hal syariat, bukan dalam hal adat dan teknis duniawi.

5. Pelajaran tentang ijtihad

Imam Ibnul Qayyim dalam I'lamul Muwaqqi'in (4/267-268) menyebutkan hadits ini sebagai dalil bahwa Nabi ﷺ pun berijtihad dalam urusan dunia, dan para sahabat boleh berbeda pendapat dengan beliau dalam hal itu. Ini menunjukkan bahwa ijtihad adalah sesuatu yang wajar dan tidak bertentangan dengan keimanan.

Story Telling

Ada kisah indah yang berkaitan dengan pemahaman hadits ini. Diriwayatkan bahwa 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu suatu kali menegur seorang sahabat yang bertanya tentang sesuatu yang tidak terlalu penting. Namun ketika datang urusan yang berkaitan dengan kemaslahatan umat, 'Umar justru sangat antusias bermusyawarah dengan para sahabat.

Suatu ketika, 'Umar ingin memindahkan maqam (tempat berdiri) Nabi Ibrahim dari dekat Ka'bah ke tempat lain agar memudahkan thawaf. Namun 'Umar sendiri ragu, lalu ia berkata: "Seandainya aku tidak melihat Rasulullah ﷺ menghormati tempat ini, niscaya aku tidak akan memindahkannya." (HR. Al-Bukhari secara mu'allaq, dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf).

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat hati-hati dalam membedakan antara yang bersifat wahyu dan yang bersifat ijtihad. Mereka tidak gegabah, namun juga tidak berlebihan.

Kesimpulan Praktis

  1. Bedakan antara syariat dan urusan duniawi. Yang wajib diikuti dari Nabi ﷺ adalah perkara agama yang beliau sampaikan sebagai wahyu. Adapun urusan teknis dunia seperti pertanian, pengobatan, dan teknologi, kita bebas menggunakan akal dan pengalaman.
  2. Jangan berlebihan dalam mengikuti sunnah. Jangan memaksakan sesuatu menjadi ibadah padahal itu murni adat atau budaya. Sikap ghuluw justru menyelisihi petunjuk Nabi ﷺ.
  3. Belajar rendah hati dari Nabi ﷺ. Jika beliau yang maksum saja mengakui kelebihan orang lain dalam urusan dunia, maka kita lebih layak untuk rendah hati dan tidak merasa paling benar dalam segala hal.
  4. Hormati para ahli di bidangnya. Dalam urusan dunia, kita harus merujuk kepada ahlinya. Dalam urusan agama, kita merujuk kepada ulama yang memahami Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman salaf.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.