Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang menjelaskan secara praktis tata cara wudhu Nabi ﷺ. Intinya, hadits ini mengajarkan bahwa wudhu yang dicontohkan oleh Nabi ﷺ itu sederhana dan tertib: berkumur, membersihkan hidung, membasuh wajah dan tangan tiga kali, mengusap kepala dengan air yang baru (bukan sisa air bekas membasuh tangan), lalu membasuh kedua kaki hingga bersih. Hadits ini juga menunjukkan bahwa dalam beribadah, kita diperintahkan untuk mengikuti contoh Nabi ﷺ dengan teliti dan penuh kesungguhan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Thaharah, Bab "Tentang Wudhu Nabi ﷺ", nomor 236. Perawinya adalah 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim al-Mazini, seorang sahabat Nabi ﷺ.
Dalil Al-Qur'an yang terkait dengan perintah wudhu:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 6:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai ke kedua mata kaki."
Ayat ini adalah perintah dasar tentang anggota wudhu. Hadits di atas adalah penjelasan praktis (sunnah fi'liyyah) dari Nabi ﷺ tentang bagaimana cara melaksanakan perintah tersebut.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dalam daftar rujukan kami menjelaskan hadits ini dalam kitab-kitab mereka. Di antaranya:
- Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya berkumur dan istinsyaq (membersihkan hidung) dalam wudhu, serta bahwa mengusap kepala dilakukan dengan air yang baru, bukan dengan sisa air bekas membasuh tangan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (saat menjelaskan hadits serupa dalam Shahih al-Bukhari) menegaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini adalah penjelasan atas ayat wudhu, dan bahwa mengusap kepala dengan air baru adalah salah satu cara yang diajarkan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat penting dalam bab wudhu karena ia memberikan gambaran yang jelas dan rinci tentang bagaimana Nabi ﷺ berwudhu. Mari kita bedah satu per satu:
- "Dia berkumur-kumur, kemudian membersihkan hidungnya" (فَمَضْمَضَ ثُمَّ اسْتَنْثَرَ):
- Berkumur (madmadah) dan membersihkan hidung (istinsyaq) adalah bagian dari wudhu. Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa keduanya adalah wajib dalam wudhu berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang memerintahkannya. Sementara itu, Imam Abu Hanifah dan Imam Malik berpendapat bahwa keduanya adalah sunnah yang sangat dianjurkan, bukan wajib. Namun, semua ulama sepakat bahwa amalan ini sangat ditekankan dan memiliki keutamaan besar.
- Dalam riwayat lain, Nabi ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang dari kalian berwudhu, maka hendaknya ia memasukkan air ke dalam hidungnya (istinsyaq) kemudian mengeluarkannya (istintsar)." (HR. Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan perhatian besar syariat terhadap kebersihan mulut dan hidung.
- "Lalu mencuci wajahnya tiga kali, kemudian mencuci tangan kanannya tiga kali dan tangan kirinya tiga kali":
- Ini menunjukkan bahwa basuhan pada wajah dan tangan dilakukan sebanyak tiga kali. Ini adalah salah satu cara yang paling sempurna dalam berwudhu. Namun, perlu diketahui bahwa membasuh sekali saja itu sah, dua kali juga sah, dan tiga kali adalah yang paling utama, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi.
- Perhatikan bahwa Nabi ﷺ mendahulukan anggota yang kanan (tangan kanan) sebelum yang kiri. Ini adalah penerapan dari sabda beliau: "Jika kalian berwudhu, maka mulailah dengan anggota tubuh kalian yang kanan." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Mendahulukan yang kanan adalah sunnah yang diajarkan dalam setiap perkara yang mulia.
- "Kemudian dia mengambil air segar dan mengusap kepalanya" (ثُمَّ مَسَحَ بِرَأْسِهِ بِمَاءٍ غَيْرِ فَضْلِ يَدِهِ):
- Ini adalah poin yang sangat penting dan seringkali luput dari perhatian. Nabi ﷺ tidak mengusap kepalanya dengan sisa air yang masih menempel di tangannya setelah membasuh wajah dan tangan. Beliau mengambil air yang baru untuk mengusap kepala.
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah salah satu cara mengusap kepala yang diajarkan oleh Nabi ﷺ. Hikmahnya adalah agar usapan kepala itu dilakukan dengan air yang suci dan bersih, bukan air yang telah tercampur dengan kotoran yang mungkin terangkat dari wajah dan tangan. Ini menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kebersihan dan kesucian dalam ibadah.
- Para ulama juga menjelaskan bahwa mengusap kepala itu cukup sekali, dan tidak diulang tiga kali seperti membasuh wajah dan tangan. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama, termasuk Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad.
- "Dan mencuci kakinya hingga bersih" (وَغَسَلَ رِجْلَيْهِ حَتَّى أَنْقَاهُمَا):
- Kalimat "hingga bersih" menunjukkan kesungguhan Nabi ﷺ dalam membasuh kedua kakinya, termasuk sela-sela jari kaki dan mata kaki. Ini adalah perintah dari Allah ﷻ dalam ayat wudhu di atas.
- Ada sebuah kisah yang sangat terkenal tentang pentingnya membasuh tumit kaki. Dari 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, ia berkata: "Rasulullah ﷺ pernah tertinggal dari kami dalam sebuah perjalanan, lalu beliau menjumpai kami, dan waktu Ashar telah tiba. Kami pun berwudhu dan mengusap kaki-kami (tanpa membasuhnya dengan sempurna). Maka beliau berseru dengan suara yang lantang: 'Celakalah bagi tumit-tumit (kaki) dari api neraka! Basuhlah dengan sempurna!'" (HR. Bukhari dan Muslim). Kisah ini menunjukkan bahwa membasuh kaki hingga ke tumit adalah bagian yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan.
Story Telling
Dari kisah di atas, kita bisa mengambil pelajaran yang sangat dalam. Para sahabat saat itu mungkin mengira bahwa membasuh sebagian kaki saja sudah cukup, atau mereka terburu-buru sehingga tidak membasuh tumitnya dengan sempurna. Namun, Nabi ﷺ mengingatkan mereka dengan keras dan penuh perhatian, karena ini menyangkut sah atau tidaknya wudhu.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam sering kali mengutip kisah-kisah seperti ini untuk menunjukkan bahwa kesempurnaan dalam ibadah adalah cerminan dari kesempurnaan iman. Seorang mukmin yang sejati tidak akan meremehkan perkara-perkara kecil dalam ibadahnya, karena ia tahu bahwa Allah ﷻ melihat dan menilai setiap amalannya.
Kisah ini juga mengajarkan kita untuk tidak terburu-buru dalam beribadah. Khusyuk dan thuma'ninah (tenang) adalah ruh dari setiap ibadah, termasuk wudhu. Wudhu yang dilakukan dengan tergesa-gesa bisa membuat kita lalai membasuh anggota tubuh yang wajib, sehingga wudhu kita tidak sah.
Kesimpulan Praktis
Dari hadits ini, ada beberapa poin praktis yang bisa kita amalkan:
- Niatkan wudhu karena Allah ﷻ dan berdoalah sebelum memulai wudhu (bismillah) serta setelah selesai wudhu (membaca syahadat dan doa).
- Berkumur dan membersihkan hidung dengan baik, karena ini adalah bagian dari wudhu yang dicontohkan Nabi ﷺ.
- Basuhlah wajah dan tangan hingga siku sebanyak tiga kali, dengan mendahulukan anggota kanan.
- Gunakan air yang baru untuk mengusap kepala, bukan sisa air bekas membasuh tangan.
- Basuhlah kedua kaki hingga mata kaki dengan bersih, jangan sampai ada bagian yang tertinggal, terutama tumit.
- Lakukan wudhu dengan tertib dan tidak tergesa-gesa, karena ini adalah ibadah yang akan menjadi cahaya bagi kita di hari kiamat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.