Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 2321 tentang Sebaik-baik manusia adalah yang terbaik akhlaknya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal utama: pertama, sifat Nabi ﷺ yang jauh dari perkataan kotor, keji, dan mencela; kedua, sabda beliau bahwa orang yang paling baik di antara kita adalah yang paling baik akhlaknya. Ini adalah fondasi penting dalam Islam: iman yang benar harus tercermin dalam akhlak yang mulia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dan benar. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Keutamaan (Fadhail), Bab "Banyaknya Rasa Malu Beliau ﷺ", nomor 2321.

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Al-Qalam [68]: 4

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

"Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung."

Hadits Pendukung Lainnya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Ahmad, Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, dan Al-Hakim; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلاَ مُتَفَحِّشًا" adalah beliau ﷺ bukanlah orang yang berkata keji, dan bukan pula orang yang sengaja berbuat atau berkata keji meskipun untuk membalas. Ini adalah puncak kesempurnaan akhlak beliau.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sudut pandang:

1. Makna "Fahisy" dan "Mutafahhis"

  • Al-Fahisy (الفاحش): Orang yang tabiatnya berkata kotor, keji, dan tidak senonoh. Ini adalah sifat bawaan yang tercela.
  • Al-Mutafahhis (المتفحش): Orang yang sengaja berusaha untuk berkata keji, atau membalas kekejian dengan kekejian yang lebih besar.

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki akhlak yang sangat jauh dari dua sifat ini. Beliau tidak pernah berkata buruk, bahkan kepada orang yang paling memusuhinya sekalipun. Beliau adalah manusia yang paling lembut, paling pemaaf, dan paling baik tutur katanya.

2. Keutamaan Akhlak yang Baik

Sabda Nabi ﷺ, "Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya" menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak diukur dari keturunan, harta, atau kedudukan, tetapi dari akhlaknya.

Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam Bahjatu Qulubil Abrar menjelaskan bahwa akhlak yang baik adalah cabang dari keimanan. Semakin kuat iman seseorang, semakin baik pula akhlaknya. Sebaliknya, buruknya akhlak menunjukkan lemahnya iman.

3. Hubungan Iman dan Akhlak

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang definisi iman, beliau menjawab bahwa iman itu adalah perkataan dan perbuatan, dan akhlak yang baik adalah bagian dari kesempurnaan iman. Ini sejalan dengan sabda Nabi ﷺ dalam hadits lain:

> "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani)

4. Pelajaran dari Konteks Hadits

Masruq dan teman-temannya menemui Abdullah bin 'Amr bin Al-Ash ketika Mu'awiyah datang ke Kufah. Abdullah bin 'Amr adalah sahabat yang dikenal sangat cinta kepada ilmu dan banyak meriwayatkan hadits. Ketika ditanya tentang sifat Nabi ﷺ, ia langsung menyebutkan bahwa beliau bukanlah orang yang keji. Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan dan menghafal akhlak Nabi ﷺ, bukan hanya perkataannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ada seorang Badui yang menarik kain sorban Nabi ﷺ dengan kasar hingga meninggalkan bekas di leher beliau. Orang Badui itu berkata dengan nada keras: "Wahai Muhammad, berikanlah kepadaku dari harta Allah yang ada padamu!"

Nabi ﷺ tidak marah, tidak membalas dengan kasar, bahkan beliau tersenyum dan memerintahkan agar orang itu diberi sesuatu. Kemudian beliau bertanya: "Apakah kamu sudah merasa cukup?" Orang itu menjawab: "Belum, dan semoga Allah tidak memberimu kebaikan."

Para sahabat ingin menghardiknya, tetapi Nabi ﷺ menahan mereka dan tetap melayani orang Badui itu dengan lembut hingga ia merasa puas. Setelah itu, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku ingin keluar dari majelis ini dalam keadaan hatiku tenang dan bersih." (HR. Bukhari dan Muslim)

Lihatlah bagaimana akhlak Nabi ﷺ yang agung. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi dengan kebaikan dan kelembutan. Inilah makna "tidak pernah berkata keji dan tidak pernah berbuat keji."

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi perkataan kotor dan keji dalam segala kondisi, baik saat marah maupun senang.
  2. Jangan membalas keburukan dengan keburukan; jadilah pemaaf dan lembut sebagaimana Nabi ﷺ.
  3. Perbaiki akhlak sebagai bukti keimanan; karena sebaik-baik manusia adalah yang terbaik akhlaknya.
  4. Teladani Nabi ﷺ dalam setiap interaksi, baik dengan keluarga, tetangga, teman, maupun orang yang berbeda pendapat dengan kita.
  5. Latih diri untuk berkata baik atau diam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.