Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar wudhu yang disempurnakan, lalu diikuti shalat lima waktu. Rasulullah ﷺ menjanjikan bahwa hal itu menjadi penghapus dosa-dosa kecil yang terjadi di antara shalat-shalat tersebut. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi seorang Muslim yang menjaga thaharah dan shalatnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Thaharah, no. 231, dari sahabat Humran bin Aban (bekas pelayan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu).
Teks hadits yang sangat penting adalah sabda Nabi ﷺ:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَطَهَّرُ فَيُتِمُّ الطُّهُورَ الَّذِي كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيُصَلِّي هَذِهِ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ إِلاَّ كَانَتْ كَفَّارَاتٍ لِمَا بَيْنَهَا
Terjemahan: "Tidak ada seorang Muslim pun yang bersuci lalu menyempurnakan bersucinya yang Allah wajibkan atasnya, kemudian ia shalat lima waktu ini, kecuali shalat-shalat itu menjadi penghapus (dosa) di antara waktu-waktunya."
Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar makna hadits ini:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
QS. Ali 'Imran [3]: 135 — "Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka mengingat Allah lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui."
Juga firman Allah:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
QS. Hud [11]: 114 — "Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan (dosa kecil)."
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:
Pertama, tentang kesempurnaan wudhu. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "menyempurnakan thaharah" adalah menunaikan wudhu sesuai perintah Allah, yaitu mencuci anggota wudhu dengan sempurna, tidak mengurangi dan tidak melampaui batas. Ini mencakup membasuh wajah, kedua tangan, mengusap kepala, dan membasuh kedua kaki, dengan tertib dan berurutan sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 6.
Kedua, tentang penghapusan dosa. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) dan Imam an-Nawawi menegaskan bahwa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil (ash-shagha'ir), bukan dosa besar. Dosa besar hanya terhapus dengan taubat khusus, sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain dan dipahami oleh para ulama. Hal ini dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah tentang shalat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadhan ke Ramadhan sebagai penghapus dosa kecil selama dosa besar dijauhi.
Ketiga, tentang syarat diterimanya penghapusan. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa amal-amal ini menjadi penghapus dengan syarat dikerjakan dengan ikhlas, sesuai sunnah, dan disertai penjagaan dari dosa besar. Adapun jika seseorang mengerjakan shalat namun tetap bergelimang dosa besar tanpa taubat, maka janji ini tidak berlaku baginya secara sempurna.
Keempat, tentang sikap Nabi ﷺ yang bertanya "apakah aku memberitahu kalian atau diam". Ibnu Katsir dan Ibn Rajab menjelaskan bahwa ini menunjukkan kelembutan Nabi ﷺ dalam menyampaikan ilmu, dan bahwa beliau tidak menyampaikan sesuatu yang memberatkan kecuali dengan pertimbangan. Para sahabat menjawab dengan adab yang indah: "Jika itu baik, sampaikanlah; jika tidak, Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Ini adalah adab dalam menerima ilmu.
Kelima, tentang kebiasaan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu yang selalu bersuci dengan air setiap hari. Ini menunjukkan kesungguhan salaf dalam menjaga thaharah, sebagaimana disebutkan Humran bahwa tidak ada hari yang berlalu tanpa Utsman menuangkan air untuk bersuci.
Story Telling
Dikisahkan oleh Humran bin Aban, seorang yang melayani Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Setiap hari ia menyiapkan air untuk wudhu Utsman. Suatu ketika, setelah shalat (yang Mis'ar perkirakan sebagai shalat Ashar), Utsman menyampaikan sebuah hadits yang ia dengar langsung dari Rasulullah ﷺ. Nabi ﷺ saat itu bersabda dengan penuh kelembutan: "Aku tidak tahu apakah aku harus memberitahu kalian sesuatu atau diam." Para sahabat yang hadir, dengan adab yang tinggi, menjawab: "Wahai Rasulullah, jika itu kebaikan, sampaikanlah kepada kami; jika bukan, maka Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Maka Nabi ﷺ menyampaikan kabar gembira tentang keutamaan wudhu dan shalat lima waktu sebagai penghapus dosa.
Hikmah dari kisah ini: seorang Muslim hendaknya bersemangat mendengar kebaikan, beradab dalam bertanya, dan menjaga wudhu serta shalatnya sebagai sarana penghapus dosa. Utsman bin Affan sendiri adalah teladan dalam menjaga thaharah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ini.
Kesimpulan Praktis
- Sempurnakan wudhu — basuhlah anggota wudhu dengan benar, tidak mengurangi dan tidak berlebihan, sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
- Jaga shalat lima waktu — kerjakan tepat waktu, dengan khusyuk, dan sesuai sunnah.
- Yakinlah pada janji Allah — wudhu yang sempurna dan shalat lima waktu menjadi penghapus dosa kecil di antara waktu-waktunya.
- Jauhi dosa besar — karena penghapusan dosa kecil ini berlaku bagi yang menjauhi dosa besar, sebagaimana dijelaskan para ulama.
- Beradab dalam menuntut ilmu — seperti para sahabat yang menerima ilmu dengan sikap tunduk dan penuh hormat kepada Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.